Lakukan Kaji Banding Desa ODF, Desa Sukoharjo Rembang Jadi Rujukan

“dr. Ali Syofii ketika memberikan sambutan pada acara studi banding desa STBM di Balai Desa Sukoarjo Rembang”

“Untuk mewujudkan desa ODF (Open Defacation Free) di Rembang ini memang tidak mudah, terutama di desa-desa yang berada di wilayah pesisir pantai, tentu sangat membutuhkan perhatian, kesabaran, kerja keras dan kegigihan tim dalam memberikan edukasi maupun melakukan pemicuan kepada masyarkat supaya merubah perilaku dan pola pikir masyarakat agar tidak mengulangi kebiasaan buang air besar sembarangan”

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii saat memberikan sambutan dalam acara Studi Banding Desa STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) oleh Puskesmas Kedung II Kabupaten Jepara di Desa Sukoarjo. Penyambutan Rombongan dari Puskesmas Kedung II Jepara berlangsung di Balai Desa Sukoarjo Kecamatan Rembang pada hari Kamis (12/04).

“Tim STBM Kabupaten Rembang”

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Khumaidah, SKM, MKes, menjelaskan maksud kedatangannya bersama Rombongan dari Puskesmas Keduang II Jepara ke Kabupaten Rembang adalah melakukan kaji banding desa STBM yang tertuju pada pilar pertama yakni mengenai Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS).

“kedatangan kami bersama rombongan ke Rembang ini bermaksud untuk melakukan kaji banding perihal desa STBM terutama mengenai perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang masih ada diwilayah kami dan mengetahui strategi untuk mewujudkan desa-desa di Kabupaten Jepara berstatus Desa ODF”jelas Khumaidah.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Desa Sukoarjo Lilik Harijanto turut menceritakan langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemdes Sukoarjo sejak tahun 2012. Ia menceritakan bahwa dalam berbagai acara yang ada di desa selalu disampaikan tentang pentingnya hidup bersih sehat, terutama yang menyangkut kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Setelah memberikan penyuluhan langkah selanjutnya melakukan pembersihan jamban liar yang pembuangannya langsung di laut, dan memberikan bantuan pembuatan jamban (WC) kepada warga yang tidak mampu.

“Pada intinya semua upaya itu di barengi dengan kesadaran dan keniatan semua warga untuk mebuat desanya  menjadi desa ODF, pasalnya baik dari Pemerintah juga sudah berupaya dengan adanya regulasi maupun kebijakan, sehingga masyarakat juga harus mendukung dan nyengkuyung bareng untuk merubah perilakunya agar tidak membuang hajatnya secara sembarangan lagi”pungkasnya.(HumasDinkesRbg)

Kampanye Germas Di Institusi Pendidikan Melalui Program UKS

Pada Rabu pagi (04/04) telah berlangsung Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Institusi Pendidikan Melalui Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kegiatan Kampanye Germas diselenggarakan di Hotel Gajah Mada dengan tujuan untuk penandatanganan komitmen oleh Guru UKS di Sekolah untuk mengimplementasikan Germas melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Dalam acara kampanye dihadiri oleh 100 peserta yang terdiri dari Guru UKS SMP/MTS sederajat dan SMA/MA/SMK serta Kader Kesehatan Remaja/Ketua SMP/MTs sederajat dan SMA/MA/SMK sederajat.

Materi yang disampaikan diantaranya Pelaksanaan Germas di Provinsi Jawa Tengah, Implementasi Germas di Institusi Pendidikan dan Pemberdayaan Sekolah melalui UKS.

Pada Acara Kampanye Germas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mengatakan bahwa penekanan Germas menitikberatkan pada upaya untuk membudayakan pola hidup sehat guna menekan jumlah penderita penyakit katastropik (penyakit tidak menular) di Kabupaten Rembang. Sehingga pelaksanaan Germas harus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak termasuk pada institusi pendidikan.

“program Germas ini merupakan suatu kegiatan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup, oleh sebab itu dalam mendukung dan menggalakkan Germas kita melibatkan berbagai pihak termasuk di institusi pendidikan”jelasnya.

Lebih lanjut beliau berharap “dengan terlaksananya kampanye Germas ini harapan kami kepada para Guru maupun siswa melalui program UKS dapat membudayakan pola hidup sehat sejak dini dan mengenal apa itu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Sehingga dapat terwujud generasi yang sehat dan dapat menekan jumlah penderita penyakit katastropik di Kabupaten Rembang”ungkapnya.

Sementara itu, di Kabupaten Rembang mempunyai fokus kegiatan Germas dengan MAKCES, yang meliputi Memberi ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan, Aktifitas fisik minimal 30 menit setiap hari, Konsumsi buah dan sayur setiap hari, Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Stop buang air besar sembarangan (BABS).

“Pembacaan Komitmen untuk menggalakkan Germas di lingkungan sekolah melalui program UKS oleh perwakilan Guru yang menjadi peserta dalam Kampanye Germas”

Acara kampanye Germas di Institusi pendidikan diakhiri dengan pembacaan komitmen oleh perwakilan Guru dari  salah satu sekolah yang ada di Rembang, untuk mengimplementasikan program Germas melalui UKS yang ada di sekolah.(HumasDinkesRbg)

Rembang Kerahkan 24 Tenaga Enumerator Guna Riskesdas 2018

Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dalam mendukung Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 mengerahkan 24 Enumerator (petugas pengumpul data) untuk melakukan penelitian bidang kesehatan di 72 Desa (Blok Sensus) yang tersebar di 14 Kecamatan di Kabupaten Rembang.

Secara resmi ke-24 Enumerator yang bertugas selama 36 hari itu dilepas oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii pada hari Senin (02/04). Pelepasan ditandai dengan penyerahan perlengkapan dan atribut lapangan kepada salah satu coordinator Tim Enumerator Riskesdas di Aula Dinkes Rembang.

“Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii saat menyerahkan perlengkapan dan atribut kepada perwakilan Tim Enumerator Riskesdas Tahun 2018”

Pada kesempatan itu, Kadinkes Rembang menekankan kepada seluruh Enumerator agar tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan menjaga kekompakan, selain itu dapat melaksanakan tugas dengan baik dan data yang dilaporkan harus valid sesuai fakta di lapangan.

“dalam menjalankan tugas jangan lupa untuk tetap menjaga kondisi kesehatan, jaga kekompakan tim agar tetap solid, bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab, jaga sikap maupun perilaku saat berkunjung ke rumah-rumah warga, dan tepat dalam mengisi formulir berdasarkan hasil survei”pesannya.

“Kadinkes Rembang : Sebagai Enumerator harus jujur dan bisa mempertanggungjawabkan data yang telah dilaporkan”

Selain itu, lanjutnya menjelaskan bahwa “Riskesdas ini merupakan salah satu penelitian bidang kesehatan berbasis komunitas yang dilaksanakan secara berkala oleh pemerintah dengan tujuan perencanaan maupun pemantauan dan evaluasi program pembangunan kesehatan baik di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten atau kota. Sehingga data yang diperoleh dan diberikan harus valid sesuai fakta dilapangan”jelasnya.

Pengumpulan data Riskesdas 2018 dilakukan menggunakan metode wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan terkait dengan perilaku kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan, dan status kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Pada acara pelepasan Enumerator juga dihadiri Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang Amirudin, S.Si, MMSI, dalam kesempatan itu beliau menyampaikan dukungan dari BPS Rembang dengan mempersiapkan petugas pendamping dari statistik yang sudah melaksanakan Susenas (Survei Sosial Ekonomi Sosial) tahun 2018.

“pada riskesdas tahun 2018 berbeda dengan tahun sebelumnya, karena Riskesdas tahun 2018 terintegrasi dengan Susenas, oleh karena itu kami akan mendukung sepenuhnya dengan kesiapan petugas dari BPS Rembang untuk mendampingi para Enumerator dalam menjangkau sasaran sesuai data yang ada pada kegiatan Susenas”ungkapnya.

Dalam acara pelepasan Enumerator tersebut, juga dihadiri oleh PJO (Penanggung Jawab Operasional), PJT (Penanggung Jawab Teknis), dan PJAL (Penanggung Jawab Administrasi Logistik). (HumasDinkesRbg)

Puluhan Perawat Dan Perawat Gigi di Rembang Ikuti Uji Kompetensi

“Pelaksanaan Workshop Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Kesehatan”

DinkesRembang – Setelah berlangsung workshop uji kompetensi jabatan fungsional kesehatan di Puskesmas Rembang 2, Puluhan perawat dan perawat gigi melaksanakan Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Kesehatan di Aula Dinas Kesehatan Rembang pada Kamis pagi (22/03).

Penyelenggaraan Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Kesehatan ini merupakan pertama kalinya dilaksanakan di Jawa Tengah. Kegiatan Uji Kompetensi difasilitasi oleh Seksie Sumber Daya Kesehatan dengan menyiapkan fasilitas dan sumber daya yang dibutuhkan.

Sesuai dengan Permenkes RI No 18 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Kesehatan, merupakan suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja pejabat fungsional kesehatan yang dilakukan oleh tim penguji dalam rangka memenuhi syarat kenaikan jenjang jabatan setingkat lebih tinggi.

Selain itu adapun tujuan dari uji kompetensi yakni memberikan pengakuan terhadap kompetensi jabatan fungsional kesehatan dan menjadi bahan pertimbangan untuk kenaikan jenjang jabatan. Peserta uji kompetensi jabatan fungsional kesehatan terdiri atas pejabat fungsional perawat, perawat gigi dan Tim penguji ini dapat berasal dari Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Rumah  Sakit, Puskesmas atau fasyankes lainnya  dibawah  koordinasi  Dinas  Kesehatan  Kabupaten/Kota sepanjang memenuhi syarat sebagai tim penguji.

“Tim Penguji sedang melakukan Uji Kompetensi pada peserta”

Metode uji kompetensi berupa portofolio, uji tulis, uji lisan dan uji praktik. Uji portofolio merupakan satu metode wajib dalam pelaksanaan uji kompetensi. Namun untuk metode uji tulis, uji lisan atau uji praktik merupakan metode uji pilihan. (HumasDinkesRbg)

Dinkes Rembang Lakukan Pelatihan SDIDTK Bagi Tenaga Kesehatan Puskesmas

Selama 3 hari (19-21/03) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Kesga & Gizi melaksanakan pelatihan Stimulasi dan Deteksi, Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK) bagi tenaga kesehatan puskesmas yang terdiri dari Bidan dan Petugas Gizi puskesmas.

Pelatihan SDIDTK berlangsung di Fave Hotel Rembang dengan jumlah peserta pelatihan 22 orang. Pembekalan materi disampaikan oleh pembicara yang di fasilitatori dr. Joko Paryanto beserta Tim terlatih dan sudah memiliki sertifikat TOT dari pelatihan SDIDTK.

Pada uraian kegiatan di hari pertama dan kedua pembicara memberikan materi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak, DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang), Stimulasi Tumbuh Kembang, KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan), Deteksi Dini Penyimpanan Mental Emosional, dan Rujukan Pelaporan.

Pada Hari Ketiga, para peserta melakukan praktek SDIDTK (proses Stimulasi, Deteksi, Intervensi Tumbuh Kembang pada anak yang memiliki penyimpangan tumbuh kembang). Kemudian hasil dari proses SDIDTK dipresentasikan dan didiskusikan.

Sehingga tujuan dari pelatihan ini tak lain untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tenaga kesehatan khususnya yang belum terlatih dalam kegiatan SDIDTK di Puskesmas. Melalui kegiatan SDIDTK kondisi penyimpangan pertumbuhan anak seperti gizi buruk dan penyimpangan mental emosional dapat dicegah. Stimulasi dasar anak adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak agar anak mempunyai kemampuan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah adalah kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan Bahasa serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian. (HumasDinkesRbg)

 

 

Orientasi Anggota Pokjanal Desa Siaga Aktif Tingkat Kecamatan Pancur

Sebagai upaya untuk mengembangkan desa dan keluarahan siaga aktif, diperlukan adanya orientasi bagi aparatur desa dan kelurahan beserta pihak-pihak lain dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di desa dan kelurahan.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan (PKPK) melangsungkan pertemuan orientasi anggota pokjanal desa siaga aktif tingkat kecamatan Pancur pada Selasa pagi (19-20/03) di Gedung KPRI Pancur.

Dengan adanya Orientasi anggota pokjanal ini dimaksudkan untuk memfasilitasi masyarakat supaya tahu, mau, dan mampu dalam melakukan upaya deteksi dini faktor risiko masalah kesehatan dan tersusun rencana kerja Pokjanal Desa Siaga Aktif tingkat kecamatan.

Desa atau kelurahan siaga aktif memiliki komponen yang meliputi pelayanan kesehatan dasar, pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) dan mendorong upaya surveilans berbasis masyarakat, kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana serta penyehatan lingkungan, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Diharapkan komitmen anggota pokjanal dan kerjasama antar pemangku kepentingan untuk lebih meningkatkan peran masing-masing dalam mengembangkan desa siaga aktif.

Pantau Kesehatan Karyawan dan Karyawati Dinkes Rembang Lakukan Pemeriksaan Kebugaran

Untuk menjaga dan mengatahui kebugaran tubuh saat bekerja ataupun melakukan rutinitas di kantor, pada Kamis pagi (15/03) Seksie Kesjaor menyelenggarakan kegiatan pemeriksaan kebugaran bagi karyawan dan karyawati Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang di Alun-alun Kota Rembang.

Kegiatan pemeriksaan diikuti sekira 35 karyawan dan karyawati yang masing-masing mewakili dari 3 bidang dan 2 Subbag serta tenaga medis dari beberapa Puskesmas yang ikut membantu dalam melakukan pemeriksaan kebugaran.

Pada awal kegiatan pemeriksaan para peserta diminta untuk mengisi pengisian kuesioner PAR-Q (Kuesioner Kesiapan Aktifitas Fisik), dan di tensi secara bergiliran.

Dilanjutkan dengan gerak peregangan tubuh dan diakhiri dengan berjalan cepat atau berlari secara konstan semampunya pada jarak yang telah ditentukan (1,6 km / dengan mengelilingi lapangan sebanyak 4 kali putaran).

Kegiatan pemeriksaan kebugaran merupakan sebuah tes daya tahan kardiorespirasi, tes kekuatan dan fleksibilitas otot yang bisa menjadi salah satu faktor dalam menentukan derajat kesehatan seseorang.

Dengan adanya kegiatan pemeriksaan ini tentunya banyak manfaatnya bagi tubuh kita. Diantaranya dapat mengetahui status kebugaran seseorang, dapat melatih ketahanan fisik sehingga baik untuk kesehatan jantung dan paru-paru dan dapat mencegah terjadinya obesitas pada seseorang.

Ceramah Klinik Tatalaksana Kepada beberapa Dokter atau Tenaga Medis Untuk Mewaspadai Kasus Malaria

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat luas dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia.

Penyebab Malaria adalah parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Dikenal 5 (lima) macam spesies yaitu: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae danPlasmodium knowlesi. Parasit yang terakhir disebutkan ini belum banyak dilaporkan di Indonesia.

Berdasarkan hasil observasi yang dari Seksie P2PM (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang masih ada kendala yang harus dilakukan sebagai upaya penanggulangan penayakit malaria secara komprehensif yang bertujuan menurunkan angka kesakitan, kematian dan mencegah KLB (Kejadian Luar Biasa).

Salah satu diantaranya yakni belum semua dokter / tenaga medis mendapatkan ceramah klinik terkait dengan tata laksana malaria.

Oleh sebab itu, dilakukan kegiatan Ceramah Klinik Tata Laksana Malaria Bagi Tenaga Rumah Sakit dan Puskesmas se-Kabupaten Rembang di Fave Hotel pada Selasa pagi (13/03).

Kegiatan yang di buka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr. Ali Syofii tersebut, mendatangkan Narasumber dari Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSUP dr. Kariadi M. Hussein Gasem dan Dr. Tjoe Ivone. W Sp.PD dari RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.

Dalam arahannya Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii menuturkan meskipun di Kabupaten Rembang sudah mendapatkan sertifikasi Eliminasi Malaria dari Kemenkes tahun 2014, namun kita masih tetap harus wasapada. Dikarenakan terjadi peningkatan pekerja asal Rembang yang bekerja ke daerah endemis Malaria seperti di Papua dan Papua Barat.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ceramah ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga dapat dilakukan upaya penatalaksanaan yang berkualitas dan memberikan kontribusi untuk menuju Indonesia bebas malaria. (HumasDinkesRbg)

Tasyakuran dan Kata Pamitan Kasie Surveilans, Imunisasi, dan Karantina Kesehatan

Setelah melakukan senam bersama pada Jum’at pagi (09/02) , Seluruh staf dan karyawan Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mengikuti acara tasyakuran dan kata pamitan dari Supriyo, SKM, MM yang mendapatkan promosi jabatan ditempat yang baru di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.

Sebelumnya ia bertugas sebagai Kepala Seksie Surveilans, Karantina Kesehatan dan Imunisasi di Dinas Kesehatan Rembang. Namun setelah adanya pelantikan pejabat yang dilakukan oleh Bupati Rembang pada hari Jum’at (02/02), Supriyo mendapatkan promosi jabatan untuk menjadi Kabid Humas di RSUD. dr. R Soetrasno Rembang.

Disamping itu dilanjutkan dengan perkenalan oleh dr. Darmono eks Kepala Puskesmas Sluke yang dilantik menjadi Kabid Yankes dan SDK di Dinas Kesehatan Rembang. ucapan selamat juga diberikan kepada Enny Staff dari Seksie Surveilans, Karantina Kesehatan, dan Imunisasi yang mendapatkan promosi jabatan menjadi Kasie menggantikan Supriyo.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii mengatakan dalam meraih promosi jabatan merupakan impian bagi setiap pekerja termasuk ASN, oleh sebab itu harus dijalani dengan penuh tanggungjawab dan harus disyukuri sebagai amanah yang diberikan kepada kita.

Adakan PKP Untuk Kepengurusan Sertifikasi P-IRT

Salah satu rangkaian dalam pengurusan sertifikasi industri rumah tangga pangan (IRTP) di Kabupaten Rembang. Dinas Kesehatan Rembang melalui Seksie Farmalkes melaksanakan Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) bagi pemilik usaha industri rumah tangga.

Penyuluhan PKP dilakukan dalam 3 periode yang bertempat di Aula Labkesda, dimana setiap periode diikuti 20 pemilik usaha atau penanggungjawab produsen industri rumah tangga. Periode pertama dilakukan pada Senin pagi (05/02/2018). Sedangkan untuk periode 2 dan 3 akan dilaksanakan pada hari Selasa dan Rabu (06-07/02/2018).

Dalam proses pengajuan PIRT tentunya ada beberapa tahapan yang perlu diketahui, diantaranya peserta harus mendaftarkan produk di Dinas Kesehatan, kemudian mengikuti penyuluhan keamanan pangan berdasarkan Perka BPOM RI dimana para peserta akan diberikan pre-test, penyuluhan, dan post-test.

Sementara itu adapun ketentuan peserta setelah melakukan pre-test dan post-test harus mendapatkan nilai minimal 60. Sehingga kalau belum mencapai angka tersebut maka akan dilakukan pengulangan.

Apabila peserta telah memenuhi syarat dan ketentuan, dari Dinas Kesehatan akan mendapatkan Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) yang nantinya dapat dipergunakan sebagai salah satu persyaratan dalam pengajuan PIRT di Dinas Penanaman Modal Perijinan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSPNAKER) Kabupaten Rembang.

Kepala Seksie Farmalkes Soesi Haryanti, S.Si.,Apt menghimbau supaya masyarakat di Kabupaten Rembang yang memiliki produk skala rumah tangga dapat melakukan sertifikasi pangan. Sehingga dapat diketahui keamanan, mutu, dan gizi pangan yang diproduksi oleh industri rumah tangga.

“Dengan khidmat para peserta pengajuan Sertifikasi PKP sedang memperhatikan Narasumber saat memberikan penyuluhan”

“silahkan bagi warga masyarakat yang memiliki produk berskala rumah tangga untuk melakukan sertifikasi pangan. Untuk proses perijinannya gratis kok, langsug saja ke Dinas Kesehatan Rembang untuk mendaftarkan produk IRT yang diprosuksi”terang Soesi saat ditemui oleh Tim Humas Dinkes Rembang di Aula Labkesda.

Selain itu kepada masyarakat diminta untuk menjadi konsumen yang cerdas dalam memilih atau mengkonsumsi bahan pangan. Selalu ingat CekKLIK (cek Kemasan, Label, Ijin Edar, dan Kedaluwarsa). Untuk melihat ijin edar masyarakat dapat mengunduk aplikasi CekBPOM yang tersedia di playstore smartphone.

(HumasDinkesRbg)