Dinkes Siap Dukung Pemkab Rembang Raih Adipura

Beberapa waktu lalu Bupati Rembang H. Abdul Hafidz bersama Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, SE dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait melakukan kunjungan ke sejumlah instansi, salah satu diantaranya Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

Dalam kunjungannya Bupati dan Wakil Bupati memiliki beberapa maksud, salah satunya melakukan pemantauan kebersihan lingkungan instansi guna mendukung Pemerintah Kabupaten Rembang meraih penghargaan Adipura.

Menyikapi hal tersebut Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang sudah bersiap diri dalam mendukung Pemerintah Kabupaten Rembang untuk meraih penghargaan Adipura. Setiap hari lingkungan di Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang selalu rutin dibersihkan.

“ASN di lingkungan Dinkes Rembang bergotong royong membawa pot yang sudah ditanami bunga untuk ditata dihalaman kantor Dinas Kesehatan”

Tidak hanya itu saja, pada Selasa pagi (16/01/2018) dilakukan kerja bakti oleh tim kebersihan yang sudah dibagi dan dijadwalkan oleh internal dinas guna menjaga kebersihan dan memelihara lingkungan.

“Tim kebersihan sedang membersihkan saluran air yang membentang dihalaman kantor Dinas Kesehatan”

Sekretaris Dinas Kesehatan Rembang Drs.Supriyo Utomo menyebutkan dalam kerja bakti kita mulai dari membersihkan saluran air, menyiram tanaman, kali ini kita juga menambahkan sejumlah bunga yang ditanam di pot tanaman yang sudah disediakan untuk menambah keindahan di halaman kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

(HumasDinkesRembang)

Evaluasi kegiatan tahun 2017, Sebagai Koreksi Di Tahun 2018

Bertempat di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Jum’at pagi (12/01/2018) dilakukan pertemuan bersama lintas program di internal Dinkes Rembang dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan kegiatan di tahun 2017.

“Masih banyak target capaian yang harus kita kejar”

Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii didampingi oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Drs. Supriyo Utomo bersama para Kabid, Kasie, dan Kasubbag di Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang kegiatan pada tahun 2017 secara garis besar sudah dilaksanakan dan direalisasikan dengan baik. Namun masih ada beberapa permasalahan menyangkut pelaksanaan kegiatan yang menumpuk di akhir tahun.

“Para Kabid, Kasie, dan Kasubbag saat mengikuti rapat evaluasi program di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang”

“Alhamdulillah seluruh kegiatan di tahun 2017 dari semua bidang maupun seksie sudah dilaksanakan dan direalisasikan dengan baik, namun masih ada permasalahan salah satunya pelaksanaan kegiatan yang menumpuk dibulan-bulan akhir tahun 2017”jelasnya.

Sementara itu, pada acara pertemuan tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii menginstruksikan kepada para Kabid, Subbag, dan Kasie untuk mengoreksi pelaksanaan kegiatan yang seharusnya menjadi prioritas dan diminta untuk  menyusun standar operasional prosedur pada setiap pelaksanaan kegiatan.

“di tahun 2018 ini saya minta kepada semua pejabat struktural untuk mengoreksi pelaksanaan kegiatan, jangan sampai pelaksanaan menumpuk diakhir tahun. Selain itu saya minta untuk membuat standar operasional prosedur setiap pelaksanaan kegiatan dapat berjalan lebih baik dan tertata lagi”ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan supaya di tahun 2018 semakin banyak inovasi yang dibuat untuk mensukseskan program-program kesehatan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Rembang.

(HumasDinkesRembang)

Lakukan Akselerasi Dengan Jamban Sapu Jagat Di Tujuh Kecamatan

Kegiatan stresing desa belum lolos odf masih tetap berlanjut. Setelah dari Kecamatan Sarang yang menyisakan tujuh desa, Kemarin Rabu (10/01/2018) Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii bersama Kasie Kesling Kesja Or Al Furqon kembali melakukan stresing di Kecamatan Kragan.

“Kegiatan Stresing Di Kecamatan Sarang pada Selasa pagi (09/01/2018)”

Stresing dilakukan terhadap lima desa yang belum lolos ODF, diantaranya Desa Pandangan Kulon, Plawangan, Terjan, Karanganyar, dan Desa Tegalmulyo.

Menurut keterangan dari masing-masing kepala desa, mereka telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah warganya agar tidak BABS (Buang Air Besar Sembarangan). Hamim Kepala Desa Plawangan mengaku pihaknya sudah melakukan berbagai upaya dan strategi mulai dari mengintai secara diam-diam hingga terang-terangan untuk memergoki warganya yang masih BABS diwilayah pesisir. Hingga memberi peringatan supaya tidak BABS lagi di pantai.

“Para Kades Di Kecamatan Kragan Sangat serius dan antusias dengan adanya mediasi yang dilakukan oleh pihak Dinkes Rembang”

“saya pribadi bersama perangkat desa dan para pemuda warga setempat sudah melakukan pengintaian secara bergantian untuk menjaga lingkungan pesisir pantai, agar tidak ada masyarakat di desa kami yang BABS di pantai, jarak seminggu sudah kondusif, namun pihak kami masih saja kecolongan karena berbagai alasan dari masyarakat bilamana akan BAB di pesisir pantai”terangnya.

Lanjutnya “Dari pihak kami pun akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah warga di desa kami supaya tidak BABS di pesisir pantai. Di desa lain saja yang juga sama-sama di pesisir pantai saja bisa kok Mas, berarti kita harus bisa. Apalagi ada kegiatan mediasi seperti ini, kami tambah semangat Mas, karena bisa bertukar pemikiran dan mencari solusi bagaimana supaya perilaku masyarakat dapat berubah agar tidak BABS lagi” jelas Hamim kepada Tim Humas Dinkes Rembang. 

Menanggapi hal tersebut Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii memberikan ide pemikiran dalam mencegah perilaku masyarakat yang masih BAB khususnya dipesisir pantai maupun dikawasan aliran sungai diperlu adanya akselersi atau percepatan berupa jamban sapu jagat atau jamban komunal yang dikelola oleh pihak desa masing-masing. Disamping itu pihak desa harus secara berkesinambungan mengingatkan pada setiap momen acara yang dihadiri oleh masyarakat masif agar memberikan edukasi kepada masyarakat untuk merubah pola perilaku tidak BABS (buang Air Besar Sembarangan).

“Kadinkes Rembang dr.Ali Syofii saat memberikan arahan mengenai jamban sapu jagat di Kecamatan Kragan”

“jamban sapu jagat ini nantinya sebagai sarana bagi masyarakat terutama yang belum memiliki jamban untuk BABS. Pihak desa bisa ikut andil dalam mengelola jamban tersebut, yang paling penting setelah dibangunnya jamban harus dirawat dan rutin untuk dibersihkan sehingga nyaman untuk digunakan. Selain itu pihak desa jangan bosan-bosan untuk mengingatkan warga masyarakatnya supaya tidak BABS di setiap momen acara seperti pada saat pengajian, musyawarah desa, dan berbagai acara lainnya yang ada di desa” jelasnya.

Ditanya masalah sumber dana selain dana desa dr. Ali Syofii menjawab “kami telah menggandeng berbagai dunia usaha dan para donatur yang ada di Kabupaten Rembang untuk membantu pembangunan jamban sapu jagat ini, salah satunya dari perusahaan PT. Semen Indonesia”ungkapnya.

Dengan adanya jamban sapu jagat ini nantinya tidak hanya pihak desa yang merawat, tetapi juga masyarakat disekitarnya harus berkomitmen kuat untuk menjaga keberlangsungan jamban dalam jangka waktu panjang.

“saya berharap dengan dibangunnya jamban ini masyarakat yang masih BABS mau menggunakan dan menjaga kebersihan jamban, selain itu saya berharap kesadaran dari warga masyarakat untuk tidak lagi BABS di pesisir pantai maupun dikawasan aliran sungai atau disemak-semak”terang Kadinkes Rembang.

Sementara itu dari kedua kecamatan yang sudah dilakukan stresing adapun lima kecamatan di Kabupaten Rembang yang nantinya akan dilakukan stresing. Diantaranya Kecamatan Sumber ada 5 desa, Kecamatan Kaliori ada 3 desa, Kecamatan Sulang 2 desa, Kecamatan Sluke 1 desa, dan Kecamatan Sale masih tersisa 1 desa yang belum ODF.

Kegiatan stressing ini akan terus dilakukan, mengingat waktu yang diberikan oleh Bupati Rembang untuk memperbaiki dan mengejar ketertinggalan dalam mencapai Kabupaten ODF Tahun 2017 hanya 3 Bulan setelah dilakukan Pra Verifikasi beberapa waktu yang lalu.

“semoga dengan adanya akselerasi pembuatan jamban sapu jagat yang digagas oleh Kadinkes Rembang dapat tercapai dan dapat terwujud Kabupaten Rembang sebagai Kabupaten ODF. Peran masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam mendukung tercapaianya rencana aksi daerah ini, untuk itu mari kita sama-sama saling berbenah demi menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat”pungkas Al Furqon sesaat selesainya acara kegiatan.

(HumasDinkesRembang)

Tim Gabungan dari Seksie Bidang P2 Lakukan Penanggulangan DBD

Kamis 04/12/2018, Tim gabungan dari Seksie Surveilans, Karantina Kesehatan, dan Imunisasi beserta Seksie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Bidang P2P (Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) Dinkes Rembang melakukan penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) di dukuh Sumberejo RT 01 / RW 02 Desa Sambiroto Kecamatan Sedan.

Tim didampingi oleh petugas P2 dari Puskesmas setempat dan para kader jumantik untuk melakukan penyuluhan, penaburan bubuk larvasidasi dan fogging focus. Hal ini dilakukan sehubungan dengan adanya penemuan kasus DBD di desa tersebut.

“Petugas P2 Puskesmas beserta para kader jumantik sedang berdiskusi untuk melakukan penyuluhan”

Kegiatan tersebut dilakukan setelah sebelumnya Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (mendapatkan gambaran klinis dari suatu penyakit) dengan hasil ditemukan adanya penularan kasus DBD. Dari 50 rumah yang dipantau 31 diantaranya ditemukan jentik nyamuk Aedes aegypti atau dengan Angka bebas jentik/ABJ hanya 38%.

Diharapkan dari pihak pemerintah desa segera menggerakkan masyarakatnya untuk melakukan pemberantasan nyamuk secara serentak. Sehingga dapat memutus rantai hidup nyamuk penular DBD.

Yang lebih penting adalah selalu melakukan PSN dengan 3 M plus yaitu Menutup, Menguras tempat penampungan air, Mungubur barang bekas plus Memantau jentik di rumah secara rutin seminggu sekali sehingga rumah terbebas dari nyamuk penular DBD. Sedangkan kalau untuk fogging dinilai kurang efektif, karena hanya dapat membunuh nyamuk dewasa saja.

(HumasDinkesRembang)

Koordinasi Petugas UKS Puskesmas untuk Optimalkan Penjaringan Kesehatan Peserta Didik

Untuk mengoptimalkan penjaringan Kesehatan peserta didik, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melaksanakan rapat koordinasi dalam rangka mengevaluasi permasalahan yang dihadapi oleh petugas UKS Puskesmas di sekolah-sekolah dan melakukan koreksi data laporan penjaringan kesehatan.

Bertempat di Aula Dinkes Rembang pada Kamis pagi (04/01/2018), rakor dibuka oleh Kabid Kesmas dr. Nurani Her Utami dan diikuti seluruh petugas UKS di Puskesmas.

Mewakili Kepala Dinas Kesehatan Rembang, Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dr. Nurani Her Utami berharap supaya petugas UKS Puskesmas tetap optimal dan maksimal dalam melakukan penjaringan kesehatan terhadap peserta didik, meskipun masih banyak kendala dan keterbatasan yang ada.

“saya berharap supaya petugas tetap optimal dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh petugas dalam melakukan penjaringan kesehatan disekolah-sekolah. Meskipun masih banyak kendala dan keterbatasan baik dari sumberdaya, anggaran, dan sarana prasarana yang ada”jelasnya.

Selain itu lanjutnya, “semua petugas saya minta untuk proaktif memberikan informasi berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang diprioritaskan program UKS kepada para pemangku kepentingan supaya mendapatkan perhatian yang lebih, karena UKS ini sangat penting untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta didik dalam mendukung proses belajar”pungkasnya.

Sementara itu, dari evaluasi data pelaporan yang dilakukan oleh Rina pelaksana program UKS di Dinas Kesehatan Rembang masih ada beberapa indikator penilaian yang perlu koreksi agar lebih valid lagi.

(HumasDinkesRembang)

5 Kebiasaan Generasi Millenials Siasati Kesibukan dengan Sisipkan Pola Hidup Sehat yang Praktis

Lahir di rentang akhir 1980an hingga awal 2000, generasi ini disebut sebagai generasi peralihan dunia konvensional dan modern. Sudah sangat khatam dengan sentuhan teknologi, generasi muda yang kini rata-rata berusia di rentang 17-37 tahun ini akrab disapa dengan sebutan generasi milenial atau generasi Y.

Ketika menjelaskan perbedaan mendasar dari generasi ini, khususnya dalam hal produktivitas, generasi ini tidak bisa lepas dari paparan radiasi dari sebuah perangkat digital. Entah smartphone, laptop, tablet, dan lain sebagainya.

Selain itu, tipikal generasi ini sedikit berbeda dari generasi pendahulunya. Mereka cenderung memiliki kesibukan tinggi. Karena padatnya aktivitas, generasi ini kerapkali memicu pola hidup yang kurang sehat pula. Tuntutan pekerjaan yang tak jarang memaksa lembur, atau bahkan karena memang keinginannya menambah pekerjaan di luar sebagai freelance, membawanya pada kebiasaan tak sehat.

Yang paling sering detemui adalah kebiasaan tidak sehat berupa pola tidur tidak berkualitas dan pola makan yang tidak sehat dengan alasan menjaga kepraktisan.

Meski begitu, tidak sedikit pula generasi ini yang menemukan solusi untuk menyisipkan kebiasaan sehat tanpa mengeliminir sisi kepraktisannya. Kelebihannya dalam mengumpulkan informasi melalui internet membawa generasi ini mengadopsi kebutuhan hidup sehat nan praktis tanpa mengganggu kepadatan aktivitasnya.

Lalu apa sajakah kita hidup sehat nan praktis yang generasi terapkan? Berikut ulasannya.

  1. Lebih akrab terlihat berjalan untuk bekerja

Jika diperhatikan, jumlah pengguna transportasi umum lebih banyak didominasi oleh mereka yang nampak muda, berusia produktif. Mudahnya mengakses transportasi umum berbasis teknologi semakin mendorong mereka untuk lebih memilih transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Selain itu sudah lebih terbiasa mendapat info-info terbaru terkait reward yang diperoleh dari berbagai penyedia jasa.

  1. Waktu istirahat digunakan untuk bekerja, tapi ditemani makan siang praktis seperti buah

Banyaknya pekerjaan yang ia kerjakan membuatnya lebih memilih untuk menggunakan waktu istirahat siang tetap di depan layar komputer untuk bekerja. Kebutuhan makan siang disiasati dengan bekal buah-buahan yang mudah untuk dikonsumsi dan sangat efektif untuk menunda lapar.

  1. Sering melakukan senam pada mata

Terlalu lama terpapar sinar biru dan radiasi pada perangkat digitalnya disiasati dengan sering melakukan senam pada mata. Gerakan sederhana seperti melirik dan memutar mata ke berbagai arah pandang, dan juga sering memijat dan menmghangatkan kelopak mata dengan telapak tangan efektif dilakukan untuk mengistirahatkan mata dari kelelahan.

  1. Jamak ditemui di pusat kebugaran modern

Kegemarannya untuk “nongkrong” dilakukan sejalan dengan kebutuhan untuk tetap sehat dengan berolahraga di pusat kebugaran yang jamak di temui di mall atau tempat hits lainnya.

  1. Selalu merencanakan short escape dengan berlibur ke alam

Pekerja di kota besar sering sekali membuat satu agenda khusus secara berkala dalam satu tahun untuk liburan, entah ke pantai atau mendaki ke gunung. Ke mana pun asalkan bisa digunakan untuk membalas dendam kepada semua waktunya yang ia dedikasikan untuk bekerja ekstra keras.

Sumber : Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat (Kemenkes RI)

Kado Akhir Tahun, Gunem Dapat Ambulance

Di penghujung tahun 2017 ini Pemerintah Kabupaten Rembang mendapatkan tambahan amunisi berupa kendaraan ambulan. Satu unit ambulan itu berasal dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Semen Gresik.

Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Abdul Manan, Kasi Bina Lingkungan PT. Semen Gresik Pabrik Rembang kepada Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto di halaman kantor Bupati Rembang, Jum’at (29/12/2017). Yang selanjutnya mobil tersebut ditempatkan di puskesmas Gunem yang nantinya akan disiagakan untuk melayani warga yang berada di kawasan perbukitan Kecamatan Gunem bagian selatan, seperti Desa Tegaldowo, Pasucen, Timbrangan dan Desa Kajar.

Abdul Manan mengatakan pihaknya menyerahkan mobil ambulance jenis Daihatsu Luxio kepada desa ring 1 pabrik di Kecamatan Gunem, karena merasa prihatin melihat jauhnya perkampungan dengan lokasi Puskesmas dan rumah sakit. Ia berharap mobil ambulance tersebut memudahkan warga, untuk mendapatkan layanan kesehatan.

“Pengadaan mobil ambulance bersumber dari dana CSR kami. Ini bentuk kepedulian terhadap desa ring 1. Dengan mobil baru, warga yang membutuhkan, sekarang tidak usah bingung – bingung lagi mencari kendaraan. Mau ke Puskesmas Gunem atau ke rumah sakit di Rembang, “ jelasnya.

Sementara itu Kepala Puskesmas Gunem, Yuwanita Nurhayati mengatakan selama ini dalam kondisi darurat, apabila ada warga dari Kecamatan Gunem bagian selatan, akan melahirkan atau ingin berobat, biasanya naik kendaraan carteran. Setelah memperoleh bantuan mobil ambulance, menurut rencana ditempatkan ke 1 titik. Akan stand bye di desa mana, menurut Yuwanita perlu dimusyawarahkan bersama 4 desa calon pengguna.

Menyangkut biaya operasional dan siapa sopirnya, pihak Puskesmas belum menyiapkan. Nanti kebutuhan itu akan dicukupi, seiring dengan berjalannya waktu.

“Di desa kan ada ambulance desa, wujudnya bukan ambulance betulan lho. Tapi kendaraan roda 4 yang biasa digunakan, apabila warga harus berobat. Nah untuk mobil ambulance baru ini sudah saya cek, perlengkapan di dalamnya sangat lengkap. Kami akan berembug dengan desa – desa di ring 1 pabrik dan kecamatan, untuk membahas tekhnis operasional,“ tutur Yuwanita.

Yuwanita menyadari masyarakat di Desa Tegaldowo dan sekitarnya perlu mendapatkan perhatian lebih. Mengingat jarak tempuh menuju ibu kota kecamatan cukup jauh dan melewati jalan naik turun bukit, sementara selama ini hanya satu unit ambulan milik puskesmas.

Sumber : Humas Setda Rembang

Anomali Cuaca Salah Satu Penyebab Migrain

Ternyata sakit yang dirasakan dalam tubuh tidak hanya disebabkan virus, bakteri, atau hal lainnya. Melainkan juga dapat disebabkan oleh terjadinya perubahan cuaca atau udara yang tiba-tiba.

Uniknya, tulang kita(manusia) memiliki kepekaan untuk membaca perubahan cuaca dari normal atau panas ke hujan(dingin). Biasanya gejala yang ditimbulkan saat tulang kita membaca perubahan tersebut ditandai dengan pegal pada sendinya.

Salah satu penyakit atau keluhan yang kerapkali muncul diakibatkan perubahan cuaca adalah migrain atau sakit kepala sebelah.
Sering kita mendengar kabar burung bahwa perubahan cuaca kerapkali akan disertai dengan timbulnya keluhan migrain atau sakit kepala sebelah.

Namun aPakah hal tersebut benar? Sebuah studi menemukan bahwa perubahan cuaca dapat memicu terjadinya sakit kepala sebelah atau migrain, meski masih dalam kadar yang ringan.

Studi tersebut melibatkan 66 orang yang memiliki riwayat migrain dengan membuat catatan terkait kapan migrain tersebut muncul dan apa pemicunya, selama satu tahun. Lebih dari setengah responden melaporkan bahwa migrain yang dialami disebabkan oleh terjadinya perubahan cuaca instan.

Penelitian yang dilakukan oleh Shuu-Jiun Wang, MD menunjukan adanya korelasi antara pengaruh dari sensitifitas cuaca dengan timbulnya sakit kepala pada penderita migrain.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh para peneliti lain yang menyatakan bahwa perubahan suhu merupakan satu dari lima penyebab utama migrain. Hanya saja, perubahan suhu yang paling mempengaruhi migrain adalah perubahan suhu dingin.

Obat-obatan pereda nyeri kepala sebelah memang seringkali diyakini mampu mengatasi keluhan ini, namun terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan juga bisa saja berakibat kurang baik. Jadi, cara paling ampuh untuk mengatasi migrain adalah memahami penyebab-penyebab munculnya keluhan ini.

Selain cuaca, nikotin dan kafein serta bau-bauan tertentu juga diindikasikan sebagai salah satu penyebab munculnya migrain. Oleh karena itu, menghindari potensi migrain dengan menjauhi penyebab lain, pada hari-hari di mana suhu udara rentan meningkat.

Sumber : Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat (Kemenkes RI)

ASN Rembang Kembali ke 6 Hari Kerja

Mulai 1 Januari 2018 mendatang, Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Rembang akan kembali melaksanakan 6 hari kerja dalam seminggu. Saat ini, ASN di Rembang masih melaksanakan lima hari kerja dalam seminggu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Rembang, Subakti melalui surat edaran resminya menyebutkan, perubahan jam kerja tersebut berdasarkan kesepakatan dengan Bupati Rembang H. Abdul Hafidz selaku pemangku kekuasaan tertinggi di Rembang. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 46 Tahun 2017. “Pada saat berlaku peraturan Bupati ini, maka peraturan Bupati Rembang Nomor 16 tahun 2012 tentang hari dan jam kerja di lingkungan Kabupaten Rembang dinyatakan dicabut dan tidak berlaku,” terangnya.

Perbup baru yang mengatur hal tersebut telah disepakati pada tanggal 28 Desember 2017 oleh Sekda bersama Bupati Rembang. Tinggal mensosialisasikannya kepada jajaran OPD di lingkup Pemkab Rembang.

Dengan penerapan 6 hari kerja tersebut, maka jam kerja para ASN juga ikut berubah. Mulai hari Senin sampai Kamis masuk pukul 07.00 WIB dan berakhir pada pukul 14.00 WIB. Khusus hari Jum’at mulai 07.00 WIB sampai 11.00 WIB dan hari Sabtu 07.00 dan berakhir pukul 12.30 WIB. “Ketentuan sebagaimana dimaksud tidak berlaku bagi perangkat daerah atau unit kerja yang tugasnya memberikan pelayanan pada masyarakat secara terus menerus,” terangnya.

Aturan 6 hari kerja tersebut tidak berlaku bagi jajaran Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) unit kerja kebersihan, Dinperindagkop dan UMKM, BPPKAD unit kerja pemungut pajak dan retribusi daerah, serta pegawai ASN di lingkup RSUD dr R Soetrasno Rembang. “Perangkat daerah atau unit kerja sebagaimana dimaksud melaksanakan pelayanan selama 24 jam mulai hari Senin sampai dengan hari Minggu. Kepala Perangkat Daerah mengatur pelaksanaan hari kerja dan jam kerja pegawai,” tandasnya.

Sumber : Rembangkab.go.id

Kwarcab Rembang Gandeng Dinkes Dalam Rakor Pramuka Peduli Untuk PSN

Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Rembang melangsungkan Rapat Koordinasi Pramuka Peduli Demam Berdarah di Aula Sanggar Pramuka Kwarcab Rembang pada Kamis pagi (27/12/2017). Rapat tersebut dihadiri oleh Ka Kwaran, Pamong Saka dari Puskesmas serta unsur pimpinan Kwartir Cabang Rembang.

“Peserta dari Kwaran dan Pamong Saka”

Dalam rapat koordinasi pihak Kwarcab menginginkan supaya Komunitas Pramuka Peduli lebih aktif menanggapi permasalahan kesehatan lingkungan dalam hal ini menyangkut Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk mengantisipasi kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di masyarakat.

“Terkait masalah kesehatan lingkungan khususnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pihak kami merangkul Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang untuk memberikan arahan dalam melakukan aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ke masyarakat” ungkap M. Yusuf (Wakil Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Rembang) kepada Humas Dinkes Rembang.

“M.Yusuf Wakil Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Rembang”

Karena lanjutnya, “Kegiatan pramuka peduli ini berhubungan langsung dengan masyarakat, jadi kami bermaksud menambah pengetahuan dalam mencegah penyakit DBD sekaligus turut ambil bagian dalam membantu pemerintah dalam mensosialisasikan PSN kepada masyarakat di Kabupaten Rembang”jelasnya.

Sementara itu, Sri Yuliastuti pelaksana program di Seksie P2PM (Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular) selaku Narasumber pada acara tersebut memberikan arahan bagaimana cara melakukan PSN dengan 3MPlus.

“Untuk mencegah penularan penyakit DBD dan perkembangbiakan jentik nyamuk, masyarakat diarahkan pada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) seminggu sekali dengan melakukan 3MPlus. Kami juga menghimbau untuk tidak mengandalkan fogging (pengasapan), karena kurang efektif dan efisien untuk membasmi nyamuk. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa sedangkan jentik Aedes sebagai vektor penular DBD hanya bisa diberantas dengan 3M Plus” terangnya kepada para peserta.

Adapun 3MPlus yang dimaksud yakni Menutup tempat penampungan air, Menguras tempat penampungan air, Mengubur/mendaur ulang barang bekas. Menabur bubuk larvasida pada penampungan air yang sulit dibersihkan, Menggunakan kelambu saat tidur, Menghindari menggantung pakaian sembarangan karena bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, Memelihara ikan pemangsa jentik, dan Memantau jentik rutin seminggu sekali.

M. Yusuf berharap dengan adanya koordinasi ini dapat meningkatkan eksistensi komunitas pramuka peduli dan lebih memasyarakatkan gerakan pramuka bahwa pramuka juga bisa berbakti, membangun, dan bersosialisasi.

“Harapan kami pramuka peduli lebih eksis, lebih memasyarakatkan gerakan pramuka, tidak hanya tepuk dan nyanyi saja akan tetapi pramuka juga bisa berbakti, membangun, dan bersosialisasi kepada masyarakat.”harap M. Yusuf.

(HumasDinkesRembang)