Dinkes Lakukan Monev Pelaksanaan PIS-PK

Pada pertengahan bulan Juli 2018 Seksie Yankes melaksanakan monitoring dan evaluasi tingkat kabupaten terhadap pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) di Kabupaten Rembang (16/07).

Dalam pelaksanaan monev tersebut para peserta terdiri dari Kepala Puskesmas dan petugas pengelola data PIS-PK se Kabupaten Rembang serta diikuti lintas program terkait.

“Para peserta monitoring dan evaluasi PIS-PK”

Saat memberikan sambutan Kepala Bidang Yankes dan SDK Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Darmono mengatakan bahwa PIS-PK merupakan kegiatan yang terintegrasi dengan program-program yang sudah ada di Puskesmas sehingga semua pihak harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaanya.

“dalam pelaksanaan PIS-PK merupakan tanggung jawab kita bersama, para petugas puskesmas harus siap bekerja tim, karena pelaksanaan PIS-PK bukan hanya 1 atau 2 petugas saja yang menjalankan. Namun harus berkolaborasi dengan lintas program lainnya yang ada di Puskesmas”jelasnya.

Dilakukannya monitoring dan evaluasi memang sangat penting untuk menilai kemajuan implementasi PIS-PK di masing-masing wilayah kerja Puskesmas dan mengetahui hambatan apa saja  yang dihadapi serta mencari solusi bagi para petugas dalam melakukan pendataan.

“monitoring dan evaluasi PIS-PK ini kami lakukan secara berjenjang guna menilai kemajuan implementasi PIS-PK yang telah dilakukan oleh masing-masing Puskesmas, disamping itu kami ingin mengetahui segala hambatan sekecil apapun saat melakukan pendataan. Sehingga dalam kegiatan monev ini dapat dicarikan solusi dan perbaikan yang nantinya akan mempengaruhi peningkatan implementasi PIS-PK di Puskesmas”ungkap dr. Darmono dalam kegiatan monev tersebut.

“dr.Teguh Panca saat memberikan sambutan dan memaparkan hasil kegiatan survey ke 14 Kecamatan di Kabupaten Rembang”

Sementara itu Kepala Seksie Yankes dr. Teguh Panca menambahkan bahwa dalam menentukan strategi untuk melakukan pendataan keluarga kita serahkan kepada pihak Puskesmas. Karena masing-masing desa memiliki karakter maupun budaya yang berbeda-beda.

Menurut data yang dilansir dari hasil kegiatan PIS-PK yang telah disurvei oleh petugas Puskesmas di 14 Kecamatan Bulan Juni 2018 menunjukkan Kecamatan Sumber (11084 KK), Kecamatan Sulang (6706 KK), Sluke (8490 KK), Kecamatan Sedan (6965 KK), Kecamatan Sarang (4899 KK), Kecamatan Pancur (7578), Kecamatan Pamotan (2906 KK), Kecamatan Lasem (14841 KK), Kecamatan Kragan (6545 KK), Kaliori (3681 KK), Kecamatan Gunem (3681), dan Kecamatan Bulu (belum ditentukan menjadi lokasi fokus oleh pusat).

“kami berharap kepada seluruh Puskesmas di Kabupaten Rembang untuk menyelesaikan survei pada tahun 2018”pungkas dr.Teguh Panca mengakhiri sambutan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi PIS-PK di tingkat Kabupaten Rembang.(HumasDinkesRbg)

Kadinkes Beri Apresiasi dan Pesan Kepada Putra Putri Terbaik SBH

Peran Saka (Perkemahan Antar Satuan Karya Pramuka) ke 3 tingkat Kabupaten Rembang telah selesai dilakukan selama 3 hari 2 malam di bumi perkemahan Karangsari Park, Kecamatan Sumber (10-12 Juli 2018). Dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mengirimkan putra putri terbaiknya pada 1 regu Saka yakni Saka Bakti Husada (SBH).

Saka Bakti Husada (SBH) merupakan salah satu wadah dalam Pramuka untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan khususnya dibidang kesehatan yang bisa diterapkan pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Pada pelaksanaan perkemahan diikuti berbagai Saka Pramuka diantaranya Saka Kalpataru, Saka Bayangkara, Saka Kencana, Saka Wira Kartika, Saka Bina Sosial, dsb.

Tujuan pelaksanaan Peran Saka salah satunya yakni untuk memperkenalkan antar saka yang ada di Kabupaten Rembang. Sehingga bisa menggali potensi masing-masing saka melalui pendalaman krida, dan kegiatan bakti sosial serta berbagai perlombaan yang dikemas secara aktif, kreatif, edukatif, inovatif dan rekreatif.

“tenda SBH yang telah didirikan di bumi perkemahan Karang Sari park, Kecamatan Sumber”

Kepala Seksie Promkes Sarwoko Mugiono,SKM (selaku pelaksana Saka) saat kegiatan perkenalan saka mengungkapkan dalam Saka Bakti Husada (SBH) terdiri dari 6 krida dengan sasaran agar setiap anggota memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman di bidang kesehatan.

“Saka Bhakti Husada memiliki 6 krida diantaranya Krida Lingkungan Sehat, Krida Bina Keluarga Sehat, Krida Penanggulangan Penyakit, Krida Bina Gizi, Krida Bina Obat, Krida Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sementara itu sasaran Saka Bakti Husada kepada setiap anggotanya supaya memiliki ketrampilan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman di bidang kesehatan”jelasnya.

Sementara itu, pada kegiatan perlombaan yang diselenggarakan oleh panitia pelaksana putra putri terbaik dari Saka Bakti Husada mendapat juara pertama dalam lomba pidato Bahasa Jawa, dan menjuarai lomba K3 (Kebersihan, Keindahan, dan Ketertiban).

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii (selaku Kamabisaka) mengucapkan apresiasi dan berpesan kepada putra putri terbaik SBH untuk menjadi agent of change (agen perubahan) dalam memberikan pengetahuan dan ketrampilan tentang kesehatan serta memiliki sikap maupun perilaku hidup sehat, sehingga bisa menjadi contoh teman sebaya, keluarga dan masyarakat di lingkungannya.

“pengarahan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii (selaku Kamabisaka SBH) kepada anggota SBH setelah pelaksanaan Peran Saka ke III di Kabupaten Rembang”

“saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada seluruh adik-adik SBH yang mau meluangkan waktu liburnya untuk mengikuti kegiatan peran saka ini, di samping itu sudah memberikan peran terbaik sehingga dapat menjuarai perlombaan pidato bahasa jawa dan K3 (kebersihan, keindahan, ketertiban)”jelasnya.

Lebih lanjut “Saya berharap kedepannya adik-adik SBH lebih semangat lagi untuk menjadi agent of change dalam memberikan pengetahuan dan ketrampilan tentang kesehatan serta memiliki sikap maupun perilaku sehat, sehingga bisa menjadi contoh teman sebaya, keluarga dan masyarakat di lingkungannya. Selain itu adik-adik juga mau dan mampu untuk menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat”pungkasnya. (HumasDinkesRbg)

 

Orientasi Pelayanan Gizi di Puskesmas, Petugas Diminta Untuk Tingkatkan Kemampuan dan Ketrampilan

Dalam memberikan pelayanan gizi di Puskesmas tenaga kesehatan perlu memahami proses terjadinya masalah gizi. Sehingga dapat menentukan diagnosis dan intervensi gizi dengan cepat dan tepat kepada perseorangan maupun masyarakat. Disamping itu, adanya kerjasama antar profesi (teamwork) juga sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan proses asuhan gizi di Puskesmas.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Kesga & Gizi melakukan kegiatan Orientasi Pelayanan Asuhan Gizi dan Pelatihan E-PPGBM (Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) di tingkat Kabupaten Rembang.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (10-12/07) bertempat di Fave Hotel Rembang. Diikuti oleh 17 tenaga profesi masing-masing Puskesmas yang terdiri dari Bidan dan Petugas Gizi Puskesmas se Kabupaten Rembang. Sementara itu, hadir dalam kegiatan 2 orang Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan 2 orang Narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

“Groufie bersama Petugas Pelayanan Gizi dan Tenaga Kesehatan profesi lainnya yang ikut dalam Kegiatan Orientasi”

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr.Nurani Her Utami dalam sambutannya menyampaikan tujuan kegiatan orientasi asuhan gizi adalah sebagai optimalisasi pelayanan gizi di puskesmas serta meningkatkan kemampuan dan ketrampilan petugas gizi di masing-masing Puskesmas.

“dalam kegiatan orientasi ini kami berharap kepada seluruh tenaga kesehatan dari berbagai profesi yang hadir bisa meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya dalam memberikan pelayanan gizi di puskesmas secara optimal dan lebih baik lagi. Mengingat kasus stunting menjadi prioritas masalah gizi yang harus diselesaikan”jelas Kabid Kesmas.

Pada hari pertama, Sugeng Sutjipto salah satu Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah memaparkan materi berkaitan dengan kebijakan dan konsep dasar proses asuhan gizi di Puskesmas, Kemudian dilanjutkan Imam Subekti Narasumber dari Dinkes Rembang memaparkan materi terkait pemantauan pertumbuhan, status gizi dan penyakit tidak menular dalam proses asuhan gizi.

“dr. Retno Mahartani : Pelaksanaan tugas dan fungsi PKM dalam penyelenggaraan UKP dan UKM termasuk program gizi perlu di dukung manajemen yang terintegrasi dan kolaborasi antar profesi kesehatan lainnya di Puskesmas”

Sedangkan pada hari kedua, dr. Retno Mahartani Narasumber dari Provinsi memaparkan terkait manajemen program gizi, proses pengumpulan, pengolahan, dan analisis data untuk melakukan diagnosis dan rencana intervensi dalam proses asuhan gizi di Puskesmas. Dan pada hari ketiga, Lasmining sebagai Narasumber Dinkes Rembang memaparkan materi terkait tahapan entri data melalui aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

Semenatara itu, Sugeng Sutjipto saat ditemui oleh Tim Humas Dinkes Rembang di hari pertama mengungkapkan dengan adanya kegiatan orientasi ini, ia berharap kepada para petugas supaya lebih ditingkatkan dan dan lebih baik lagi dengan memahami konsep dasar Proses Asuhan Gizi (PAG) yang telah dibekali.

“Sugeng Sutjipto saat menyampaikan materi dalam kegiatan orientasi pelayanan gizi di Puskesmas”

“tentunya dengan adanya kegiatan ini pelayan gizi di Puskesmas harus lebih bagus lagi, harus berdasar pada data, artinya dengan data itu para petugas bisa melakukan pengkajian data, dapat menentukan diagnosis data gizi secara tepat, kemudian menyusun intervensi, sehingga saat merencanakan sebuah program benar-benar sesuai dengan data yang telah dihimpun oleh petugas”jelasnya.

Disamping itu ia juga menyampaikan bahwasanya stunting bisa dicegah, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengentaskan kasus stunting. Khususnya bagi Ibu hamil untuk memperhatikan gizi yang seimbang, jangan sampai dan harus di hindari seorang Ibu hamil menderita kurang gizi, semisal seperti anemia, dan kurang energi kronik (KEK).

“jangan eman terhadap masalah gizi, karena gizi merupakan investasi bagi Ibu hamil. Kalau sampai kurang gizi pada saat masa kehamilan dan sampai bayi usia dua tahun, kedepan tentunya akan terjadi gangguan pada pertumbuhan kecerdasannya, jadi stunting itu secara fisik pendek, tetapi dalam hal ini kalau terjadi saat 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bukan hanya sekedar pendek saja, namun pertumbuhan kecerdasaannya juga akan terganggu”terangnya.

Harapnya “jadi kami mohon kepada masyarakat dan khususnya kepada Ibu hamil untuk memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi. Saat kehamilan seorang Ibu tidak boleh kurang gizi, kemudian ketika sudah melahirkan bayi diberikan makanan yang terbagus dengan ASI eksklusif. Selanjutnya kita berikan makanan pendamping ASI (MPASI) setelah 6 bulan sesuai dengan tahapan-tahapan aturan gizi”pungkasnya.(HumasDinkesRbg)

Sepuluh Desa ABJ Rendah Dilombakan

Dari hasil pemantauan jentik yang telah dilakukan oleh petugas P2 Puskesmas bersama kader kesehatan di 82 desa endemis dan desa suspek DBD yang berada pada wilayah kerja Puskesmas di kabupaten Rembang, terdapat 10 desa dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) terendah.

“Tidak hanya Tim Penilai, namun para Kader Kesehatan di Desa turut melakukan pemantauan”

Diantaranya, Menoro (Sedan), Sambiroto (Sedan), Wonokerto (Sale), Tahunan (Sale), Gading (Sale) Pandangan Kulon (Kragan 2), Babadan (Kaliori), Tasiksono (Lasem), Logede (Sumber), dan Ketangi (Pamotan). Rata-rata kondisi ABJ di 10 desa tersebut kurang dari 61 persen.

Sri Yuliastuti,SKM selaku pelaksana program DBD pada Seksie P2P Dinkes Rembang menjelaskan bahwa lomba desa bebas jentik kali ini dilaksanakan berbeda dengan tahun sebelumnya. Di tahun sebelumnya desa yang dilombakan adalah desa ABJ tertinggi, namun untuk tahun 2018 desa yang dilombakan adalah desa dengan ABJ terendah.

“kali ini memang lomba desa bebas jentik kita buat berbeda, tahun kemarin desa dengan ABJ tinggi, namun tahun ini desa dengan ABJ terendah yang dilombakan. Dengan adanya lomba ini kami berharap peran masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan cara mencegah dan mengendalikan populasi vektor nyamuk penular DBD”jelasnya.

“Tim Penilai dari Dinas Kesehatan saat memantau jentik bak mandi di rumah warga”

Angka kesakitan DBD pada tahun 2017 adalah 2,4/100.000 penduduk dan angka kematian 0 persen. Dengan adanya target angka kesakitan <30/100.000 penduduk dan angka kematan <1 persen. Meski angka kesakitan dan kematian turun drastis pada tahun 2017, namun pada tahun ini upaya pengendalian dan pencegahan harus tetap dilakukan secara rutin.

Kepala Seksie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Rembang dr. Johanes Budhiadi saat melakukan verifikasi di Desa Logede (05/07), mengungkapkan dalam melakukan pencegahan penularan penyakit DBD yang paling efektif dan efisien adalah dengan menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“PSN merupakan sebuah kegiatan memberantas jentik nyamuk pada tempat berkembang biaknya aides aegyptie. Kegiatan tersebut meliputi 3MPlus (Menguras bak air/ bak mandi, Menutup penampungan air, Mengubur barang bekas, Memberikan ikan pemakan jentik nyamuk pada penampungan air, dan Memakai obat anti nyamuk maupun Menggunakan kelambu”ungkap dr. Jhon.

Dengan adanya kegiatan penilaian lomba desa dengan ABJ terendah ini, diharapkan warga masyarakat bisa termotivasi untuk melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin. Sehingga Angka Bebas Jentik (ABJ) yang ada di desa endemis dan dengan kasus DBD pada wilayah kerja Puskesmas di Kabupaten Rembang meningkat diatas atau sama dengan 95 persen.(HumasDinkesRbg)

24 Desa Tersisa, Verifikasi ODF Tahun Ini Diharapkan menjadi Verifikasi Terakhir

Tim Verifikasi ODF Kabupaten Rembang mulai Selasa pagi (03/07) melakukan verifikasi ke 24 desa yang belum ODF. Verifikasi ODF yang kesekian kalinya adalah tindaklanjut hasil Verifikasi ODF tingkat kecamatan yang sudah terlaksana beberapa waktu lalu dengan melihat secara langsung jambanisasi dan perubahan perilaku buang air besar di rumah warga serta melihat lingkungan dekat sungai dan bibir pantai.

“Tim Verifikator saat meninjau lingkungan dibibir pantai”

Dalam verifikasi ODF kali ini menitik beratkan kepada desa yang belum ODF dengan melihat keseriusan desa untuk mengentaskan masyarakatnya supaya tidak buang air besar sembarangan (BABS). Disamping itu peran dari masyarakat dalam merubah perilaku untuk tidak BABS juga sangat diperlukan. Mengingat Rencana Aksi Daerah (RAD) Percepatan Kabupaten Rembang untuk menjadi Kabupaten ODF Tahun 2017 belum terwujud.

Tim Verifikasi ODF tingkat Kabupaten Rembang juga sudah memberi kesempatan kepada pihak pemerintah desa supaya memperbaiki kekurangan akses jambanisasi yang ada di masing-masing desa. Peran desa memang sangat penting dalam mensukseskan desa ODF, selain melakukan jambanisasi, pihak desa juga diharapkan untuk menggencarkan warganya agar tidak buang air besar sembarangan (babs).

Kepala Seksie Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Kesehatan Olahraga Dinkes Rembang Al-Furqon,SKM membenarkan bahwa Kabupaten Rembang dalam mencapai Kabupaten ODF belum bisa terwujud sampai dengan proses verifikasi ODF di tahun 2018 ini selesai.

“memang benar kalau Kabupaten Rembang belum dapat mencapai Kabupaten ODF. Sebenarnya kalau hanya simbolis saja kita sudah bisa mencapai Kabupaten ODF, namun dari pihak kami tidak menginginkan sebatas simbol ODF sekedarnya saja, akan tetapi kami lebih mengedepankan kualitas dan berdasarkan data yang valid sesuai kondisi di lapangan serta hasil verifikasi dari provinsi Jawa Tengah”jelas Al-Furqon.

Selain itu Al-Furqon juga menejelaskan “Tim verifikator tidak hanya berhenti pada verifikasi ODF saja, di sisi lain akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perilaku warga masyarakat agar tidak mengulangi perilaku kurang sehat yakni buang air besar secara sembarangan”imbuhnya.

Presentase desa ODF di Kabupaten Rembang  saat ini sudah mencapai 98,83 persen, dari total 294 desa/kelurahan di Kabupaten Rembang, sebanyak 270 desa/kelurahan sudah dinyatakan ODF. Jadi masih menyisahkan 24 desa/kelurahan yang belum ODF (dilansir dari data STBM Smart Publik).

“Presentase Akses Sanitasi di Kabupaten Rembang yang dilansir dari Aplikasi STBM Smart Publik”

24 desa tersebut diantaranya Desa Pandangan Kulon (Kragan), Desa Banowan (Sarang), Desa Sale (Sale), Desa Kedungasem (Sumber), Desa Sendangmulyo (Sarang), Desa Terjan (Kragan), Desa Labuhan (Sluke), Desa Bajingjowo (Sarang), Desa Karanganyar (Kragan), Desa Sarangmeduro (Sarang), Desa Tegalmulyo (Kragan), Desa Jadi (Sumber), Desa Tlogotunggal (Sumber), Desa Sendangagung (Kaliori).

Kemudian Desa Karangmangu (Sarang), Desa Temperak (Sarang), Desa Plawangan (Kragan), Desa Grawan (Sumber), Desa Kaliombo (Sulang), Desa Sekarsari (Sumber), Desa Gunungsari (Kaliori), Desa Maguan (Kaliori), Desa Lodan Wetan (Sarang), dan Desa Kebonagung (Sulang).

“setelah verifikasi ODF selesai dilakukan oleh Tim Verifikasi tingkat Kabupaten Rembang, selanjutnya dari pihak Kabupaten akan bersurat ke Provinsi untuk melangsungkan verifikasi ODF di Kabupaten Remabng, sehingga Kabupaten Rembang bisa mencapai Kabupaten ODF di Tahun 2018”ungkap Al-Furqon ketika melakukan Verifikasi ODF di Kecamatan Sumber pada Rabu pagi (04/07).

Diharapkan Verifikasi ODF tahun ini merupakan Verifikasi tahun terakhir, akan tetapi menjadi awal pelaksanaan pilar STBM yang baru dan lebih meningkatkan lagi kinerja yang telah dilakukan untuk mensukseskan pilar STBM selanjutnya. Dan bagi desa/kelurahan yang sudah ODF supaya tidak terlena dengan status ODF, justru harus meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat supaya masyarakat lebih sehat.(HumasDinkesRbg)

Halal Bi Halal Keluarga Besar Dinas Kesehatan Rembang “Pererat Tali Silaturahmi dan Mari Tingkatkan Profesionalisme Kerja”

Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan Meningkatkan Profesionalisme kerja seusai cuti lebaran tahun 2018, seluruh karyawan di lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang pada Senin pagi (02/07) mengikuti acara halalbihalal yang berlangsung di Aula Utama Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

Sambutan Kadinkes Rembang saat Halalbihalal

Pada acara halalbihalal dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii, seluruh pejabat struktural Dinkes Rembang, Kepala Puskesmas dan Kasubag TU Puskesmas se Kabupaten Rembang, serta seluruh staf maupun karyawan yang bekerja di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

Disamping acara halalbihalal, pada kesempatan tersebut dilangsungkan pelepasan purna bhakti salah satu pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan Rembang yang telah memasuki masa pensiun terhitung mulai tanggal 01 Juni 2018.

Pemberian kenang-kenangan oleh Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii kepada Bapak Ngasmin yang telah memasuki Purna Bakti

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam momentum acara halalbihalal ini mari kita pererat tali silaturahmi sehingga terjalin kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang lebih baik untuk menjaga kekompakan dalam melakukan pekerjaan.

“dalam momentum halalbihalal ini kita jadikan ajang untuk mempererat tali silaturahmi dengan meningkatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang lebih baik sehingga bisa menjaga kekompakan dan meningkatkan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada warga masyarakat Rembang”jelas dr. Ali.

Diakhir acara, seluruh karyawan berbaris rapi untuk berjabat tangan satu sama lain dan saling memaafkan dilanjutkan ramah tamah dengan bernyanyi dan menikmati hidangan yang telah tersedia.(HumasDinkesRembang)

Cegah dan Kendalikan PTM Melalui GERMAS dengan Perilaku CERDIK dan PATUH

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii saat memberikan sambutan sekligus membuka acara sosialisasi Germas

Hidup sehat merupakan dambaan bagi setiap orang, namun seiring berkembangnya zaman dan teknologi yang begitu pesat membuat setiap orang kurang memperhatikan kondisi kesehatannya. Tidak hanya orang-orang dewasa saja, bahkan remaja sekarang ini cenderung kurang mementingkan gaya hidup sehat.

Oleh sebab itu, pada kesempatan acara Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang diselenggarakan di Gedung KPRI kecamatan Kaliori Rembang pada hari Minggu (01/07), secara khusus mengajak masyarakat untuk menjaga gaya hidup sehat.

Acara Sosialisasi dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii, dihadiri oleh Anggota Komisi IX DPR RI Dapil III Jateng Sri Wulan,SE bersama perwakilan dari Ditjen P2P Kemenkes RI, Muspika Kaliori, Kepala Puskesmas se Kabupaten Rembang dan puluhan warga masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Kaliori.

Narasumber dari Ditjen P2P Kemenkes Republik Indonesia saat menyampaikan materi terkait dengan pencegahan dan pengendalian PTM

“terjadinya perubahan gaya hidup masyarakat karena kurangnya perhatian terhadap kesehatan diri sendiri maupun keluarga menjadi salah satu penyebab terjadinya transisi epidemiologi (pergeseran penyakit) dari penyakit menular yang pada saat tahun 90an merupakan penyakit terbanyak, ternyata pada era sekarang penyakit tidak menular (PTM) menduduki peringkat tertinggi”ungkapnya dr. Ali Syofii.

Lebih lanjut, “oleh karena itu kami menghimbau dan mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular dengan gerakan masyarakat hidup sehat yang berfokus pada peningkatan perilaku CERDIK dan PATUH, yang dimulai dari diri sendiri, keluarga terdekat, dan masyarakat”pungkasnya.

Senam Peregangan disela-sela acara sosialisasi Germas.

Kalau hanya mengandalkan dari sektor kesehatan saja mungkin peran kami belum bisa merubah perilaku gaya hidup sehat masyarakat, namun dibutuhkan kemauan dan kesadaran tiap individu serta peran sektor dari lembaga maupun organisasi terkait untuk mempraktekkan pola hidup sehat.

Sementara itu, yang dimaksud perilaku CERDIK adalah Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin berolahraga, Diet Seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola Stres. Sedangkan PATUH, Periksa Keseharan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur, Tetap diet dengan gizi seimbang, Upayakan aktifitas fisik dengan aman, Hindari asap rokok, alkohol dan zat karsinogenik (penyebab kanker) lainnya. Perilaku PATUH harus dilakukan bagi yang sudah menyandang PTM.

Pada penghujung acara, Anggota Komisi IX DPR RI Sri Wulan selain memaparkan terkait tugas pokok dan fungsi (tupoksi) selaku anggota dewan dimana ia ditugaskan, menghimbau supaya warga masyarakat khususnya di Kabupaten Rembang agar dapat menerapkan pola hidup sehat.

Sri Wulan, Anggota Komisi IX DPR RI

“jadi pada momentum acara sosialisasi ini saya berharap kepada warga masyarakat Rembang bisa mengambil ilmu yang telah disampaikan dari narasumber (Ditjen P2P) serta dapat menambah pengetahuannya khususnya di bidang kesehatan, supaya memiliki kesadaran dan kemauan untuk bergaya hidup sehat”pungkasnya.

Bimtek SDMK di Puskesmas

Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan diperlukan adanya Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) yang bermutu dan profesional sesuai dengan standarisasi maupun kompetensi yang dibutuhkan di masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan.

Oleh sebab itu, untuk mengetahui ketersediaan data SDMK dan sekaligus upaya melakukan pemetaan jumlah dan jenis tenaga secara merata pada masing-masing Puskesmas di Kabupaten Rembang, Seksi Sumber Daya Manusia Kesehatan Dinkes Rembang melakukan bimtek di 17 Puskesmas se Kabupaten Rembang.

Kegiatan Bimtek dilakukan pada Selasa pagi (26/06) di dua Puskesmas yang berada di ujung timur Kabupaten Rembang, yakni  Puskesmas Sarang 1 dan Puskesmas Sarang 2.

“pada bimtek ini, tim kami ingin memantau secara langsung data sdmk untuk serta menginventarisasi masalah-masalah yang menjadi kendala petugas dalam pengumpulan data melalui aplikasi yang ada dan mengevaluasi kekurangan laporan yang harus dilaporkan sebagai dasar untuk pemetaan SDMK di Puskesmas”ungkap Kasie Sumber Daya Manusia Kesehatan Anggraini Lestari.

Sementara itu, bimtek dilakukan sebagai proses berkelanjutan guna mendapatkan informasi data SDMK di wilayah Kabupaten Rembang dan digunakan dasar perencanaan kebutuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) yang ada di setiap fasilitas layanan kesehatan. (HumasDinkesRbg)

Budayakan Germasif Untuk Tingkatkan ASI Eksklusif

Upaya promotif preventif dalam menurunkan angka kematian bayi (AKB) dan stunting akibat gizi buruk  salah satu cara termurah dan termudah yakni dengan memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi berumur nol bulan sampai 6 bulan.

ASI Eksklusif merupakan pemberian air susu ibu tanpa makanan dan minuman tambahan lainnya pada bayi berumur nol sampai 6 bulan. Menurut WHO Keseimbangan zat-zat gizi dan kandungan nutrisi pada air susu ibu berada pada tingkat terbaik dan mencukupi untuk kebutuhan bayi baru lahir.

Oleh sebab itu, guna meningkatkan cakupan ASI Eksklusif yang ada di Kabupaten Rembang, Dinas Kesehatan Rembang akan memberikan piagam penghargaan kepada warga masyarakat Rembang khususnya bagi ibu-ibu berkomitmen untuk mendukung dan membudayakan Gerakan Masyarakat ASI Eksklusif (Germasif).

“bagi masyarakat rembang khususnya ibu-ibu yang berkomitmen untuk mendukung germasif ini kami akan memberikan piagam penghargaan (exclusive breastfeeding certificate) sebagai bentuk apresiasi karena telah membantu dan memberikan perhatiannya dalam upaya penurunan kasus stunting dan mencegah gizi buruk di Kabupaten Rembang”jelas Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii saat ditemui oleh Tim Humas Dinkes di ruang kerjanya, Kamis (24/05).

Dalam pelaksanaannya tenaga kesehatan dan kader kesehatan desa melalui posyandu akan melakukan monitoring dan pada saat kunjungan antenatalcare (ANC). Kemudian dilakukan interview atau wawancara untuk memverifikasi ibu memberikan ASI Eksklusif, dan selanjutnya sesuai dengan penilaian dari tenaga kesehatan dinyatakan lulus atau tidaknya.

“kalau dinyatakan lulus ASI Eksklusif atau setelah 6 bulan bayi akan dikenalkan MPASI (Makanan Pendamping ASI), MPASI merupakan makanan padat yang diberikan untuk bayi, agar kelengkapan gizinya bisa terpenuhi, namun perlu diperhatikan tanda-tanda kesiapan bayi untuk menerima makanan padat seperti bisa mengendalikan lidah dengan baik, mulai bisa gerakan mengunyah, dan memiliki hobi memasukkan apapun ke dalam mulut”ungkap Imam Subekti selaku programmer Gizi Dinkes Rembang saat diwawancarai oleh Tim Humas Dinkes Rembang.

Untuk itu diharapkan bagi ibu-ibu yang ingin mengetahui seputar ASI Eksklusif dan berhasil memberikan ASI Eksklusif kepada buah hatinya selama umur nol sampai 6 bulan, serta mendapatkan piagam penghargaan bisa segera menghubungi puskesmas terdekat. (HumasDinkesRbg)

Peringati HLUN Tahun 2018 di Rembang, Dinkes Gelar Jambore Lansia Dengan Berbagai Perlombaan

Memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang jatuh pada tanggal 29 Mei setiap tahunnya, Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Kesehatan menyelenggarakan Jambore Lansia Nasional dengan Tema “Lansia Sejahtera, Masyarakat Bahagia”.

Jambore HLUN di Rembang

“Lansia Sejahtera, Masyarakat Bahagia”

Jambore lansia berlangsung pada hari Sabtu pagi (12/05) bertempat di Fave Hotel Rembang. Kegiatan jambore lansia diikuti 170 peserta yang mana setiap puskesmas mengikutkan 10 lansia. Berbagai kegiatan seperti perlombaan dan sosialisasi pun digelar.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii selaku Pembina kegiatan mengatakan maksud maupun tujuan dilaksanannya kegiatan jambore lansia .

“adanya kegiatan jambore ini sebagai ajang silaturahmi antar lansia, sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap lansia, menambah pengetahuan dan wawasan dalam rangka pencegahan penyakit pada lansia, serta sebagai upaya mewujudkan lansia tangguh dan sejahtera”katanya.

Jambore HLUN di Rembang

“Wabup Rembang Bayu Andriyanto, SE saat memberikan sambutan dihadapan para peserta yang terdiri dari banyak Lansia”

Sementara itu, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, SE dan selaku Ketua Komda Lansia dalam, sambutannya menyampaikan terkait dengan kampanye kesehatan lansia pada periode Mei-Juni 2018 secara serentak.

“Sehubungan dengan hal lansia sehat, mandiri, diwujudkan dari keluarga sehat, maka saya harap Bapak dan Ibu semua dapat melakukan kampanye kesehatan lanjut usia pada periode Mei-Juni 2018 secara serentak, dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS), sehingga dapat terwujud lansia yang sehat dan produktif”ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan ini harapannya bisa meningkatkan pengetahuan dan wawasan supaya menjadi Lansia yang tangguh, tetap sehat, dan aktif secara fisik, mental maupun sosial. (HumasDinkesRbg)