Dokter Muda Jalani Stase Komprehensif di Rembang

Sebanyak 20 dokter muda dari Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang akan menjalani Stase Komprehensif (program magang bagi dokter muda) di Kabupaten Rembang selama 2 bulan kedepan.

Para dokter muda tersebut diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Kepala Seksi Yankes dr. Teguh Panca pada Senin pagi (17/09) di Aula Dinas Kesehatan Rembang. Saat penerimaan berlangsung para calon dokter diberikan arahan dan dilakukan pembagian penempatan lokasi.

“Penyerahan Dokter Muda ke Kepala Puskesmas Lasem dr. Arif untuk melakukan Stase Komprehensif”

“dari jumlah 20 dokter muda, sepuluh ditempatkan di RSUD dr. Soetrasno, dan sisanya lagi disebar di beberapa Puskesmas yang ada di Kabupaten Rembang. Selama waktu kompre 2 bulan akan dilakukan rotasi, yang mana sudah ditempatkan di Puskesmas pindah ke RSUD begitu juga sebaliknya”ungkap Kasie Yankes.

“Penyerahan Dokter Muda ke Kepala Puskesmas Kragan 1 dr. Tusnendi untuk melakukan Stase Komprehensif”

Setelah diberikan arahan dan dilakukan pembagian, para dokter muda langsung diantar dan dihadapkan kepada pihak rumah sakit maupun puskesmas dengan dibekali surat pengantar dari Universitas yang berisikan penyerahan dokter muda untuk melaksanakan stase komprehensif.

Stase Komprehensif merupakan suatu program magang dari Universitas atau perguruan tinggi untuk dokter muda yang telah menyelesaikan profesi (yudisium 1) dan selanjutnya digunakan sebagai syarat untuk mengikuti ketentuan penilaian kelulusan ujian akhir (yudisium 2) di perguruan tinggi.

“Penyerahan Dokter Muda ke Kepala Puskesmas Kragan 2 dr. Intan untuk melakukan Stase Komprehensif”

Adapun tujuan dari stase komprehensif yakni untuk penerapan kompetensi atau ilmu yang telah diperoleh dari Universitas yang dilakukan secara holistik atau menyeluruh dan menggunakan pendekatan kedokteran keluarga supaya lebih mahir serta mengetahui adanya perbandingan antara hasil pendidikan dan penerapan atau praktik langsung di lapangan.(HumasDinkesRbg)

Keliling 29 SD Anjurkan PHBS dan Higienitas

Pada awal bulan Agustus sampai Bulan September Petugas UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) Puskesmas Sale melaksanakan kunjungan di 29 Sekolah Dasar yang ada di wilayah kerja Puskesmas. Dari hasil kunjungan yang berfokus pada pembinaan PHBS dan Inspeksi Kantin Sekolah itu didapatkan jajanan yang kurang sehat salah satunya makanan instan.

Kendati demikian dalam kunjungannya para petugas UKM yakni Dedi Kurniawan, M Fatoni, dan Dwi Joko Wijanarko serta bidan desa yang mendapingi berupaya memberikan masukan kepada penjual kantin sekolah dan advokasi kepada Kepala Sekolah terkait jajanan atau makanan yang sehat untuk dikonsumsi seluruh warga sekolah.

Dalam kesempatan tersebut para petugas menyoroti proses pengolahan makanan hingga penyajian yang dinilai sangat penting unutk mengetahui higienitas dan kebersihan penjamah maupun setiap olahan makanan yang dijual di kantin sekolah. Tidak lupa para petugas pun mengedukasi dan mendemonstrasikan 7 langkah cuci tangan pakai sabun (CTPS) kepada penjual kantin dan para warga sekolah agar terbiasa melakukan cuci tangan.

Hal penting lainnya yang juga mendapatkan sorotan adalah jajanan sudah expired date (kadaluwarsa) agar tidak jual dan ditarik dari etalase yang ada di kantin sekolah. Jadi harus menjadi perhatian setiap penjual,”tidak hanya menjual dan mendapatkan untung saja, tetapi harus  memperhatikan keamanan dan kesehatan makanan maupun jajanan yang dijual”ungkap Toni berpesan kepada salah seorang pemilik kantin.

Disamping itu, salah satu Kepala Sekolah Dasar di Sale berharap dengan adanya pembinaan dari petugas Puskesmas Sale tetap berlanjut karena sangat dibutuhkan. “Kita perlu dukungan dari semua pihak, selain dari internal sekolah, dukungan dari lintas sektoral juga sangat membantu sekali dalam melakukan pembinaan berkaitan perilaku hidup bersih dan sehat serta higienitas kantin sekolah”terang Sugiharti Kepala Sekolah SDN Wonokerto 2.

Ia juga mengungkapkan saat SD yang dipimpinnya itu mendapat juara I pada lomba sekolah sehat tingkat Kabupaten Rembang pada tahun 2014 dan dinobatkan menjadi juara 2 lomba sekolah sehat tingkat provinsi Jawa Tengah 2015 lalu.

“setiap hari sabtu di SDN Wonokerto 2 sudah membiasakan anak didik untuk makan bersama dengan menu makanan sehat yang dibawa dari rumah masing-masing. Kegiatan makan yang dibekali dari rumah ini tujuannya untuk membiasakan anak-anak makan buah dan sayur sehingga dapat meminimalkan konsumsi makanan instan (pabrikan)”ungkapnya.

Tekan AKI dan AKB dengan Sehat Sejoli

Pada beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Februari 2018, Puskesmas Bulu telah meluncurkan program baru yakni Kelas Catin (Calon Pengantin) Sehat Sejoli atau Semangat, Edukatif, Jujur, Lugas, dan Inovatif. Program ini ditujukan sebagai salah satu upaya untuk menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi utamanya di wiliyah kerja Puskesmas Bulu.

Kelas Catin Sehat Sejoli memberikan layanan konseling informasi, dan edukasi tentang kesehatan reproduksi bagi calon pengantin. Tujuan dari dilaksanakannya kelas catin sehat sejoli adalah agar calon pengantin dapat mempersiapkan diri menjalani kehidupan berkeluarga termasuk merencanakan kehamilan yang sehat. Sehingga bisa melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas.

Pada Tahun 2018 ini kelas catin “Sehat Sejoli” dijadwalkan setahun 6 kali yakni pada bulan Februari, April, Juni, Agustus, Oktober, dan Desember. Dikarenakan menyesuaikan jumlah sasaran yang dikumpulkan, penyesuaian anggaran yang tersedia, namun jadwal bisa berjalan secara berkesinambungan.

“keberlangsungan program Sehat Sejoli ini, kami bekerja sama dengan KUA Kecamatan Bulu, dan Kasi Kesra Desa. Ini penting karena para calon pengantin di wilayah kecamatan bulu termotivasi agar berperan serta secara aktif di dalam kegiatan yang sangat bermanfaat ini, ungkap dr. Ismailiati Oksuharyani Selaku Kepala Puskesmas Bulu.(HumasPuskesmasBulu for HumasDinkesRbg)

Ayah ASI Puskesmas Sarang 1 Siap Beraksi

Ada yang berbeda dalam  kegiatan rutin  kelas ibu hamil di desa  Sarangmeduro kecamatan Sarang pada Kamis lalu (13/09). Acara yang biasanya di penuhi peserta kaum ibu , tetapi dalam kegiatan tersebut justru dihadiri oleh kaum adam yang tergabung dalam Ayah ASI . Kehadiran mereka mereka tak lain untuk memotivasi tentang peran ayah  dalam mendukung keberhasilan  ibu dalam memberikan asi eklusif.

“Ayo kita sama sama mendukung pemberian ASI sampai dua tahun. Khususnya para ayah untuk ikut aktif di dalamnya.Pemberian ASI eklusif selama enam bulan pertama untuk bayi membutuhkan dukungan dari suami yang ikut serta memberikan perkembangan signifikan dalam tumbuh kembang kesehatan anak  “ tutur Sahlan salah satu anggota Ayah ASI  dalam sambutannya.

Pelibatan Ayah ASI  medapat respon positif oleh dr. Ahmad Fuadi selaku Kepala Puskesmas Sarang 1 yang menyatakan bahwa dengan melibatkan para Ayah ASI dalam acara kegiatan  kelas bumil di desa dapat memberikan motivasi  kepada ibu-ibu tentang pentingnya dukungan keluarga terutama ayah dalam keberhasilan pemberian ASI Eklusif.

“dengan adanya kegiatan ayah ASI ini cakupan ASI Ekskludif di Kecamatan Sarang khususnya di wilayah Puskesmas Sarang 1 bisa meningkat”ujarnya.

Irwan selaku penggagas terbentunya  kelompok Ayah ASI  Puskesmas Sarang 1 memaparkan bahwa pentingnya mempromosikan dukungan suami atau ayah kepada istri atau ibu untuk memberikan ASI  hingga dua tahun. Selain itu, dalam memenuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembang anak menjadi sehat dan cerdas juga secara ekonomis akan lebih hemat karena tidak perlu mengeluarkan  dana pembelian susu formula.

Menurut Irwan kasus stunting prevalensi balita pendek di kabupaten Rembang masih tergolong tinggi begitu pula pemberian ASI eklusif yang masih rendah serta kurangnya makanan pendamping ASI yang bergizi bagi pertumbuhan anak.

“hal ini mengindikasikan adanya tantangan pada praktik pemenuhan gizi bayi dalam periode emas, disinilah peran Ayah asi harus terus di pupuk secara massif di setiap desa“tegas Irwan.(HumasPuskesmasSarang1 for HumasDinkesRbg)

Pelajar Binaan Puskesmas Sulang Juarai LCC Kesehatan

Pelajar binaan Puskesmas Sulang berhasil meraih juara pertama pada seleksi lomba cerdas cermat kesehatan tingkat Kabupaten Rembang. Atas prestasi yang telah diraih mereka berhak mewakili Kota Garam untuk mengikuti lomba ke tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Pembina serta Penanggungjawab program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) Puskesmas Sulang, Emi Setyorini mengaku sangat bersyukur dan bangga atas prestasi yang telah diraih dari peserta didiknya.

“kami sangat bersyukur atas prestasi yang telah diraih, Alhamdulillah peserta didik kami meraih juara pertama pada seleksi lomba cerdas cermat kesehatan yang digelar oleh Dinas Kesehatan Rembang”ungkap Emi.

Sementara ketiga pelajar Dewi, Bunga, dan Uznus Zaidah perwakilan dari SMA N 1 Sulang yang meraih juara pertama, mengaku sangat senang dan bangga serta mengungkapkan motivasinya untuk mengikuti kegiatan lomba cerdas cermat yang berlangsung di Aula Labkesda Kabupaten Rembang (04/09).

“kami bertiga sangat senang dan bangga, karena hasilnya sesuai apa yang kami harapkan untuk masuk final dan menjadi pemenang. Untuk motivasi kami bertiga hampir sama yakni sebagai generasi muda dan berjiwa muda harus bisa berkarya dan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk raih sebuah prestasi yang membanggakan”ungkapnya kepada Tim Humas Dinkes Rembang.

Disamping adanya motivasi dalam diri “tentunya harus diimbangi juga dengan usaha dan kerja keras untuk belajar yang sungguh-sungguh tidak kebanyakan main, memanfaatkan masa muda dengan kegiatan-kegiatan yang positif, serta jangan lupa untuk berdoa”imbuhnya.

Adapun tujuan dari seleksi lomba cerdas cermat kesehatan yakni untuk meningkatkan pengetahuan, motivas dan pembinaan remaja dalam perilaku hidup bersih dan sehat serta mendapatkan wakil kabupaten Rembang dalam lomba cerdas cermat kesehatan tingkat provinsi.(HumasPuskesmasSulang for HumasDinkesRbg)

BIAS Puskesmas Rembang 1 Sasar Seribu Anak SD

Dalam mendukung program Imunisasi BIAS Campak, Puskesmas Rembang 1 melaksanakan imunisasi dengan sasaran 984 lebih siswa-siswi kelas 1 dari 29 SD/SLB yang ada diwilyah kerja Puskesmas Rembang 1.

Sebelum imunisasi berlangsung, beberapa waktu yang lalu Puskesmas Rembang 1 telah melakukan sosialisasi Imunisasi Campak kepada guru UKS di Aula Puskesmas. Kegiatan imunisasi campak dimulai sejak Selasa (04/09) lalu.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Plt. Camat Rembang Mustholih beserta Ketua TP PKK Kecamatan Rembang, Danramil dan Kapolsek Rembang, Kepala Puskesmas Rembang 1 dr. Sri Yulianti beserta tim imunisasi yang disaksikan oleh Kepala Sekolah dan Guru UKS di SDN 4 Kutoharjo.

Campak merupakan penyakit infeksi menular melalui saluran nafas yang disebabkan oleh virus campak. Penyakit campak sangat beresiko menular terhadap anak dan orang dewasa yang belum pernah mengalami penyakit campak.

“oleh karena itu, sudah menjadi tugas pemerintah untuk memberikan pencegahan atau membentengi anak sekolah agar tidak tertular virus campak melalui imunisasi rutin di sekolah. Kesehatan sangat penting bagi manusia karena kekayaan tidak ada artinya bila tubuh kita tidak sehat”ungkap Mustholih.

Di sela-sela pelaksanaan imunisasi campak, dimeriahkan dengan penerimaan doorprice oleh siswa-siswi yang telah berhasil menjawab pertanyaan dengan benar dari Sulasmi salah satu petugas Imunisasi dari Puskesmas Rembang 1.

Pelaksanaan Imunisasi campak nantinya akan berlangsung selama 12 hari yakni tanggal 3-14 September 2018, dengan melibatkan petugas yang terdiri dari dokter, bidan, dan perawat yang ada di Puskesmas Rembang 1.

“BIAS bermaksud untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak usia sekolah dasar dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi yang diberikan saat ini yakni imunisasi campak, yang mana diharapkan pelaksanaan berjalan lancar dan bisa mencapai target 100 persen”jelas dr. Sri Yuliyanti selaku Kepala Puskesmas Rembang 1. (HumasPuskesmasRembang 1 for HumasDinkesRbg)

Senam Pusaka Untuk Lansia Lebih Aktif dan Sehat

Sorak “Pusaka Sehat” menggema ramaikan senam lansia yang digelar dihalaman Puskesmas Kragan 1 pada Rabu pagi (05/09). Turut dalam senam tersebut Kepala Puskesmas Kragan 1 dr. Tusnendi yang berkali-kali bersorak menyemangati para peserta yang sudah lanjut usia supaya tetap sehat dan aktif.

Para peserta sangat antusias terlihat dari beberapa gerakan yang mungkin agak susah ditirukan. Namun para lansia tetap aktif menirukan gerakan instruktur senam. Sementara selama kurun waktu 4 tahun senam lansia di Puskesmas Kragan 1 menyabet gelar juara.

Diantaranya gelar juara III pada tahun 2016 dari Dinas Pendidikan dan Juara II tahun 2018 lomba lansia tingkat kabupaten Rembang. Senam lansia di Puskesmas Kragan 1 merupakan kegiatan rutin tiap Rabu dan Sabtu pagi yang diikuti lebih dari 50 peserta.

Untuk mengikuti kegiatan senam di Puskesmas Kragan 1 tidak ada pungutan biaya, karena merupakan program kegiatan yang dibiayai dari dana BOK (Biaya Operasional Kegiatan). Namun bagi para peserta diharapkan membawa kartu BPJS yang nantinya digunakan untuk pendataan kontak sehat kepesertaan BPJS di Puskesmas Kragan 1.

Disamping adanya senam lansia, dari tenaga kesehatan Puskesmas Kragan 1 secara gratis melakukan pemeriksaan tekanan darah bagi para peserta sebelum senam berlangsung. Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan mampu mengurangi resiko tekanan darah tinggi atau rendah dan berbagai penyakit yang membahayakan tubuh.

Kepala Puskesmas dr. Tusnendi menghimbau supaya kegiatan rutin senam lansia dipertahankan dan terus ditingkatkan dengan berbagai kombinasi sebagai salah satu upaya memberikan ruang gerak lansia agar menjadi lebih aktif dan sehat.

“kami berharap kepada para peserta bisa mengajak keluarga dan teman-teman lansia lainnya yang ada disekitar rumah untuk mengikuti senam pusaka. Karena senam merupakan salah satu kegiatan yang mendukung gerakan masyarakat hidup sehat (germas) yakni melakukan aktifitas fisik (olahraga) secara teratur dan terukur”ungkapnya.

Sementara Endang, selaku instruktur senam mengutarakan sangat semangat dan bergembira atas dukungan dan kepercayaan yang telah diberikan oleh Puskesmas Kragan 1 kepadanya untuk memimpin  jalannya senam lansia.(Puskesmas Kragan 1 for HumasDinkesRbg)

Olahan IRTP Harus Aman dan Memiliki Legalitas

Setiap manusia memiliki hak asasi dalam pemenuhan pangan yang aman dan bermutu, tentunya bahan atau olahan yang dihasilkan oleh Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) harus sehat dan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat secara masif sesuai dengan UU Nomor 18 Tahun 2012.

“para peserta PKP pada gelombang pertama sedang memperhatikan sambutan dari narasumber”

Mengingat hal tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melangsungkan penyuluhan keamanan pangan (PKP) kepada para pelaku usaha industri rumah tangga pangan sebanyak 40 peserta yang belum pernah mengikuti kegiatan penyuluhan.

Kegiatan penyuluhan berlangsung selama 2 hari (04-05/09) di Aula Utama Dinas Kesehatan Rembang. Dengan tenaga penyuluh keamanan pangan yang telah memiliki pengetahuan tentang keamanan pangan dan bersertifikat.

Penyuluhan keamanan pangan diselenggarakan dengan maksud memberikan edukasi dengan upaya meningkatkan pengetahuan kepada para pelaku usaha IRT yang harus wajib mengetahui dan mematuhi peraturan perundang-undangan dibidang pangan termasuk hygiene sanitasi pengelolaan pangan yang secara berkesinambungan harus dilaksanakan.

Disamping itu para pelaku usaha IRT juga mendapatkan sertifikasi produk pangan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan ijin PIRT . Dalam pengajuan untuk para pelaku usaha IRT tidak dipungut biaya apapun (gratis). Sehingga para pelaku usaha bisa datang langsung ke Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

“Narasumber saat memberikan materi kepada para peserta penyuluhan berkaitan dengan perundang-undangan dibidang pangan”

“dengan adanya nomor PIRT pada sebuah produk tentunya bisa mempengaruhi nilai jual atau daya saing dan legalitasnya juga tidak diragukan, kualitas produk atau olahan pangannya pun juga terjamin. Sehingga aman dan sehat untuk dikonsumsi bagi masyarakat”terang Soesi Haryanti Kasie Farmalkes saat memberikan sambutan.

Sementara ia juga menghimbau kepada para pelaku usaha IRT yang akan memulai usahanya diharuskan mengikuti penyuluhan keamanan pangan. Sehingga mampu menghasilkan olahan pangan yang aman dan bermutu, bisa menerapkan cara produksi pangan yang baik tentunya dengan memahami terkait kebersihan (hygiene dan sanitasi) selama proses produksi, dan menumbuhkan kesadaran dapat bertanggung jawab terhadap keselamatan konsumen.(HumasDinkesRbg)

Dinkes Sosialisasikan Penghitungan IKS

Sebagai tindaklanjut dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan oleh Tim KS (Keluarga Sehat) saat kunjungan rumah di masing-masing-masing wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Rembang.

Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Yankes (Pelayanan Kesehatan) menggelar Sosialisasi Penghitungan Indeks Keluarga Sehat (IKS) di Fave Hotel Rembang pada Selasa pagi (04/09).

Kegiatan Sosialisasi Penghitungan IKS diikuti 65 peserta yang terdiri dari pemegang program beserta tim PIS-PK di 17 Puskesmas. Dalam pelaksanaan kegiatan Seksie Yankes sebagai leading sektor mengundang Satu Narasumber dari Internal Dinas Kesehatan Rembang untuk memaparkan teori dan praktek cara menghitung IKS.

Sekretaris Dinas Kesehatan Drs. Supriyo Utomo yang didampingi oleh Kasie Yankes dr. Teguh Panca memberikan arahan kepada para peserta untuk meremajakan (updated) data keluarga yang telah dihimpun atau disimpan dalam pangkalan data (database) secara berkesinambungan.

“sesuai dengan juknis penguatan manajemen puskesmas dengan pendekatan keluarga dari Kemenkes RI, data-data yang telah dihimpun oleh para petugas di puskesmas untuk selanjutnya diremajakan (updated) sesuai dengan perubahan yang terjadi di tiap keluarga yang dijumpai saat melakukan kunjungan rumah”jelas Supriyo sesaat sebelum membuka kegiatan sosialisasi.

Perubahan yang dimaksudkan dalam hal tersebut yakni adanya kelahiran bayi, telah berubahnya tumbuh kembang bayi menjadi balita, telah diberikannya imunisasi dasar lengkap pada bayi, dan lain sebagaianya.

Dilanjutkan oleh Rohimah selaku narasumber dan dibantu tim teknis dari internal Dinas Kesehatan yang telah dilatih menjelaskan terkait mekanisme pengolahan dan analisis data sehingga keluar hasil Indeks Keluarga Sehat (IKS) sesuai dengan kaidah-kaidah pengolahan data yang telah ditentukan.

“dalam kaidah pengolahan data ada beberapa yang harus dihitung, mulai dari rerata, moda, cakupan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Data keluarga disini dihitung untuk mengetahui nilai IKS di masing-masing keluarga, IKS tingkat RT/RW/Kelurahan/Desa dan cakupan tiap indikator keluarga sehat dalam lingkup RT RT/ RW/ Kelurahan atau Desa, serta IKS tingkat kecamatan dan cakupan tiap indikator dalam lingkup kecamatan”jelas Rohimah saat memberikan materi.

Dari hasil perhitungan IKS tersebut, adapun kategori kesehatan keluarga yang mengacu pada nilai indeks yang telah ditentukan. Diantaranya nilai indeks lebih dari 0,800 dikategorikan “keluarga sehat”, nilai indeks 0,500-0,800 dikategorikan “pra sehat”, dan nilai indeks kurang dari 0,500 dikategorikan “tidak sehat”.

“dari nilai indeks sebagai acuan untuk menentukan kategori kesehatan keluarga, bilamana indeks kurang dari 0,800 akan dilakukan intervensi atas permasalahan kesehatan ditingkat keluarga. Sehingga keluarga bisa mencapai nilai indeks dengan kategori sehat”jelas dr. Teguh Panca seusai menyampaikan materi kepada para peserta.

Disamping diberikan materi, para peserta juga diajarkan untuk mempraktekkan penghitungan nilai IKS dengan menggunakan sistem aplikasi yang telah dibuat dengan rumus yang sudah ditentukan dalam juknis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.(HumasDinkesRbg)

Dinkes Ajak Santri Untuk Bergaya Hidup Sehat

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan agama yang tentunya memiliki basis sosial cukup besar. Dalam hal bidang kesehatan sudah menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kelangsungan belajar para santri yang menuntut ilmu dan tinggal di Pondok Pesantren.

Oleh karena itu Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalaui Seksie Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan melakukan penyuluhan bidang kesehatan di empat pondok pesantren yang ada di Kabupaten Rembang.

Saat pelaksanaan penyuluhan Tim dari Promkes bekerjasama dengan puskesmas setempat mengawali kegiatan di Pondok Pesantren Al Anwar 1 dan Riyadlotut Thalabah (10/08). Sedangkan pada tanggal (24/08) kembali melanjutkan di Pondok Pesantren MIS dan Attaroqi yang berada di wilayah Kecamatan Sarang dan Sedan.

“pelaksanaan kegiatan penyuluhan ini menyasar para santri baik putra maupun putri serta bagi masyarakat sekitarnya, guna meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan di pondok pesantren dan lingkungan masyarakat sekitarnya”jelas Sarwoko Mugiono Kepala Seksi Promkes kepada Tim Humas Dinkes Rembang saat melakukan wawancara disela-sela acara penyuluhan.

Sementara di masing-masing pondok pesantren tim memberikan pemahaman kepada para santri tentang apa itu gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) untuk dapat diimplementasikan oleh santri dalam menjaga pola hidup bersih dan sehat di lingkungan pondok pesantren.

Selain itu, santri juga diajarkan upaya melakukan pencegahan penyakit yang biasa diderita warga pondok pesantren seperti penyakit kulit, diare, demam berdarah dengue (DBD), Batuk Pilek, dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang kurang sehat dan kurang terjaga kebersihannya.

Sedangkan berkaitan masalah kesehatan gizi dan remaja Tim juga berbagi ilmu saat mengkonsumsi makanan diusahakan harus yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Sedangkan untuk kesehatan remaja para santri diajak untuk memahami perkembangan atau pertumbuhan tubuh secara fisik dan memberikan pesan untuk menjaga dan memproteksi diri dalam bergaul.

Adanya kegiatan ini kami berharap para santri sebagai generasi muda harus semangat dan kuat, tapi jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatannya. Sebagai orang yang dipandang dilingkungan masyarakat santri juga bisa berperan aktif dalam menyampaikan masalah kesehatan di masyarakat sebagai pelopor untuk hidup sehat. (HumasDinkesRbg)