5 Kebiasaan Generasi Millenials Siasati Kesibukan dengan Sisipkan Pola Hidup Sehat yang Praktis

Lahir di rentang akhir 1980an hingga awal 2000, generasi ini disebut sebagai generasi peralihan dunia konvensional dan modern. Sudah sangat khatam dengan sentuhan teknologi, generasi muda yang kini rata-rata berusia di rentang 17-37 tahun ini akrab disapa dengan sebutan generasi milenial atau generasi Y.

Ketika menjelaskan perbedaan mendasar dari generasi ini, khususnya dalam hal produktivitas, generasi ini tidak bisa lepas dari paparan radiasi dari sebuah perangkat digital. Entah smartphone, laptop, tablet, dan lain sebagainya.

Selain itu, tipikal generasi ini sedikit berbeda dari generasi pendahulunya. Mereka cenderung memiliki kesibukan tinggi. Karena padatnya aktivitas, generasi ini kerapkali memicu pola hidup yang kurang sehat pula. Tuntutan pekerjaan yang tak jarang memaksa lembur, atau bahkan karena memang keinginannya menambah pekerjaan di luar sebagai freelance, membawanya pada kebiasaan tak sehat.

Yang paling sering detemui adalah kebiasaan tidak sehat berupa pola tidur tidak berkualitas dan pola makan yang tidak sehat dengan alasan menjaga kepraktisan.

Meski begitu, tidak sedikit pula generasi ini yang menemukan solusi untuk menyisipkan kebiasaan sehat tanpa mengeliminir sisi kepraktisannya. Kelebihannya dalam mengumpulkan informasi melalui internet membawa generasi ini mengadopsi kebutuhan hidup sehat nan praktis tanpa mengganggu kepadatan aktivitasnya.

Lalu apa sajakah kita hidup sehat nan praktis yang generasi terapkan? Berikut ulasannya.

  1. Lebih akrab terlihat berjalan untuk bekerja

Jika diperhatikan, jumlah pengguna transportasi umum lebih banyak didominasi oleh mereka yang nampak muda, berusia produktif. Mudahnya mengakses transportasi umum berbasis teknologi semakin mendorong mereka untuk lebih memilih transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Selain itu sudah lebih terbiasa mendapat info-info terbaru terkait reward yang diperoleh dari berbagai penyedia jasa.

  1. Waktu istirahat digunakan untuk bekerja, tapi ditemani makan siang praktis seperti buah

Banyaknya pekerjaan yang ia kerjakan membuatnya lebih memilih untuk menggunakan waktu istirahat siang tetap di depan layar komputer untuk bekerja. Kebutuhan makan siang disiasati dengan bekal buah-buahan yang mudah untuk dikonsumsi dan sangat efektif untuk menunda lapar.

  1. Sering melakukan senam pada mata

Terlalu lama terpapar sinar biru dan radiasi pada perangkat digitalnya disiasati dengan sering melakukan senam pada mata. Gerakan sederhana seperti melirik dan memutar mata ke berbagai arah pandang, dan juga sering memijat dan menmghangatkan kelopak mata dengan telapak tangan efektif dilakukan untuk mengistirahatkan mata dari kelelahan.

  1. Jamak ditemui di pusat kebugaran modern

Kegemarannya untuk “nongkrong” dilakukan sejalan dengan kebutuhan untuk tetap sehat dengan berolahraga di pusat kebugaran yang jamak di temui di mall atau tempat hits lainnya.

  1. Selalu merencanakan short escape dengan berlibur ke alam

Pekerja di kota besar sering sekali membuat satu agenda khusus secara berkala dalam satu tahun untuk liburan, entah ke pantai atau mendaki ke gunung. Ke mana pun asalkan bisa digunakan untuk membalas dendam kepada semua waktunya yang ia dedikasikan untuk bekerja ekstra keras.

Sumber : Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat (Kemenkes RI)

Kado Akhir Tahun, Gunem Dapat Ambulance

Di penghujung tahun 2017 ini Pemerintah Kabupaten Rembang mendapatkan tambahan amunisi berupa kendaraan ambulan. Satu unit ambulan itu berasal dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Semen Gresik.

Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Abdul Manan, Kasi Bina Lingkungan PT. Semen Gresik Pabrik Rembang kepada Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto di halaman kantor Bupati Rembang, Jum’at (29/12/2017). Yang selanjutnya mobil tersebut ditempatkan di puskesmas Gunem yang nantinya akan disiagakan untuk melayani warga yang berada di kawasan perbukitan Kecamatan Gunem bagian selatan, seperti Desa Tegaldowo, Pasucen, Timbrangan dan Desa Kajar.

Abdul Manan mengatakan pihaknya menyerahkan mobil ambulance jenis Daihatsu Luxio kepada desa ring 1 pabrik di Kecamatan Gunem, karena merasa prihatin melihat jauhnya perkampungan dengan lokasi Puskesmas dan rumah sakit. Ia berharap mobil ambulance tersebut memudahkan warga, untuk mendapatkan layanan kesehatan.

“Pengadaan mobil ambulance bersumber dari dana CSR kami. Ini bentuk kepedulian terhadap desa ring 1. Dengan mobil baru, warga yang membutuhkan, sekarang tidak usah bingung – bingung lagi mencari kendaraan. Mau ke Puskesmas Gunem atau ke rumah sakit di Rembang, “ jelasnya.

Sementara itu Kepala Puskesmas Gunem, Yuwanita Nurhayati mengatakan selama ini dalam kondisi darurat, apabila ada warga dari Kecamatan Gunem bagian selatan, akan melahirkan atau ingin berobat, biasanya naik kendaraan carteran. Setelah memperoleh bantuan mobil ambulance, menurut rencana ditempatkan ke 1 titik. Akan stand bye di desa mana, menurut Yuwanita perlu dimusyawarahkan bersama 4 desa calon pengguna.

Menyangkut biaya operasional dan siapa sopirnya, pihak Puskesmas belum menyiapkan. Nanti kebutuhan itu akan dicukupi, seiring dengan berjalannya waktu.

“Di desa kan ada ambulance desa, wujudnya bukan ambulance betulan lho. Tapi kendaraan roda 4 yang biasa digunakan, apabila warga harus berobat. Nah untuk mobil ambulance baru ini sudah saya cek, perlengkapan di dalamnya sangat lengkap. Kami akan berembug dengan desa – desa di ring 1 pabrik dan kecamatan, untuk membahas tekhnis operasional,“ tutur Yuwanita.

Yuwanita menyadari masyarakat di Desa Tegaldowo dan sekitarnya perlu mendapatkan perhatian lebih. Mengingat jarak tempuh menuju ibu kota kecamatan cukup jauh dan melewati jalan naik turun bukit, sementara selama ini hanya satu unit ambulan milik puskesmas.

Sumber : Humas Setda Rembang

Anomali Cuaca Salah Satu Penyebab Migrain

Ternyata sakit yang dirasakan dalam tubuh tidak hanya disebabkan virus, bakteri, atau hal lainnya. Melainkan juga dapat disebabkan oleh terjadinya perubahan cuaca atau udara yang tiba-tiba.

Uniknya, tulang kita(manusia) memiliki kepekaan untuk membaca perubahan cuaca dari normal atau panas ke hujan(dingin). Biasanya gejala yang ditimbulkan saat tulang kita membaca perubahan tersebut ditandai dengan pegal pada sendinya.

Salah satu penyakit atau keluhan yang kerapkali muncul diakibatkan perubahan cuaca adalah migrain atau sakit kepala sebelah.
Sering kita mendengar kabar burung bahwa perubahan cuaca kerapkali akan disertai dengan timbulnya keluhan migrain atau sakit kepala sebelah.

Namun aPakah hal tersebut benar? Sebuah studi menemukan bahwa perubahan cuaca dapat memicu terjadinya sakit kepala sebelah atau migrain, meski masih dalam kadar yang ringan.

Studi tersebut melibatkan 66 orang yang memiliki riwayat migrain dengan membuat catatan terkait kapan migrain tersebut muncul dan apa pemicunya, selama satu tahun. Lebih dari setengah responden melaporkan bahwa migrain yang dialami disebabkan oleh terjadinya perubahan cuaca instan.

Penelitian yang dilakukan oleh Shuu-Jiun Wang, MD menunjukan adanya korelasi antara pengaruh dari sensitifitas cuaca dengan timbulnya sakit kepala pada penderita migrain.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh para peneliti lain yang menyatakan bahwa perubahan suhu merupakan satu dari lima penyebab utama migrain. Hanya saja, perubahan suhu yang paling mempengaruhi migrain adalah perubahan suhu dingin.

Obat-obatan pereda nyeri kepala sebelah memang seringkali diyakini mampu mengatasi keluhan ini, namun terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan juga bisa saja berakibat kurang baik. Jadi, cara paling ampuh untuk mengatasi migrain adalah memahami penyebab-penyebab munculnya keluhan ini.

Selain cuaca, nikotin dan kafein serta bau-bauan tertentu juga diindikasikan sebagai salah satu penyebab munculnya migrain. Oleh karena itu, menghindari potensi migrain dengan menjauhi penyebab lain, pada hari-hari di mana suhu udara rentan meningkat.

Sumber : Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat (Kemenkes RI)

ASN Rembang Kembali ke 6 Hari Kerja

Mulai 1 Januari 2018 mendatang, Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Rembang akan kembali melaksanakan 6 hari kerja dalam seminggu. Saat ini, ASN di Rembang masih melaksanakan lima hari kerja dalam seminggu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Rembang, Subakti melalui surat edaran resminya menyebutkan, perubahan jam kerja tersebut berdasarkan kesepakatan dengan Bupati Rembang H. Abdul Hafidz selaku pemangku kekuasaan tertinggi di Rembang. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 46 Tahun 2017. “Pada saat berlaku peraturan Bupati ini, maka peraturan Bupati Rembang Nomor 16 tahun 2012 tentang hari dan jam kerja di lingkungan Kabupaten Rembang dinyatakan dicabut dan tidak berlaku,” terangnya.

Perbup baru yang mengatur hal tersebut telah disepakati pada tanggal 28 Desember 2017 oleh Sekda bersama Bupati Rembang. Tinggal mensosialisasikannya kepada jajaran OPD di lingkup Pemkab Rembang.

Dengan penerapan 6 hari kerja tersebut, maka jam kerja para ASN juga ikut berubah. Mulai hari Senin sampai Kamis masuk pukul 07.00 WIB dan berakhir pada pukul 14.00 WIB. Khusus hari Jum’at mulai 07.00 WIB sampai 11.00 WIB dan hari Sabtu 07.00 dan berakhir pukul 12.30 WIB. “Ketentuan sebagaimana dimaksud tidak berlaku bagi perangkat daerah atau unit kerja yang tugasnya memberikan pelayanan pada masyarakat secara terus menerus,” terangnya.

Aturan 6 hari kerja tersebut tidak berlaku bagi jajaran Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) unit kerja kebersihan, Dinperindagkop dan UMKM, BPPKAD unit kerja pemungut pajak dan retribusi daerah, serta pegawai ASN di lingkup RSUD dr R Soetrasno Rembang. “Perangkat daerah atau unit kerja sebagaimana dimaksud melaksanakan pelayanan selama 24 jam mulai hari Senin sampai dengan hari Minggu. Kepala Perangkat Daerah mengatur pelaksanaan hari kerja dan jam kerja pegawai,” tandasnya.

Sumber : Rembangkab.go.id

Kwarcab Rembang Gandeng Dinkes Dalam Rakor Pramuka Peduli Untuk PSN

Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Rembang melangsungkan Rapat Koordinasi Pramuka Peduli Demam Berdarah di Aula Sanggar Pramuka Kwarcab Rembang pada Kamis pagi (27/12/2017). Rapat tersebut dihadiri oleh Ka Kwaran, Pamong Saka dari Puskesmas serta unsur pimpinan Kwartir Cabang Rembang.

“Peserta dari Kwaran dan Pamong Saka”

Dalam rapat koordinasi pihak Kwarcab menginginkan supaya Komunitas Pramuka Peduli lebih aktif menanggapi permasalahan kesehatan lingkungan dalam hal ini menyangkut Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk mengantisipasi kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di masyarakat.

“Terkait masalah kesehatan lingkungan khususnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pihak kami merangkul Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang untuk memberikan arahan dalam melakukan aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ke masyarakat” ungkap M. Yusuf (Wakil Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Rembang) kepada Humas Dinkes Rembang.

“M.Yusuf Wakil Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Rembang”

Karena lanjutnya, “Kegiatan pramuka peduli ini berhubungan langsung dengan masyarakat, jadi kami bermaksud menambah pengetahuan dalam mencegah penyakit DBD sekaligus turut ambil bagian dalam membantu pemerintah dalam mensosialisasikan PSN kepada masyarakat di Kabupaten Rembang”jelasnya.

Sementara itu, Sri Yuliastuti pelaksana program di Seksie P2PM (Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular) selaku Narasumber pada acara tersebut memberikan arahan bagaimana cara melakukan PSN dengan 3MPlus.

“Untuk mencegah penularan penyakit DBD dan perkembangbiakan jentik nyamuk, masyarakat diarahkan pada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) seminggu sekali dengan melakukan 3MPlus. Kami juga menghimbau untuk tidak mengandalkan fogging (pengasapan), karena kurang efektif dan efisien untuk membasmi nyamuk. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa sedangkan jentik Aedes sebagai vektor penular DBD hanya bisa diberantas dengan 3M Plus” terangnya kepada para peserta.

Adapun 3MPlus yang dimaksud yakni Menutup tempat penampungan air, Menguras tempat penampungan air, Mengubur/mendaur ulang barang bekas. Menabur bubuk larvasida pada penampungan air yang sulit dibersihkan, Menggunakan kelambu saat tidur, Menghindari menggantung pakaian sembarangan karena bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, Memelihara ikan pemangsa jentik, dan Memantau jentik rutin seminggu sekali.

M. Yusuf berharap dengan adanya koordinasi ini dapat meningkatkan eksistensi komunitas pramuka peduli dan lebih memasyarakatkan gerakan pramuka bahwa pramuka juga bisa berbakti, membangun, dan bersosialisasi.

“Harapan kami pramuka peduli lebih eksis, lebih memasyarakatkan gerakan pramuka, tidak hanya tepuk dan nyanyi saja akan tetapi pramuka juga bisa berbakti, membangun, dan bersosialisasi kepada masyarakat.”harap M. Yusuf.

(HumasDinkesRembang)

Pertemuan Koordinasi : Linsek dan Linprog Dalam Rangka Penurunan AKI/AKB, Stunting, dan Gizi Buruk di Kabupaten Rembang

Dalam menekan angka kematian bayi di Kabupaten Rembang diperlukan adanya kerjasama dan koordinasi antar lintas sektoral maupun lintas program.

Permasalahan mengenai AKI dan AKB di Kabupaten Rembang disebabkan karena berbagai faktor, diantaranya stunting, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), dan bayi  kurang gizi (gizi buruk).

Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Rembang melaksanakan pertemuan koordinasi lintas program dan lintas sektoral dan lintas program dalam rangka  penurunan AKI / AKB Stunting dan Gizi Buruk.

Dalam pertemuan koordinasi secara teknis dilakukan oleh Seksie Kesehatan Keluarga (Kesga) dan Gizi di meeting room Fave Hotel pada Kamis pagi (21/12/2017).

Para peserta terdiri dari lintas sektor terkait dan lintas program serta Kepala Puskesmas se Kabupaten Rembang”

Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii memaparkan masih adanya permasalahan yang menjadi penyebab kematian ibu dan bayi, stunting, dan gizi buruk. Diantaranya status kesehatan bumil masih rendah.

“Kaidnkes Rembang dr. Ali Syofii ketika memberikan paparan”

“di Rembang pernikahan dini dan persalinan remaja masih cukup tinggi, deteksi dini kegawatdaruratan maternal, neonatal, belum optimal, pola asuh, asah, dan asih anak di rumah masih sangat kurang, cakupan ASI eksklusif enam bulan masih sangat rendah”paparnya.

Selain itu lanjutnya “masih ada Ibu Hamil 4T yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat dan terlalu banyak sehingga banyak yang mengalami resiko pada saat melahirkan”terangnya.

Dengan adanya pertemuan koordinasi ini diharapkan adanya peningkatan kerjasama yang lebih baik dengan lintas program dan lintas sektoral untuk mendukung pelaksanaan kegiatan kesehatan Ibu dan dan anak demi terwujudnya penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Rembang.

(HumasDinkesRembang)

Tim Pengawas Pangan Agar Masyarakat Ingat CekKLIK

Tim Pengawas Pangan Dinas Kesehatan Rembang menyambangi berbagai toko tradisional dan modern di sepanjang jalan pantura Rembang. Hal tersebut dilakukan untuk mengawasi peredaran produk makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya dan sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

Disamping itu,  Tim juga melakukan edukasi kepada karyawan maupun pemilik toko terkait dengan obat-obatan yang belogo biru dan Kosmetik yang belum berijin (harus bertuliskan NA pada label).

“Pengecekan produk di toko tradisional oleh salah seorang tim pengawas dari Dinkes Rembang”

“Purnomo, salah satu tim pengawas pangan sedang memilah produk untuk dilakukan pengecekan”

“kami perwakilan dari tim pengawas pangan Dinkes Rembang hari ini Senin (20/12/2017) menggelar pengawasan terhadap peredaran makanan dan minuman ke sejumlah toko tradisional maupun toko modern di sepanjang jalan pantura Rembang”terang Soesi.

Masih kata Soesi “tiap jelang natal dan tahun baru tim kami akan terus melakukan pengawasan karena banyak produk makanan dan minuman yang beredar, selain itu banyak juga warga masyarakat biasanya membeli makanan atau minuman ditoko modern maupun tradisional disepanjang jalan pantura Rembang, kita ingin memastikan bahwa produk yang dijual itu aman digunakan dan dikonsumsi oleh pembelinya”jelas Soesi Haryanti.

Dari hasil pengawasan oleh Tim pengawas peredaran makanan dan minuman, masih banyak dijumpai produk pangan dan minuman yang tidak layak untuk dikonsumsi. Seperti banyaknya produk yang sudah expired date (ED),  kemasan produk rusak, dan banyak obat-obatan berlogo biru dijual bebas di toko tersebut serta adanya kemasan kosmetika yang rusak. Produk makanan dan minuman yang sudah ED langsung dimusnahkan atau dibuang atas ijin dari karyawan atau pemilik toko.

“Beda Logo Obat”

“mengenai penjualan obat yang berlogo biru, obat tersebut tidak boleh dijual sembarangan, karena bisa disalahgunakan oleh penggunanya, namun kalau toko tersebut memiliki keinginan untuk menjual obat-obatan berlogo biru, pihak toko harus mempunyai seorang Apoteker ataupun Asisten Apoteker yang nantinya dapat memberikan pemahaman mengenai dosis ataupun penggunaan obat tersebut”jelas Soesi saat mengedukasi salah seorang karyawan ditoko modern.

Disamping itu masyarakat juga diharapkan dapat menjadi konsumen yang cerdas dalam membeli dan mengkonsumsi makanan atau minuman. Selalu ingat CekKLIK (cek kemasan dalam kondisi baik, baca informasi produk pada label, pastikan memiliki izin edar, dan cek masa kedaluwarsanya).

Cek ijin edar dari BPOM RI ini dapat dilihat melalui smartphone, dengan mendownload aplikasi “CekBPOM” di playstore, setelah itu tulis nomer ijin edarnya dan cari melalui aplikasi tersebut. Nanti aplikasi tersebut akan menunjukkan detail produk dan perusahaan yang telah memproduksi.

“Mari kita peduli terhadap produk makanan, minuman, obat-obatan yang beredar di sekitar kita, karena pengawasan produk-produk tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama”terang Soesi kepada Tim Humas Dinkes Rembang.

Delapan Desa di Rembang Ikuti Proses Pra Verifikasi ODF

Tim Verifikasi desa ODF Provinsi Jawa Tengah mendatangi Dinas Kesehatan Rembang pada Senin pagi (18/12/2017). Kedatangan Tim Verifikasi ini guna melaksanakan pra verifikasi desa ODF di Kabupaten Rembang sebagai tindaklanjut mencapai kabupaten ODF.

Penyambutan dilakukan di Aula Dinas Kesehatan Rembang oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dan Tim verifikasi dari Kabupaten Rembang. Tim Verifikasi dari Provinsi Jawa Tengah berjumlah 21 orang yang akan terbagi menjadi 8 tim bersama tim verifikasi ODF kabupaten untuk meninjau langsung di delapan desa yang sudah ditentukan.

Delapan desa tersebut diantaranya Sumbergirang (Kecamatan Lasem), Gegunung Wetan (Kecamatan Rembang), Wuwur (Kecamatan Pancur), Sendangagung (Kecamatan Kaliori), Segoromulyo (Kecamatan Pamotan), Kaliombo (Kecamatan Sulang), dan Tegaldowo (Kecamatan Gunem).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii berharap dengan adanya tim verifikasi dari Provinsi Jawa Tengah bisa membantu Tim Verifikasi desa ODF kabupaten Rembang dalam verifikasi desa ODF dan memberikan mengedukasi kepada masyarakat yang masih BABS dan belum menggunakan jamban sehat.

“Penyambutan Tim Verifikasi Desa ODF dari Provinsi Jawa Tengah dilanjutkan dengan paparan dari Kadinkes Rembang dr.Ali Syofii”

“tentunya kami berharap dengan hadirnya Tim Verifikasi Desa ODF dari Provinsi ini dapat membantu Tim verifikasi desa ODF Kabupaten dalam verifikasi atau melihat langsung kondisi desa ODF, sehingga dapat tercapai Kabupaten Rembang ODF, disamping itu Tim Verifikasi juga kami minta untuk terus mengedukasi masyarakat Rembang yang masih BABS dan belum memiliki jamban sehat”ungkap dr.Ali.

Begitu pula disampaikan oleh Ketua Tim Verifikasi dari Provinsi, I Made Dewa, SKM, MKes, Khusus untuk Kabupaten Rembang untuk tetap meningkatkan kualitas jambannya meskipun dalam kondisi sederhana, namun masyarakat harus tetap sehat.

“kami mewakili Tim Verifikasi desa ODF Provinsi Jawa Tengah berharap khusus di Kabupaten Rembang agar tetap meningkatkan kualitas akses jamban yang ada dirumah warga, meskipun jamban dalam kondisi sederhana masyarakat harus diedukasi supaya tetap menjaga kesehatan lingkungan maupun keluarganya sendiri”terang Dewa.

Dalam mewujudkan Kabupaten Rembang menjadi kabupaten ODF tentu sangat tidak mudah, membutuhkan waktu, kerja keras, dan berbagai langkah yang luar biasa dalam mengedukasi masyarakat supaya masyarakat mau dan mampu untuk Stop Buang Air Besar Sembarangan dan menggunakan jamban yang sehat.

Sambut Tim Verifikasi Desa ODF Provinsi Jawa Tengah Dengan Perilaku Stop BABS

Seperti yang disampaikan oleh Kadinkes Rembang dr.Ali Syofii pada saat acara Pencanangan Germas di Kecamatan Kragan bahwa Pemkab Rembang akan kedatangan Tim Verifikasi Desa ODF dari Provinsi Jawa Tengah.

“pada tanggal 18/12/2017 nanti, Pemkab Rembang akan kedatangan Tim Verifikasi Desa ODF dari Provinsi Jawa Tengah, mereka akan melakukan verifikasi atau peninjauan langsung ke berbagai Desa secara acak guna memastikan bahwa desa yang ada diwilayah Kabupaten Rembang sudah benar-benar ODF”ungkap dr. Ali.

Terpisah, menurut Kasie Kesling Kesja Or Al Furqon sesuai dengan pesan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengatakan Tim Verifikasi Desa ODF berjumlah 30 orang. Tim tersebut nanti terbagi ke delapan desa diberbagai kecamatan dengan mengambil lokasi daerah pantai, pegunungan, dan daerah yang dialiri sungai.

“Al-Furqon bersama Anggota TNI dan warga saat melakukan Verifikasi di salah satu desa, dan menunjukkan jamban sehat”

“meneruskan pesan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bahwa akan adanya Tim Verifikasi Desa ODF berjumlah 30 orang, nanti tim verifikasi akan melakukan peninjauan secara langsung di delapan desa secara acak, dan kami belum mengetahuinya, namun mereka akan mengambil lokasi daerah pantai, pegunungan dan daerah yang dialiri sungai”jelas Al-Furqon.

Dengan adanya verifikasi ini, dr. Ali Syofii berharap kepada segenap pihak baik dari Pemerintah Kabupaten Rembang maupun seluruh komponen masyarakat untuk mempersiapkan kehadiran adanya Tim Verifikasi. Sehingga didalam verifikasi desa ODF dapat berhasil dan tercapai Kabupaten Rembang sebagai Kabupaten ODF.

(HumasDinkesRbg)

 

Bupati Rembang Canangkan Germas di 2 Wilayah Kerja Puskesmas

Untuk mendukung gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) sesuai instruksi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Kesehatan telah mendeklarasikan Germas saat acara Puncak Hari Kesehatan Nasional ke 53 di Alun-alun Kota Rembang.

“Ibu Hj. Hasiroh Hafidz ikut senam bersama lho”

Menindaklanjuti hal tersebut 2 Puskesmas yakni Kragan 1 dan Kragan 2 mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Kecamatan Kragan yang bertempat di Pantai Indah Mbalongan Kecamatan Kragan, Minggu pagi (10/12/2017). Senam pagi dan adanya hiburan bagi masyarakat dan pengunjung pantai menambah semaraknya acara pencanangan germas.

“kami ditiap kesempatan terus menggelorakan semangat gerakan masyarakat hidup sehat ini, jauh sebelum adanya pencanangan ini Bapak Bupati Rembang pun senantiasa menggelorakan semangat germas baik diberbagai kesempatan formal maupun non formal”ungkap dr.Ali Syofii saat memberikan sambutan dipanggung kehormatan.

Kadinkes Rembang : “Ayo mulai kita tinggalkan perilaku buruk kita yang menyebabkan penyakit terhadap diri dan keluarga kita”

Beliau juga mengajak seluruh masyarakat membudayakan hidup sehat “mari kita semua budayakan hidup bersih dan sehat dimulai dari hal kecil seperti menjaga kebersihan rumah, melakukan cuci tangan pakai sabun sebelum makan, makan buah dan sayur yang cukup, melakukan olahraga minimal 30 menit sehari, istirahat yang cukup, dan kurangi merokok”jelasnya.

Terkait dengan upaya mensukseskan misi Bupati Rembang dalam mencapai Kabupaten Rembang Stop Buang Air Besar Sembarangan (ODF), dr. Ali Syofii meminta arahan, motivasi dari Bupati Rembang supaya masyarakat dapat terbangun kesadaran dan kemauannya untuk Stop Buang Air Besar Sembarangan.

Pada pencanangan ini Bupati Rembang menyampaikan arahan sekaligus memberikan motivasi kepada seluruh lapisan masyarakat untuk merubah perilaku dan gaya hidup untuk lebih sehat.

“dengan masyarakat yang sehat dari sisi pandangan ekonomi pun dapat menekan cost atau biaya yang dikeluarkan untuk berobat”ungkap Bupati Rembang.

Sedangkan untuk mencapai Rembang ODF, Bupati Rembang mengajak kepada seluruh stakeholder baik yang ada di desa, di kecamatan maupun yang ada di Kabupaten untuk mengeroyok dan menyatukan pemikiran bersama dengan berbagai upaya dan strategi untuk menuntaskan desa yang belum lolos ODF.

“saya minta kepada seluruh stakeholder serta masyarakat untuk mendukung Pemkab Rembang dalam mencapai kabupaten ODF, ayo kita keroyok dan satukan pemikiran kita dengan upaya-upaya dan strategi yang jitu untuk menuntaskan desa yang belum lolos ODF ini, kami dari Pemkab Rembang akan memberikan reward kepada desa yang telah lolos ODF, yang penting action kita dulu”ajak Bupati kepada seluruh lapisan masyarakat dan dicanangkan pula germas di kecamatan Kragan.

“Mari kita berusaha dan berdoa bersama untuk Rembang yang lebih Madani”

Pencanangan gerakan masyarakat hidup sehat ditandai dengan penandatanganan Bupati Rembang H. Abdul Hafidz pada media papan yang sudah dipersiapkan pihak puskesmas. Setelah Bupati, dilanjutkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr.Ali Syofii, Kepala Puskesmas Kragan 1 dan Kragan 2, Muspika Kecamatan Kragan, dan seluruh tamu undangan yang hadir dalam acara pencanangan gerkan masyarakat hidup sehat (Germas).

(HumasDinkesRbg)