Dinkes Sosialisasikan Penghitungan IKS

Sebagai tindaklanjut dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan oleh Tim KS (Keluarga Sehat) saat kunjungan rumah di masing-masing-masing wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Rembang.

Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Yankes (Pelayanan Kesehatan) menggelar Sosialisasi Penghitungan Indeks Keluarga Sehat (IKS) di Fave Hotel Rembang pada Selasa pagi (04/09).

Kegiatan Sosialisasi Penghitungan IKS diikuti 65 peserta yang terdiri dari pemegang program beserta tim PIS-PK di 17 Puskesmas. Dalam pelaksanaan kegiatan Seksie Yankes sebagai leading sektor mengundang Satu Narasumber dari Internal Dinas Kesehatan Rembang untuk memaparkan teori dan praktek cara menghitung IKS.

Sekretaris Dinas Kesehatan Drs. Supriyo Utomo yang didampingi oleh Kasie Yankes dr. Teguh Panca memberikan arahan kepada para peserta untuk meremajakan (updated) data keluarga yang telah dihimpun atau disimpan dalam pangkalan data (database) secara berkesinambungan.

“sesuai dengan juknis penguatan manajemen puskesmas dengan pendekatan keluarga dari Kemenkes RI, data-data yang telah dihimpun oleh para petugas di puskesmas untuk selanjutnya diremajakan (updated) sesuai dengan perubahan yang terjadi di tiap keluarga yang dijumpai saat melakukan kunjungan rumah”jelas Supriyo sesaat sebelum membuka kegiatan sosialisasi.

Perubahan yang dimaksudkan dalam hal tersebut yakni adanya kelahiran bayi, telah berubahnya tumbuh kembang bayi menjadi balita, telah diberikannya imunisasi dasar lengkap pada bayi, dan lain sebagaianya.

Dilanjutkan oleh Rohimah selaku narasumber dan dibantu tim teknis dari internal Dinas Kesehatan yang telah dilatih menjelaskan terkait mekanisme pengolahan dan analisis data sehingga keluar hasil Indeks Keluarga Sehat (IKS) sesuai dengan kaidah-kaidah pengolahan data yang telah ditentukan.

“dalam kaidah pengolahan data ada beberapa yang harus dihitung, mulai dari rerata, moda, cakupan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Data keluarga disini dihitung untuk mengetahui nilai IKS di masing-masing keluarga, IKS tingkat RT/RW/Kelurahan/Desa dan cakupan tiap indikator keluarga sehat dalam lingkup RT RT/ RW/ Kelurahan atau Desa, serta IKS tingkat kecamatan dan cakupan tiap indikator dalam lingkup kecamatan”jelas Rohimah saat memberikan materi.

Dari hasil perhitungan IKS tersebut, adapun kategori kesehatan keluarga yang mengacu pada nilai indeks yang telah ditentukan. Diantaranya nilai indeks lebih dari 0,800 dikategorikan “keluarga sehat”, nilai indeks 0,500-0,800 dikategorikan “pra sehat”, dan nilai indeks kurang dari 0,500 dikategorikan “tidak sehat”.

“dari nilai indeks sebagai acuan untuk menentukan kategori kesehatan keluarga, bilamana indeks kurang dari 0,800 akan dilakukan intervensi atas permasalahan kesehatan ditingkat keluarga. Sehingga keluarga bisa mencapai nilai indeks dengan kategori sehat”jelas dr. Teguh Panca seusai menyampaikan materi kepada para peserta.

Disamping diberikan materi, para peserta juga diajarkan untuk mempraktekkan penghitungan nilai IKS dengan menggunakan sistem aplikasi yang telah dibuat dengan rumus yang sudah ditentukan dalam juknis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.(HumasDinkesRbg)

Dinkes Ajak Santri Untuk Bergaya Hidup Sehat

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan agama yang tentunya memiliki basis sosial cukup besar. Dalam hal bidang kesehatan sudah menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kelangsungan belajar para santri yang menuntut ilmu dan tinggal di Pondok Pesantren.

Oleh karena itu Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalaui Seksie Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan melakukan penyuluhan bidang kesehatan di empat pondok pesantren yang ada di Kabupaten Rembang.

Saat pelaksanaan penyuluhan Tim dari Promkes bekerjasama dengan puskesmas setempat mengawali kegiatan di Pondok Pesantren Al Anwar 1 dan Riyadlotut Thalabah (10/08). Sedangkan pada tanggal (24/08) kembali melanjutkan di Pondok Pesantren MIS dan Attaroqi yang berada di wilayah Kecamatan Sarang dan Sedan.

“pelaksanaan kegiatan penyuluhan ini menyasar para santri baik putra maupun putri serta bagi masyarakat sekitarnya, guna meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan di pondok pesantren dan lingkungan masyarakat sekitarnya”jelas Sarwoko Mugiono Kepala Seksi Promkes kepada Tim Humas Dinkes Rembang saat melakukan wawancara disela-sela acara penyuluhan.

Sementara di masing-masing pondok pesantren tim memberikan pemahaman kepada para santri tentang apa itu gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) untuk dapat diimplementasikan oleh santri dalam menjaga pola hidup bersih dan sehat di lingkungan pondok pesantren.

Selain itu, santri juga diajarkan upaya melakukan pencegahan penyakit yang biasa diderita warga pondok pesantren seperti penyakit kulit, diare, demam berdarah dengue (DBD), Batuk Pilek, dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang kurang sehat dan kurang terjaga kebersihannya.

Sedangkan berkaitan masalah kesehatan gizi dan remaja Tim juga berbagi ilmu saat mengkonsumsi makanan diusahakan harus yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Sedangkan untuk kesehatan remaja para santri diajak untuk memahami perkembangan atau pertumbuhan tubuh secara fisik dan memberikan pesan untuk menjaga dan memproteksi diri dalam bergaul.

Adanya kegiatan ini kami berharap para santri sebagai generasi muda harus semangat dan kuat, tapi jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatannya. Sebagai orang yang dipandang dilingkungan masyarakat santri juga bisa berperan aktif dalam menyampaikan masalah kesehatan di masyarakat sebagai pelopor untuk hidup sehat. (HumasDinkesRbg)

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia, Ayo ! Rawat Dan Perkuat Negara Kita

Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 berlangsung di Halaman Kantor DPRD Kabupaten Rembang (17/08). Para peserta upacara masing-masing dari organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada dilingkungan Pemerintah Kabupaten Rembang.

Drs. Subakti selaku Sekretaris Daerah Rembang yang bertindak sebagai Inspektur Upacara dalam sambutan Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak seluruh warga negara untuk merawat capaian dan pembangunan dengan berbagai cara.

“Suasana Upacara di Halaman Kantor DPRD Kabupaten Rembang”

“Maka sebagai warga negara, kita harus ikut merawat capaian dan kemajuan pembangunan dengan berbagai macam cara yang bisa kita lakukan. Kita harus berperan aktif untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan
kita. Munculnya paham-paham antiPancasila, tampilnya sikap-sikap anti-NKRI, serta menggejalanya praktik-praktik terorisme, harus kita hadapi dengan tegas: lawan”ungkapnya.

Selain itu, dengan adanya nilai-nilai Pancasila sudah sepatutnya kita meneladani bersama dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai wujud rasa kejuangan pahlawan-pahlawan yang telah berjuang demi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia (NKRI).

“Praktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari: selalu berpikir positif, jujur dalam ucapan, teguh dalam pendirian, disiplin menjalankan tugas, punya unggah ungguh dalam pergaulan, toleran dalam bermasyarakat, tepo seliro dan selalu semangat untuk bergotong-royong, serta bangga dan cinta atas karya anak bangsa sendiri”lanjutnya.

Pada akhir sambutan Drs. Subakti mengajak kepada para peserta untuk terus berkarya dan meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita semua bergotong-royong untuk lebih berperan dalam mewujudkan kemajuan bangsa dan dan memperkuat negara. Karena kerja kita adalah prestasi bangsa.(HumasDinkesRbg)

Berdayakan Petugas SPAM dalam Pengamanan Air Minum

Sebagai salah satu upaya pemenuhan kebutuhan air minum yang sehat, aman, dan berkualitas untuk di konsumsi masyarakat, Petugas SPAM pada tiap desa harus mampu merencanakan pengamanan air mulai dari sumber mata air, proses pengelolaan hingga distribusi ke konsumen.

Berdayakan Petugas SPAM dalam Pengamanan Air Minum

“para petugas RPAM dari 5 desa yang ditunjuk oleh puskesmas”

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Kesehatan Lingkungan melaksanakan kegiatan workshop Rencana Pengamanan Air Minum dalam Pengawasan Kualitas Air Minum di Aula Labkesda, pada Selasa pagi (14/08).

Workshop tersebut dihadiri oleh Kabid Kesmas dr. Nurani Her Utami, Kasie Kesling Kesja Or Al Furqon, petugas kesling puskesmas bersama Petugas SPAM dari 5 desa yakni desa Mojorembun Kaliori, desa Ngulaan Bulu, desa Jeruk Pancur, dan desa Bajingjowo Sarang.

Dipaparkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr. Nurani Her Utami berkaitan dengan arah kebijakan dan pelaksanaan RPAM (Rencana Pengamanan Air Minum) yang merupakan sebuah upaya melindungi air minum dari hulu hingga hilir melalui pendekatan manajemen risiko untuk menjamin terpenuhinya amanat yang mencakup aspek 4K.

Berdayakan Petugas SPAM dalam Pengamanan Air Minum

“Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr. Nurani Her Utami ketika memberikan paparan kepada para audien”

“jadi kebutuhan pokok minimal setiap orang seperti air minum dijabarkan dalam aspek 4K, yaitu bahwa air harus disediakan secara kecukupan, secara kontinyu (keberlanjutan), harus memenuhi syarat-syarat kualitas air minum, serta keterjangkauan bagi seluruh lapisan masyarakat”terangnya sekaligus membuka kegiatan workshop.

Dalam kesempatan tersebut, Kasie Kesling Kesja Or Al Furqon menjelaskan maksud adanya workshop RPAM yakni sebagai upaya pemberdayaan dan peningkatan ilmu pengetahuan serta ketrampilan bagi para petugas SPAM yang ada di masing-masing desa.

“dengan adanya workshop ini para petugas kami berdayakan sekaligus dilatih untuk dari sisi ilmu pengetahuan dan ketrampilannya supaya mampu mengetahui dan menganalisa resiko bahaya maupun tanda bahaya di sekitar sumber mata air, tempat pengelolaan air, hingga distribusi air ke masyarakat”jelasnya.

Selain itu ia juga menambahkan bahwasanya Petugas SPAM (pengelola BPSPAM) harus mampu membuat dokumen RPAM dan melaksanakan kegiatan pengawasan air minum secara bertahap. Sehingga masyarakat merasa aman dalam menggunakan atau mengkonsumsi air di desanya masing-masing.

“Petugas SPAM juga kami minta untuk mendokumentasikan dan menginformasikan kepada masyarakat berkaitan dengan adanya mengenai hambaran terkini penyediaan sistem penyediaan air dalam bentuk dokumen. Sehingga bisa dilakukan identifikasi tanda bahaya, penentuan siapa pengguna dan bagaimana air itu digunakan, serta adanya penanngungjawab dalam operasional sehari-hari”pungkasnya. (HumasDinkesRbg)

Keceriaan Pasukan GERMAS Saat Mengikuti Gerak Jalan 17 kilometer

Dalam peringatan hari ulang tahun ke-73 Republik Indonesia, Pasukan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) Dinas Kesehatan berpartisipasi dalam kegiatan lomba Gerak Jalan 17 kilometer yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang pada Minggu pagi (12/08).

Rasa semangat dan pantang menyerah Pasukan Germas ditunjukkan dengan kebugaran tubuh dan keceriaan wajah tiap anggota saat berjalan menempuh rute 17 kilometer hingga ke garis finish.

Ketika ditemui oleh Tim Humas Dinkes Rembang setelah tiba di garis finish, perwakilan anggota dari pasukan germas membagikan tips supaya tetap sehat dan bugar yakni dengan melakukan pola hidup sehat. Salah satu diantaranya dengan melakukan aktifitas fisik secara teratur dan terukur.

Dari tips yang diberikan, tentunya masyarakat dihimbau untuk berperilaku hidup sehat dan menjaga kebugaran tubuh agar tetap produktif dengan mengimplementasikan kegiatan-kegiatan gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS). Karena sehat diawali dari diri kita.

Salam GERMAS…!
SEHAT, BUGAR, PRODUKTIF

Dinkes Lakukan Monev Pelaksanaan PIS-PK

Pada pertengahan bulan Juli 2018 Seksie Yankes melaksanakan monitoring dan evaluasi tingkat kabupaten terhadap pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) di Kabupaten Rembang (16/07).

Dalam pelaksanaan monev tersebut para peserta terdiri dari Kepala Puskesmas dan petugas pengelola data PIS-PK se Kabupaten Rembang serta diikuti lintas program terkait.

“Para peserta monitoring dan evaluasi PIS-PK”

Saat memberikan sambutan Kepala Bidang Yankes dan SDK Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Darmono mengatakan bahwa PIS-PK merupakan kegiatan yang terintegrasi dengan program-program yang sudah ada di Puskesmas sehingga semua pihak harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaanya.

“dalam pelaksanaan PIS-PK merupakan tanggung jawab kita bersama, para petugas puskesmas harus siap bekerja tim, karena pelaksanaan PIS-PK bukan hanya 1 atau 2 petugas saja yang menjalankan. Namun harus berkolaborasi dengan lintas program lainnya yang ada di Puskesmas”jelasnya.

Dilakukannya monitoring dan evaluasi memang sangat penting untuk menilai kemajuan implementasi PIS-PK di masing-masing wilayah kerja Puskesmas dan mengetahui hambatan apa saja  yang dihadapi serta mencari solusi bagi para petugas dalam melakukan pendataan.

“monitoring dan evaluasi PIS-PK ini kami lakukan secara berjenjang guna menilai kemajuan implementasi PIS-PK yang telah dilakukan oleh masing-masing Puskesmas, disamping itu kami ingin mengetahui segala hambatan sekecil apapun saat melakukan pendataan. Sehingga dalam kegiatan monev ini dapat dicarikan solusi dan perbaikan yang nantinya akan mempengaruhi peningkatan implementasi PIS-PK di Puskesmas”ungkap dr. Darmono dalam kegiatan monev tersebut.

“dr.Teguh Panca saat memberikan sambutan dan memaparkan hasil kegiatan survey ke 14 Kecamatan di Kabupaten Rembang”

Sementara itu Kepala Seksie Yankes dr. Teguh Panca menambahkan bahwa dalam menentukan strategi untuk melakukan pendataan keluarga kita serahkan kepada pihak Puskesmas. Karena masing-masing desa memiliki karakter maupun budaya yang berbeda-beda.

Menurut data yang dilansir dari hasil kegiatan PIS-PK yang telah disurvei oleh petugas Puskesmas di 14 Kecamatan Bulan Juni 2018 menunjukkan Kecamatan Sumber (11084 KK), Kecamatan Sulang (6706 KK), Sluke (8490 KK), Kecamatan Sedan (6965 KK), Kecamatan Sarang (4899 KK), Kecamatan Pancur (7578), Kecamatan Pamotan (2906 KK), Kecamatan Lasem (14841 KK), Kecamatan Kragan (6545 KK), Kaliori (3681 KK), Kecamatan Gunem (3681), dan Kecamatan Bulu (belum ditentukan menjadi lokasi fokus oleh pusat).

“kami berharap kepada seluruh Puskesmas di Kabupaten Rembang untuk menyelesaikan survei pada tahun 2018”pungkas dr.Teguh Panca mengakhiri sambutan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi PIS-PK di tingkat Kabupaten Rembang.(HumasDinkesRbg)

Kadinkes Beri Apresiasi dan Pesan Kepada Putra Putri Terbaik SBH

Peran Saka (Perkemahan Antar Satuan Karya Pramuka) ke 3 tingkat Kabupaten Rembang telah selesai dilakukan selama 3 hari 2 malam di bumi perkemahan Karangsari Park, Kecamatan Sumber (10-12 Juli 2018). Dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mengirimkan putra putri terbaiknya pada 1 regu Saka yakni Saka Bakti Husada (SBH).

Saka Bakti Husada (SBH) merupakan salah satu wadah dalam Pramuka untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan khususnya dibidang kesehatan yang bisa diterapkan pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Pada pelaksanaan perkemahan diikuti berbagai Saka Pramuka diantaranya Saka Kalpataru, Saka Bayangkara, Saka Kencana, Saka Wira Kartika, Saka Bina Sosial, dsb.

Tujuan pelaksanaan Peran Saka salah satunya yakni untuk memperkenalkan antar saka yang ada di Kabupaten Rembang. Sehingga bisa menggali potensi masing-masing saka melalui pendalaman krida, dan kegiatan bakti sosial serta berbagai perlombaan yang dikemas secara aktif, kreatif, edukatif, inovatif dan rekreatif.

“tenda SBH yang telah didirikan di bumi perkemahan Karang Sari park, Kecamatan Sumber”

Kepala Seksie Promkes Sarwoko Mugiono,SKM (selaku pelaksana Saka) saat kegiatan perkenalan saka mengungkapkan dalam Saka Bakti Husada (SBH) terdiri dari 6 krida dengan sasaran agar setiap anggota memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman di bidang kesehatan.

“Saka Bhakti Husada memiliki 6 krida diantaranya Krida Lingkungan Sehat, Krida Bina Keluarga Sehat, Krida Penanggulangan Penyakit, Krida Bina Gizi, Krida Bina Obat, Krida Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sementara itu sasaran Saka Bakti Husada kepada setiap anggotanya supaya memiliki ketrampilan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman di bidang kesehatan”jelasnya.

Sementara itu, pada kegiatan perlombaan yang diselenggarakan oleh panitia pelaksana putra putri terbaik dari Saka Bakti Husada mendapat juara pertama dalam lomba pidato Bahasa Jawa, dan menjuarai lomba K3 (Kebersihan, Keindahan, dan Ketertiban).

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii (selaku Kamabisaka) mengucapkan apresiasi dan berpesan kepada putra putri terbaik SBH untuk menjadi agent of change (agen perubahan) dalam memberikan pengetahuan dan ketrampilan tentang kesehatan serta memiliki sikap maupun perilaku hidup sehat, sehingga bisa menjadi contoh teman sebaya, keluarga dan masyarakat di lingkungannya.

“pengarahan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii (selaku Kamabisaka SBH) kepada anggota SBH setelah pelaksanaan Peran Saka ke III di Kabupaten Rembang”

“saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada seluruh adik-adik SBH yang mau meluangkan waktu liburnya untuk mengikuti kegiatan peran saka ini, di samping itu sudah memberikan peran terbaik sehingga dapat menjuarai perlombaan pidato bahasa jawa dan K3 (kebersihan, keindahan, ketertiban)”jelasnya.

Lebih lanjut “Saya berharap kedepannya adik-adik SBH lebih semangat lagi untuk menjadi agent of change dalam memberikan pengetahuan dan ketrampilan tentang kesehatan serta memiliki sikap maupun perilaku sehat, sehingga bisa menjadi contoh teman sebaya, keluarga dan masyarakat di lingkungannya. Selain itu adik-adik juga mau dan mampu untuk menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat”pungkasnya. (HumasDinkesRbg)

 

Orientasi Pelayanan Gizi di Puskesmas, Petugas Diminta Untuk Tingkatkan Kemampuan dan Ketrampilan

Dalam memberikan pelayanan gizi di Puskesmas tenaga kesehatan perlu memahami proses terjadinya masalah gizi. Sehingga dapat menentukan diagnosis dan intervensi gizi dengan cepat dan tepat kepada perseorangan maupun masyarakat. Disamping itu, adanya kerjasama antar profesi (teamwork) juga sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan proses asuhan gizi di Puskesmas.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Kesga & Gizi melakukan kegiatan Orientasi Pelayanan Asuhan Gizi dan Pelatihan E-PPGBM (Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) di tingkat Kabupaten Rembang.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (10-12/07) bertempat di Fave Hotel Rembang. Diikuti oleh 17 tenaga profesi masing-masing Puskesmas yang terdiri dari Bidan dan Petugas Gizi Puskesmas se Kabupaten Rembang. Sementara itu, hadir dalam kegiatan 2 orang Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan 2 orang Narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

“Groufie bersama Petugas Pelayanan Gizi dan Tenaga Kesehatan profesi lainnya yang ikut dalam Kegiatan Orientasi”

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr.Nurani Her Utami dalam sambutannya menyampaikan tujuan kegiatan orientasi asuhan gizi adalah sebagai optimalisasi pelayanan gizi di puskesmas serta meningkatkan kemampuan dan ketrampilan petugas gizi di masing-masing Puskesmas.

“dalam kegiatan orientasi ini kami berharap kepada seluruh tenaga kesehatan dari berbagai profesi yang hadir bisa meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya dalam memberikan pelayanan gizi di puskesmas secara optimal dan lebih baik lagi. Mengingat kasus stunting menjadi prioritas masalah gizi yang harus diselesaikan”jelas Kabid Kesmas.

Pada hari pertama, Sugeng Sutjipto salah satu Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah memaparkan materi berkaitan dengan kebijakan dan konsep dasar proses asuhan gizi di Puskesmas, Kemudian dilanjutkan Imam Subekti Narasumber dari Dinkes Rembang memaparkan materi terkait pemantauan pertumbuhan, status gizi dan penyakit tidak menular dalam proses asuhan gizi.

“dr. Retno Mahartani : Pelaksanaan tugas dan fungsi PKM dalam penyelenggaraan UKP dan UKM termasuk program gizi perlu di dukung manajemen yang terintegrasi dan kolaborasi antar profesi kesehatan lainnya di Puskesmas”

Sedangkan pada hari kedua, dr. Retno Mahartani Narasumber dari Provinsi memaparkan terkait manajemen program gizi, proses pengumpulan, pengolahan, dan analisis data untuk melakukan diagnosis dan rencana intervensi dalam proses asuhan gizi di Puskesmas. Dan pada hari ketiga, Lasmining sebagai Narasumber Dinkes Rembang memaparkan materi terkait tahapan entri data melalui aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

Semenatara itu, Sugeng Sutjipto saat ditemui oleh Tim Humas Dinkes Rembang di hari pertama mengungkapkan dengan adanya kegiatan orientasi ini, ia berharap kepada para petugas supaya lebih ditingkatkan dan dan lebih baik lagi dengan memahami konsep dasar Proses Asuhan Gizi (PAG) yang telah dibekali.

“Sugeng Sutjipto saat menyampaikan materi dalam kegiatan orientasi pelayanan gizi di Puskesmas”

“tentunya dengan adanya kegiatan ini pelayan gizi di Puskesmas harus lebih bagus lagi, harus berdasar pada data, artinya dengan data itu para petugas bisa melakukan pengkajian data, dapat menentukan diagnosis data gizi secara tepat, kemudian menyusun intervensi, sehingga saat merencanakan sebuah program benar-benar sesuai dengan data yang telah dihimpun oleh petugas”jelasnya.

Disamping itu ia juga menyampaikan bahwasanya stunting bisa dicegah, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengentaskan kasus stunting. Khususnya bagi Ibu hamil untuk memperhatikan gizi yang seimbang, jangan sampai dan harus di hindari seorang Ibu hamil menderita kurang gizi, semisal seperti anemia, dan kurang energi kronik (KEK).

“jangan eman terhadap masalah gizi, karena gizi merupakan investasi bagi Ibu hamil. Kalau sampai kurang gizi pada saat masa kehamilan dan sampai bayi usia dua tahun, kedepan tentunya akan terjadi gangguan pada pertumbuhan kecerdasannya, jadi stunting itu secara fisik pendek, tetapi dalam hal ini kalau terjadi saat 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bukan hanya sekedar pendek saja, namun pertumbuhan kecerdasaannya juga akan terganggu”terangnya.

Harapnya “jadi kami mohon kepada masyarakat dan khususnya kepada Ibu hamil untuk memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi. Saat kehamilan seorang Ibu tidak boleh kurang gizi, kemudian ketika sudah melahirkan bayi diberikan makanan yang terbagus dengan ASI eksklusif. Selanjutnya kita berikan makanan pendamping ASI (MPASI) setelah 6 bulan sesuai dengan tahapan-tahapan aturan gizi”pungkasnya.(HumasDinkesRbg)

Sepuluh Desa ABJ Rendah Dilombakan

Dari hasil pemantauan jentik yang telah dilakukan oleh petugas P2 Puskesmas bersama kader kesehatan di 82 desa endemis dan desa suspek DBD yang berada pada wilayah kerja Puskesmas di kabupaten Rembang, terdapat 10 desa dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) terendah.

“Tidak hanya Tim Penilai, namun para Kader Kesehatan di Desa turut melakukan pemantauan”

Diantaranya, Menoro (Sedan), Sambiroto (Sedan), Wonokerto (Sale), Tahunan (Sale), Gading (Sale) Pandangan Kulon (Kragan 2), Babadan (Kaliori), Tasiksono (Lasem), Logede (Sumber), dan Ketangi (Pamotan). Rata-rata kondisi ABJ di 10 desa tersebut kurang dari 61 persen.

Sri Yuliastuti,SKM selaku pelaksana program DBD pada Seksie P2P Dinkes Rembang menjelaskan bahwa lomba desa bebas jentik kali ini dilaksanakan berbeda dengan tahun sebelumnya. Di tahun sebelumnya desa yang dilombakan adalah desa ABJ tertinggi, namun untuk tahun 2018 desa yang dilombakan adalah desa dengan ABJ terendah.

“kali ini memang lomba desa bebas jentik kita buat berbeda, tahun kemarin desa dengan ABJ tinggi, namun tahun ini desa dengan ABJ terendah yang dilombakan. Dengan adanya lomba ini kami berharap peran masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan cara mencegah dan mengendalikan populasi vektor nyamuk penular DBD”jelasnya.

“Tim Penilai dari Dinas Kesehatan saat memantau jentik bak mandi di rumah warga”

Angka kesakitan DBD pada tahun 2017 adalah 2,4/100.000 penduduk dan angka kematian 0 persen. Dengan adanya target angka kesakitan <30/100.000 penduduk dan angka kematan <1 persen. Meski angka kesakitan dan kematian turun drastis pada tahun 2017, namun pada tahun ini upaya pengendalian dan pencegahan harus tetap dilakukan secara rutin.

Kepala Seksie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Rembang dr. Johanes Budhiadi saat melakukan verifikasi di Desa Logede (05/07), mengungkapkan dalam melakukan pencegahan penularan penyakit DBD yang paling efektif dan efisien adalah dengan menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“PSN merupakan sebuah kegiatan memberantas jentik nyamuk pada tempat berkembang biaknya aides aegyptie. Kegiatan tersebut meliputi 3MPlus (Menguras bak air/ bak mandi, Menutup penampungan air, Mengubur barang bekas, Memberikan ikan pemakan jentik nyamuk pada penampungan air, dan Memakai obat anti nyamuk maupun Menggunakan kelambu”ungkap dr. Jhon.

Dengan adanya kegiatan penilaian lomba desa dengan ABJ terendah ini, diharapkan warga masyarakat bisa termotivasi untuk melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin. Sehingga Angka Bebas Jentik (ABJ) yang ada di desa endemis dan dengan kasus DBD pada wilayah kerja Puskesmas di Kabupaten Rembang meningkat diatas atau sama dengan 95 persen.(HumasDinkesRbg)

24 Desa Tersisa, Verifikasi ODF Tahun Ini Diharapkan menjadi Verifikasi Terakhir

Tim Verifikasi ODF Kabupaten Rembang mulai Selasa pagi (03/07) melakukan verifikasi ke 24 desa yang belum ODF. Verifikasi ODF yang kesekian kalinya adalah tindaklanjut hasil Verifikasi ODF tingkat kecamatan yang sudah terlaksana beberapa waktu lalu dengan melihat secara langsung jambanisasi dan perubahan perilaku buang air besar di rumah warga serta melihat lingkungan dekat sungai dan bibir pantai.

“Tim Verifikator saat meninjau lingkungan dibibir pantai”

Dalam verifikasi ODF kali ini menitik beratkan kepada desa yang belum ODF dengan melihat keseriusan desa untuk mengentaskan masyarakatnya supaya tidak buang air besar sembarangan (BABS). Disamping itu peran dari masyarakat dalam merubah perilaku untuk tidak BABS juga sangat diperlukan. Mengingat Rencana Aksi Daerah (RAD) Percepatan Kabupaten Rembang untuk menjadi Kabupaten ODF Tahun 2017 belum terwujud.

Tim Verifikasi ODF tingkat Kabupaten Rembang juga sudah memberi kesempatan kepada pihak pemerintah desa supaya memperbaiki kekurangan akses jambanisasi yang ada di masing-masing desa. Peran desa memang sangat penting dalam mensukseskan desa ODF, selain melakukan jambanisasi, pihak desa juga diharapkan untuk menggencarkan warganya agar tidak buang air besar sembarangan (babs).

Kepala Seksie Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Kesehatan Olahraga Dinkes Rembang Al-Furqon,SKM membenarkan bahwa Kabupaten Rembang dalam mencapai Kabupaten ODF belum bisa terwujud sampai dengan proses verifikasi ODF di tahun 2018 ini selesai.

“memang benar kalau Kabupaten Rembang belum dapat mencapai Kabupaten ODF. Sebenarnya kalau hanya simbolis saja kita sudah bisa mencapai Kabupaten ODF, namun dari pihak kami tidak menginginkan sebatas simbol ODF sekedarnya saja, akan tetapi kami lebih mengedepankan kualitas dan berdasarkan data yang valid sesuai kondisi di lapangan serta hasil verifikasi dari provinsi Jawa Tengah”jelas Al-Furqon.

Selain itu Al-Furqon juga menejelaskan “Tim verifikator tidak hanya berhenti pada verifikasi ODF saja, di sisi lain akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perilaku warga masyarakat agar tidak mengulangi perilaku kurang sehat yakni buang air besar secara sembarangan”imbuhnya.

Presentase desa ODF di Kabupaten Rembang  saat ini sudah mencapai 98,83 persen, dari total 294 desa/kelurahan di Kabupaten Rembang, sebanyak 270 desa/kelurahan sudah dinyatakan ODF. Jadi masih menyisahkan 24 desa/kelurahan yang belum ODF (dilansir dari data STBM Smart Publik).

“Presentase Akses Sanitasi di Kabupaten Rembang yang dilansir dari Aplikasi STBM Smart Publik”

24 desa tersebut diantaranya Desa Pandangan Kulon (Kragan), Desa Banowan (Sarang), Desa Sale (Sale), Desa Kedungasem (Sumber), Desa Sendangmulyo (Sarang), Desa Terjan (Kragan), Desa Labuhan (Sluke), Desa Bajingjowo (Sarang), Desa Karanganyar (Kragan), Desa Sarangmeduro (Sarang), Desa Tegalmulyo (Kragan), Desa Jadi (Sumber), Desa Tlogotunggal (Sumber), Desa Sendangagung (Kaliori).

Kemudian Desa Karangmangu (Sarang), Desa Temperak (Sarang), Desa Plawangan (Kragan), Desa Grawan (Sumber), Desa Kaliombo (Sulang), Desa Sekarsari (Sumber), Desa Gunungsari (Kaliori), Desa Maguan (Kaliori), Desa Lodan Wetan (Sarang), dan Desa Kebonagung (Sulang).

“setelah verifikasi ODF selesai dilakukan oleh Tim Verifikasi tingkat Kabupaten Rembang, selanjutnya dari pihak Kabupaten akan bersurat ke Provinsi untuk melangsungkan verifikasi ODF di Kabupaten Remabng, sehingga Kabupaten Rembang bisa mencapai Kabupaten ODF di Tahun 2018”ungkap Al-Furqon ketika melakukan Verifikasi ODF di Kecamatan Sumber pada Rabu pagi (04/07).

Diharapkan Verifikasi ODF tahun ini merupakan Verifikasi tahun terakhir, akan tetapi menjadi awal pelaksanaan pilar STBM yang baru dan lebih meningkatkan lagi kinerja yang telah dilakukan untuk mensukseskan pilar STBM selanjutnya. Dan bagi desa/kelurahan yang sudah ODF supaya tidak terlena dengan status ODF, justru harus meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat supaya masyarakat lebih sehat.(HumasDinkesRbg)