Bersama Menata Pelayanan Kesehatan Di Kabupaten Rembang

Kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Rembang secara bertahap akan terus ditingkatkan. Mulai dari sarana dan prasarana akan disesuaiakan menjadi lebih baik dan bagus lagi.

Hal tersebut dikatakan oleh Bupati Rembang H. Abdul Hafidz saat talkshow Halo Bupati Rembang di radio R2B yang juga di relay S Radio, Minggu (05/11/2017).

Dalam Talkshow tersebut Bupati Rembang didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr. Ali Syofii, Direktur RSUD dr.R Soetrasno Rembang dr. Agus Setyo H, dan Vera dari pihak BPJS Rembang.

“Suasana Ketika Talkshow di Studio R2B Rembang”

Banyak aduan dari warga Rembang via telepon mengenai mutu pelayanan kesehatan di Kabupaten Rembang yang masih harus dikaji dan ditata kembali, diantaranya sarana prasarana dan Sumber Daya Manusianya.

Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr. Ali Syofii menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Rembang terus berupaya untuk meningkatkan mutu pelayanan dan sarana prasarana di  fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas).

Diantaranya dengan merehab gedung Puskesmas agar lebih bagus lagi, dan menata sumber daya manusia agar disesesuaikan dengan porsi atau kebutuhan tenaga kesehatan yang dibutuhkan di lingkungan Puskesmas.

Selain hal tersebut program pembangunan kesehatan masyarakat seperti promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif juga lebih ditingkatkan lagi. (HumasDinkesRbg)

Sambut HKGB ke 65 Pengurus Bhayangkari Cabang Rembang Lakukan Deteksi Dini

Pengurus Bhayangkari Cabang Rembang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Rembang melakukan deteksi dini kanker payudara (breastcancer) dan kanker serviks (leher rahim) dalam rangka menyambut Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke 65 tahun 2017 di Puskesmas Rembang I, Jum’at (03/10/2017).

“Anggota Bhayangkari Cabang Rembang sedang melakukan pengisian data diri sebelum dilakukan pemeriksaan”

Sebelum pemeriksaan dilakukan, diberikan penyuluhan oleh tenaga kesehatan tentang bahaya kanker payudara dan kanker leher rahim bagi perempuan. Dilanjutkan dengan pengisian data diri dan tensi darah, serta ditanya mengenai gejala klinis yang mungkin pernah dialami.

 

Kepala Puskesmas Rembang I dr.Yuliyanti dihadapan para anggota Bhayangkari dan masyarakat mengatakan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim bagi perempuan sangat penting untuk dilakukan.

“Deteksi dini dengan Sadanis dan IVA ini memang sangat penting untuk dilakukan bagi paerempuan, mengingat kedua jenis kanker tersebut dapat mengintai siapa saja dan dapat menyebabkan kematian”jelasnya.

Kegiatan deteksi dini kanker payudara dilakukan dengan pemeriksaan payudara klinis (sadanis) oleh tenaga kesehatan, sedangkan deteksi dini kanker serviks (leher rahim) dilakukan dengan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Sasaran dalam kegiatan ini adalah puluhan anggota Bhayangkari Kabupaten Rembang bersama masyarakat.

Sementara itu, Ketua Bhayangkari Cabang Rembang Ovy Pungky Bhuana Santoso mengungkapkan bahwa dengan adanya program-program yang telah direncanakan oleh Pengurus Bhayangkari Cabang Rembang ingin sekali dapat berperan pada salah satu program di Bidang Kesehatan sehingga bisa bermanfaat bagi anggota Bhayangkari sendiri terlebih bagi masyarakat disekitarnya.

“Ovy Pungky Bhuana Santoso (tengah) Ketika Memberikan sambutan”

“dengan diselenggarakannya kegiatan deteksi dini ini, kita ingin sekali lebih berperan dalam program kesehatan sehingga harapan kedepan dapat bermanfaat bagi anggota Bhayangkari sendiri dan terlebih bagi masyarakat disekitarnya”ungkapnya.

 

Tidak hanya itu, Ovy juga menghimbau kepada seluruh anggotanya dan masyarakat khususnya bagi perempuan untuk tidak takut melakukan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim.

“saya menghimbau baik dari anggota Bhayangkari maupun seluruh masyarakat khususnya bagi perempun jangan takut melakukan deteksi dina dengan Sadanis dan Pemeriksaan IVA, karena dengan melakukan deteksi dini kita dapat mengetahui awal apakah ada penyakit atau tidak, seandainya ada penyakitnya bisa dicegah agar tidak lebih parah lagi”imbaunya.

(HumasDinkesRbg)

Menuju Rembang Eliminasi Kusta Tahun 2018

Penyakit kusta atau lebih dikenal dengan lepra merupakan penyakit yang disebabkan karena bakteri mycobacterium leprae. Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun yang menyerang kulit, saraf tepi, organ tubuh lain atau sel-sel saraf. Kalau terlambat diobati, akan menyebabkan cacat tubuh, seperti jari membengkok, luka, atau bahkan putus, mata tidak menutup dan kaki melemah. Penyakit ini bukan disebabkan karena faktor keturunan, kutukan dan guna-gun, melainkan karena pola hidup yang tidak sehat.

Saat ini di Kabupaten Rembang jumlah kasus penyakit kusta yang telah ditemukan berdasarkan data yang dihimpun dari Seksie P2PM selama kurun waktu dua tahun terakhir menunjukkan penurunan. Pada tahun 2015 ditemukan 71 kasus, tahun 2016 turun menjadi 46 kasus, dan pada Bulan September tahun 2017 kasus penyakit kusta turun menjadi 39 kasus.

Dalam rangka mengeliminasi peyakit kusta di Kabupaten Rembang, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) melangsungkan pertemuan Teknis Program Kusta.

“Sucipto,SKM pelaksana program TB & Kusta ketika memberikan arahan kepada petugas P2 Puskesmas”

Kepala Seksie P2PM dr.John mengatakan tujuan dilaksanakannya pertemuan ini yakni guna memberikan arahan dan strategi kepada petugas P2 Puskesmas dalam mengentaskan kasus penyakit kusta di Kabupaten Rembang pada tahun 2018.

“pada kesempatan pertemuan ini, kami tim dari kabupaten memberikan arahan serta menjelaskan bagaimana strategi yang tepat kepada petugas P2 Puskesmas sesuai arahan dari Kementerian Kesehatan RI salah satunya dengan adanya format pelaporan Ceklist Ayo Temukan Bercak”jelasnya saat berbincang oleh tim Humas Dinkes Rembang di Meetingroom Fave Hotel Rembang pada Selasa (31/10/2017).

Format pelaporan Ceklist Ayo Temukan Bercak nantinya menyasar pada wilayah Puskesmas yang tersebar diberbagai kecamatan, terutama pada wilayah yang masih endemisitas kusta.

Sementara itu, Sucipto sebagai pelaksana program TB & Kusta di Seksie P2PM, berharap petugas P2 dimasing-masing Puskesmas diminta untuk lebih meningkatkan koordinasi antar lintas program dan lintas sektoral baik ditingkat kabupaten maupun kecamatan.

“saya berharap dengan lebih ditingkatkannya koordinasi antara lintas program dan lintas sektoral para petugas P2 lebih giat mencari penderita kusta dan melibatkan kader kesehatan desa untuk membantu menemukan penderita penyakit kusta”harapnya.

Tidak kalah penting juga untuk mencapai target eliminasi penyakit kusta di Kabupaten Rembang tahun 2018 harus ada dukungan kuat dari lingkungan masyarakat untuk melakukan deteksi dini dengan mengetahui tanda-tanda penyakit kusta. (HumasDinkesRbg)

Pembahasan Rancangan Juklak SPM Di Dinkes Rembang

Kesehatan merupakan sebuah kebutuhan dasar bagi setiap warga negara, oleh karena itu pelayanan di bidang kesehatan harus memiliki standarisasi minimal dan bermutu bagi setiap warga negara.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 43 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Berdasarkan Permenkes RI Nomor 43 Tahun 2016 SPM Bidang Kesehatan terdiri dari 12 Indikator Jenis Layanan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Antara lain, pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan ibu bersalin, pelayanan kesehatan baru lahir, pelayanan kesehatan balita, Pelayanan Kesehatan, pada usia pendidikan dasar, pelayanan kesehatan pada usia produktif, pelayanan kesehatan pada usia lanjut, pelayanan kesehatan penderita hipertensi, pelayanan kesehatan penderita diabetes Melitus, Pelayanan Kesehatan orang dengan gangguan jiwa berat, pelayanan kesehatan orang dengan Tuberculosis (TB), dan Pelayanan kesehatan orang dengan resiko terinfeksi HIV.

Sesuai dengan Permenkes RI yang telah diterbitkan, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melakukan pertemuan dalam rangka pembahasan rancangan juklak atau petunjuk pelaksanaan SPM (Standar Pelayananan Minimal) Bidang Kesehatan di Kabupaten Rembang.

Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii  mengungkapkan bahwa dalam pencapaian target SPM diperlukan sebuah upaya terkoordinir antara Pemerintah Daerah, Dinas Kesehatan, Puskesmas dan jaringannya serta fasilitas kesehatan lain yang berkoordinasi dengan Pemkab Rembang.

“kami di Dinas Kesehatan akan lebih ke arah pembinaan dan pengawasan secara teknis, sementara koordinasi di tingkat kecamatan dilaksanakan oleh Kepala Puskesmas dimasing-masing wilayahnya”ungkapnya.

Pembahasan juklak SPM Bidang Kesehatan ini merupakan langkah awal implementasi SPM Bidang Kesehatan di Kabupaten Rembang. Beberapa langkah yang akan dilakukan adalah perencanaan kegiatan dalam pencapaian target-target SPM Bidang Kesehatan, pendanaan dan rencana pembinaan dan pengawasan.

“Diskusi bersama Kepala Puskesmas dan jajaran di Dinas Kesehatan dalam pembahasan SPM Bidang Kesehatan”

Dengan berpedoman pada SPM Bidang Kesehatan diharapkan masyarakat akan mendapat pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan minimal. (HumasDinkesRbg)

Dinkes Minta Bidan Harus Proaktif

Dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Kabupaten Rembang. Dinkes Rembang melalui Seksie Kesga dan Gizi melakukan pembinaan bagi tenaga kesehatan khususnya bidan baik bidan Puskesmas maupun Bidan Desa yang ada di Puskesmas se Kabupaten Rembang.

“Para Bidan dan Petugas Gizi Puskesmas Rembang 1”

Pada Senin pagi, 30/10/2017, kegiatan Pembinaan Bidan berlangsung di Aula pertemuan Puskesmas Rembang I. Dihadiri 15 peserta terdiri dari petugas gizi,  bikor, bidan desa, dan bidan puskesmas.

Dalam Pembinaan Kabid Kesmas dr.Nurani Her Utami menuturkan supaya bidan dapat secara proaktif untuk memantau kondisi bumil yang beresiko memiliki penyakit komplikasi dan Bumil KEK (Kurang Energi Kronik) agar berkoordinasi dengan petugas gizi.

“mengingat masih tingginya AKI dan AKB di Kabupaten Rembang, saya berharap para bidan diwilayah Puskesmas Rembang I, bidan koordinator puskesmas maupun bidan desa secara proaktif memantau kondisi Bumil”tuturnya.

Para bidan juga diminta untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat komunikasi langsung terhadap Bumil (Ibu hamil) yang berisiko dengan cara menghubungi atau membuat group obrolan.

Jadi selama masa kehamilan sampai masa nifas dapat diketahui kondisi kesehatan Ibu dan Bayi yang dikandungnya.

“Melalui acara ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan para bidan, serta dapat meningkatkan koordinasi dan kerjasama tim bidan puskesmas lainnya dan pihak Desa/Kelurahan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan yang mampu menurunkan kasus kematian ibu dan bayi saat persalinan”jelasnya. (HumasDinkesRbg)

Dengan RCA Dinkes Rembang Maksimalkan Capaian Imunisasi MR

Setelah kegiatan imunisasi Measleas Rubella (MR) selesai dilaksanakan pada akhir September 2017, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Survailans, Karantina Kesehatan, dan Imunisasi bersama tenaga kesehatan Puskesmas melakukan kegiatan RCA (Rapid Convenience Assesment) atau penilain cepat pada dua desa di beberapa kecamatan diantaranya Lasem, Sedan, Rembang, Sluke.

Penilain cepat atau RCA dilakukan untuk mengetahui sasaran dan kisaran cakupan pada suatu daerah tersebut apakah seluruh sasarannya sudah diimunisasi atau bilamana ada yang belum diberikan imunisasi maka diminta untuk diberikan imunisasi. Penilaian cepat dilakukan terhadap minimal 20 rumah.

Kasie Survailans, Karantina Kesehatan, dan Imunisasi, Supriyo,SKM, saat melakukan wawacara dirumah salah satu warga Desa Sluke.

Dijelaskan oleh Supriyo, SKM, mengenai teknik yang umum digunakan pada RCA yaitu dengan melakukan wawancara secara mendalam agar dapat diketahui alasan pada warga diwilayah tersebut mengenai pelaksanaan imunisasi MR yang telah dilaksanakan.

“umumnya penilaian cepat (RCA) dilakukan dengan menggunakan wawancara secara mendalam (Indepth Interview) yang dilakukan pada perorangan, selanjutnya Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara tersebut kita inteprestasikan maknanya kedalam bentuk analisis laporan sesuai dengan format RCA yang ada, selain itu penilaian cepat ini tidak bisa dibuat untuk mengukur jumlah cakupan”jelasnya usai mengunjungi salah satu rumah warga di Desa Sluke pada Selasa pagi (24/10/2017).

Didalam penilaian cepat (RCA) juga dilakukan pengecekan buku KIA pada kolom Tambahan Vaksin Lain di lembar Catatan Imunisasi Anak, hal ini dilakukan supaya petugas kesehatan mendapatkan informasi secara jelas mengenai status imunisasi pada anak.

Melalui kegiatan RCA Kasie Survailans, Karantina Kesehatan, dan Imunisasi Supriyo,SKM, MM menghimbau agar semua sasaran yang belum mendapatkan imunisasi supaya segera merujuk ke pos pelayanan imunisasi atau puskesmas untuk memperoleh imunisasi MR dari tenaga kesehatan.

(HumasDinkesRbg)

Enam Desa Nominasi Terbaik Ditinjau

Dinas Kesehatan Rembang melalui Seksie Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan kembali melakukan penilaian Lomba Desa PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) tingkat Kabupaten dibeberapa wilayah Puskesmas yang ada Kabupaten Rembang.

Sebelumnya, terlebih dulu dilakukan proses seleksi secara administratif oleh Dinkes berdasarkan data desa yang ditunjuk oleh pihak Puskesmas dan diajukan untuk mengikuti lomba di tingkat Kabupaten.

Hasil dari proses seleksi didapatkan 6 desa dengan nominasi terbaik, diantaranya Jambangan Kec.Sarang, Kadiwono Kec.Bulu, Kumbo Kec.Sedan, Pohlandak Kec.Pancur, Joho Kec.Sale, dan Bogoharjo Kec.Kaliori.

Selesai proses seleksi , Tim penilai dari Kabupaten menindaklanjuti dengan melakukan penilaian dan meninjau langsung rumah warga yang telah dibina oleh para kader dan seluruh pengurus binaan rumah berPHBS yang dibimbing oleh Puskesmas diwilayahnya.

Telah disiarkan langsung lewat salah satu akun media sosial Dinkes Rembang berjalannya kegiatan penilaian sekaligus peninjauan rumah warga di Desa Kadiwono Kecamatan Bulu, pada Selasa pagi (17/10/2017).

Kegiatan ini dilakukan untuk melihat sejauh mana penerapan 16 indikator perilaku hidup bersih dan sehat warga serta kontribusi Pemerintah Desa dalam memotivasi warganya untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta mendukung dari sisi penganggaran dan kebijakan mengenai program PHBS.

Adapun 16 indikator program PHBS yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, kunjungan ibu hamil (K4 Bumil), pemberian ASI Eksklusif, menimbang balita, mengkonsumsi gizi seimbang, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, membuang sampah pada tempatnya, lantai rumah kedap air, melakukan aktifitas fisik / olahraga, tidak merokok, cuci tangan pakai sabun, menggosok gigi secara teratur, tidak menyalahgunakan miras/alkohol, kepesertaan jaminan kesehatan nasional (JKN), dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Dari hasil penilaian di Desa Kadiwono, ada beberapa permasalahan mengenai perilaku yang masih terjadi pada indikator ASI Eksklusif, masih banyaknya sampah yang dijumpai, lantai yang belum kedap air, kurangnya aktifitas fisik dan kesadaran untuk melakukan CTPS masih perlu ditingkatkan, serta yang paling utama adalah banyaknya warga yang masih merokok.

“memang merubah perilaku tidak mudah, namun perilaku hidup bersih dan sehat ini harus dikepung bersama untuk mewujudkan masyarakat yang sadar akan kesehatan bagi dirinya sendiri dan dapat menerapkan perilaku sehat didalam tatanan rumah tangga maupun dilingkungannya”jelas Sarwoko Kasie Promkes dan Pemberdayaan Kesehatan Dinkes Rembang saat melakukan evaluasi hasil peninjauan.

Namun diantara ke enam desa terpilih yang berada di enam kecamatan tersebut beberapa sudah ada yang menerapkan PHBS dengan cukup baik. “setelah kami lakukan peninjauan pada ke enam desa tersebut sudah ada rumah tangga yang menerapkan PHBS dengan cukup baik”imbuhnya.

Untuk itu diharapkan kerjasama dari berbagai pihak terutama peran pemerintah desa dan para kader agar melakukan tugas sebaik – baiknya dengan melakukan survei dan pembinaan dalam penerapan PHBS di sejumlah keluarga. (HumasDinkesRbg)

Ingatkan Siswa Tuk Jadi Konsumen Cerdas dan Bebas dari Narkoba

Pemuda sebagai generasi penerus bangsa harus mengetahui bahaya penyalahgunaan narkoba yang berdampak pada kesehatan tubuhnya. Salah satu upaya preventif atau pencegahan penyalahgunaan narkoba dilakukan melalui penyuluhan kepada mereka khususnya bagi para siswa disekolah.

Oleh karena itu beberapa waktu lalu tepatnya pada Rabu pagi (11/10/2017), Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Farmalkes melakukan kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan NAPZA (Narkoba, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) di SMK Muhammadiyah Rembang. Kegiatan ini bekerjasama dengan organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Rembang.

Dijelaskan oleh Soesi H,S.Si.Apt penyuluhan dilakukan guna meningkatkan pengetahuan tentang dampak penyalahgunaan narkoba bagi kesehatan.

“dengan diadakannya kegiatan penyuluhan ini, Para siswa dapat mengetahui dampak penyalahgunaan narkoba bagi kesehatan tubuh mereka sehingga dapat terbebas dari penyalahgunaan narkoba”jelas Soesi pada awal sambutan.

Sedangkan Andrean.S.Apt (IAI PC Rembang) juga menyampaikan materi mengenai DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang obat dengan benar).

“dapatkan obat dengan benar pada sarana kefarmasian yaitu Apotek, konsultasikan dengan apoteker supaya dalam mengkonsumsi obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan, dan jangan lupa untuk melihat expired date (tanggal kadaluwarsa) pada kemasan obatnya”terang Andrean.

Para siswa juga diajarkan untuk menjadi konsumen yang cerdas dalam memilih obat, pangan/jajanan sehat dan bebas dari cemaran fisik, kimia, maupun biologis, serta memilih kosmetika yang aman untuk digunakan.

Untuk memastikan para siswa bebas dari narkoba, Guru sekolah diminta untuk memilih secara acak siswa yang akan dilakukan pemeriksaan sampel urine oleh Tim Pemeriksa. Namun dari hasil pemeriksaan seratus persen siswa dinyatakan negatif.

Sementara itu, untuk melakukan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN) butuh dukungan dan kerjasama semua pihak untuk mewujudkan Kabupaten Rembang bebas narkoba.

Soesi juga menuturkan supaya para siswa tidak coba-coba memakai narkoba. Diwajibkan siswa bebas dari penyalahgunaan Narkoba.

“tidak hanya disekolah SMK Muhammadiyah saja, melainkan seluruh sekolah lainnya yang ada di Kabupaten Rembang para siswa kami harap supaya tidak coba-coba memakai narkoba, kalian semuanya merupakan generasi penerus bangsa ayo berkarya, jadilah generasi yang sehat, kreatif, dan membanggakan bagi Orang Tua maupun bangsa kita”tuturnya.

(HumasDinkesRbg)

Penerimaan Tim Surveyor Akreditasi FKTP

Minggu pagi setelah mengikuti acara peringatan HCTPSS, pada Minggu malam (15/10/2017) dilanjutkan dengan penerimaan Tim Surveyor Akreditasi FKTP di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

Rombongan Tim Surveyor datang tepat pukul 20.30 WIB, disambut oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii, Tim Pendamping Akreditasi Dinkes Rembang, dan perwakilan karyawan Puskesmas Gunem dan Kaliori yang akan dilakukan penilaian. Penerimaan dilaksanakan secara sederhana.

Kadinkes Rembang dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para surveyor dan para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.

“kami ucapkan selamat datang Bapak Eko Bayu Nugroho,SKM selaku Ketua Surveyor Akreditasi FKTP beserta dua Surveyor yaitu Bapak Noerolandra Dwi S, SKM, Mkes, dan dr.Isman Ramadi, M.MED (OM) SpOK, serta perwakilan karyawan puskesmas Gunem di Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang untuk melaksanakan tugas penilaian di dua puskesmas”Ucapnya.

“saya berharap bahwa dengan adanya akreditasi ini puskesmas tidak semata-mata hanya untuk mendapatkan status kelulusan akreditasi saja, akan tetapi agar dijalankan dan dipertahankan sebagai pelayan kesehatan yang bermutu kepada masyarakat”harapnya.

Acara dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Ketua Tim Surveyor mengenai jadwal penilaian, kode etik surveyor, tata tertib atau peraturan saat penilaian, dan dilanjutkan dengan proses tanya jawab.

Kemudian setelah proses tanya jawab selesai, secara simbolis Ketua Surveyor menyerahkan dokumen yang berisi surat pernyataan Kepala Puskesmas tidak boleh meninggalkan Puskesmas selama proses penilaian.

Sebaliknya Puskesmas juga menyerahkan dokumen berupa profil puskesmas dan self assessment sebagai bahan evaluasi untuk Surveyor Akreditasi FKTP.

(HumasDinkesRbg)

HCTPS ke 10 : Our Hands, Our Feature

Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS) ke 10 di Kabupaten Rembang, kali ini diselenggarakan di Puskesmas Rembang I Jl.Raden Saleh No 3 Kecamatan Rembang, Minggu (15/10/2017).

Acara tersebut melibatkan 200 siswa-siswi Sekolah Dasar di wilayah Kecamatan Rembang, dan diikuti oleh seluruh karyawan Puskesmas Rembang I, 34 Kepala Desa Kelurahan se Kecamatan Rembang, serta lintas sektoral Kecamatan Rembang.

Turut hadir pula, Bupati Rembang H.Abdul Hafidz, Asisten 2 Sekda Rembang Abdullah Zawawi, dan Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii beserta para jajarannya.

Tahun ini, Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia ke 10 mengusung tema “Our Hands, Our Feature (Tangan Kita Masa Depan Kita)”.

Bupati Rembang dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat untuk memiliki gaya hidup  sehat, dengan menerapkan perilaku hidup bersih salah satunya dengan melakukan cuci tangan pakai sabun.

“kesehatan merupakan sebuah kebutuhan yang sangat fundamental bagi kita semua, untuk itu mari kita membiasakan diri untuk lebih sehat dengan cuci tangan pakai sabun, karena sehat dimulai dari diri kita sendiri”jelasnya.

“saya berharap dengan peringatan HCTPS ke 10 ini, anak-anak juga menjadi lebih peduli dengan kesehatan dirinya, selain Pemerintah peran masyarakat terutama orang tua juga sangat penting dalam mengingatkan dan menjaga kesehatan buah hatinya”imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii menyampaikan penyakit yang ditimbulkan dari tangan yang penuh dengan kuman dan atau kotoran.

“perlu semuanya tahu bahwa ada beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh tangan ketika kita makan namun belum mencuci tangan kita pakai sabun, diantaranya influenza, salmonellosis, tifus, dan hepaititis A”jelasnya

Adapun cara cuci tangan yang harus dilakukan untuk meminimalisir kuman atau kotoran yang dapat menyebabkan penyakit tersebut. Diantaranya, membasuh kedua tangan dengan air, tuang sabun ke telapak tangan, gosok telapak tangan hingga berbusa, bilas tangan sampai bersih dari sisa sabun dan kotoran, kemudian keringkan pakai tisu atau handuk yang bersih.

(HumasDinkesRbg)