Pertemuan Koordinasi : Linsek dan Linprog Dalam Rangka Penurunan AKI/AKB, Stunting, dan Gizi Buruk di Kabupaten Rembang

Dalam menekan angka kematian bayi di Kabupaten Rembang diperlukan adanya kerjasama dan koordinasi antar lintas sektoral maupun lintas program.

Permasalahan mengenai AKI dan AKB di Kabupaten Rembang disebabkan karena berbagai faktor, diantaranya stunting, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), dan bayi  kurang gizi (gizi buruk).

Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Rembang melaksanakan pertemuan koordinasi lintas program dan lintas sektoral dan lintas program dalam rangka  penurunan AKI / AKB Stunting dan Gizi Buruk.

Dalam pertemuan koordinasi secara teknis dilakukan oleh Seksie Kesehatan Keluarga (Kesga) dan Gizi di meeting room Fave Hotel pada Kamis pagi (21/12/2017).

Para peserta terdiri dari lintas sektor terkait dan lintas program serta Kepala Puskesmas se Kabupaten Rembang”

Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii memaparkan masih adanya permasalahan yang menjadi penyebab kematian ibu dan bayi, stunting, dan gizi buruk. Diantaranya status kesehatan bumil masih rendah.

“Kaidnkes Rembang dr. Ali Syofii ketika memberikan paparan”

“di Rembang pernikahan dini dan persalinan remaja masih cukup tinggi, deteksi dini kegawatdaruratan maternal, neonatal, belum optimal, pola asuh, asah, dan asih anak di rumah masih sangat kurang, cakupan ASI eksklusif enam bulan masih sangat rendah”paparnya.

Selain itu lanjutnya “masih ada Ibu Hamil 4T yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat dan terlalu banyak sehingga banyak yang mengalami resiko pada saat melahirkan”terangnya.

Dengan adanya pertemuan koordinasi ini diharapkan adanya peningkatan kerjasama yang lebih baik dengan lintas program dan lintas sektoral untuk mendukung pelaksanaan kegiatan kesehatan Ibu dan dan anak demi terwujudnya penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Rembang.

(HumasDinkesRembang)

Tim Pengawas Pangan Agar Masyarakat Ingat CekKLIK

Tim Pengawas Pangan Dinas Kesehatan Rembang menyambangi berbagai toko tradisional dan modern di sepanjang jalan pantura Rembang. Hal tersebut dilakukan untuk mengawasi peredaran produk makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya dan sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

Disamping itu,  Tim juga melakukan edukasi kepada karyawan maupun pemilik toko terkait dengan obat-obatan yang belogo biru dan Kosmetik yang belum berijin (harus bertuliskan NA pada label).

“Pengecekan produk di toko tradisional oleh salah seorang tim pengawas dari Dinkes Rembang”

“Purnomo, salah satu tim pengawas pangan sedang memilah produk untuk dilakukan pengecekan”

“kami perwakilan dari tim pengawas pangan Dinkes Rembang hari ini Senin (20/12/2017) menggelar pengawasan terhadap peredaran makanan dan minuman ke sejumlah toko tradisional maupun toko modern di sepanjang jalan pantura Rembang”terang Soesi.

Masih kata Soesi “tiap jelang natal dan tahun baru tim kami akan terus melakukan pengawasan karena banyak produk makanan dan minuman yang beredar, selain itu banyak juga warga masyarakat biasanya membeli makanan atau minuman ditoko modern maupun tradisional disepanjang jalan pantura Rembang, kita ingin memastikan bahwa produk yang dijual itu aman digunakan dan dikonsumsi oleh pembelinya”jelas Soesi Haryanti.

Dari hasil pengawasan oleh Tim pengawas peredaran makanan dan minuman, masih banyak dijumpai produk pangan dan minuman yang tidak layak untuk dikonsumsi. Seperti banyaknya produk yang sudah expired date (ED),  kemasan produk rusak, dan banyak obat-obatan berlogo biru dijual bebas di toko tersebut serta adanya kemasan kosmetika yang rusak. Produk makanan dan minuman yang sudah ED langsung dimusnahkan atau dibuang atas ijin dari karyawan atau pemilik toko.

“Beda Logo Obat”

“mengenai penjualan obat yang berlogo biru, obat tersebut tidak boleh dijual sembarangan, karena bisa disalahgunakan oleh penggunanya, namun kalau toko tersebut memiliki keinginan untuk menjual obat-obatan berlogo biru, pihak toko harus mempunyai seorang Apoteker ataupun Asisten Apoteker yang nantinya dapat memberikan pemahaman mengenai dosis ataupun penggunaan obat tersebut”jelas Soesi saat mengedukasi salah seorang karyawan ditoko modern.

Disamping itu masyarakat juga diharapkan dapat menjadi konsumen yang cerdas dalam membeli dan mengkonsumsi makanan atau minuman. Selalu ingat CekKLIK (cek kemasan dalam kondisi baik, baca informasi produk pada label, pastikan memiliki izin edar, dan cek masa kedaluwarsanya).

Cek ijin edar dari BPOM RI ini dapat dilihat melalui smartphone, dengan mendownload aplikasi “CekBPOM” di playstore, setelah itu tulis nomer ijin edarnya dan cari melalui aplikasi tersebut. Nanti aplikasi tersebut akan menunjukkan detail produk dan perusahaan yang telah memproduksi.

“Mari kita peduli terhadap produk makanan, minuman, obat-obatan yang beredar di sekitar kita, karena pengawasan produk-produk tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama”terang Soesi kepada Tim Humas Dinkes Rembang.

Delapan Desa di Rembang Ikuti Proses Pra Verifikasi ODF

Tim Verifikasi desa ODF Provinsi Jawa Tengah mendatangi Dinas Kesehatan Rembang pada Senin pagi (18/12/2017). Kedatangan Tim Verifikasi ini guna melaksanakan pra verifikasi desa ODF di Kabupaten Rembang sebagai tindaklanjut mencapai kabupaten ODF.

Penyambutan dilakukan di Aula Dinas Kesehatan Rembang oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dan Tim verifikasi dari Kabupaten Rembang. Tim Verifikasi dari Provinsi Jawa Tengah berjumlah 21 orang yang akan terbagi menjadi 8 tim bersama tim verifikasi ODF kabupaten untuk meninjau langsung di delapan desa yang sudah ditentukan.

Delapan desa tersebut diantaranya Sumbergirang (Kecamatan Lasem), Gegunung Wetan (Kecamatan Rembang), Wuwur (Kecamatan Pancur), Sendangagung (Kecamatan Kaliori), Segoromulyo (Kecamatan Pamotan), Kaliombo (Kecamatan Sulang), dan Tegaldowo (Kecamatan Gunem).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii berharap dengan adanya tim verifikasi dari Provinsi Jawa Tengah bisa membantu Tim Verifikasi desa ODF kabupaten Rembang dalam verifikasi desa ODF dan memberikan mengedukasi kepada masyarakat yang masih BABS dan belum menggunakan jamban sehat.

“Penyambutan Tim Verifikasi Desa ODF dari Provinsi Jawa Tengah dilanjutkan dengan paparan dari Kadinkes Rembang dr.Ali Syofii”

“tentunya kami berharap dengan hadirnya Tim Verifikasi Desa ODF dari Provinsi ini dapat membantu Tim verifikasi desa ODF Kabupaten dalam verifikasi atau melihat langsung kondisi desa ODF, sehingga dapat tercapai Kabupaten Rembang ODF, disamping itu Tim Verifikasi juga kami minta untuk terus mengedukasi masyarakat Rembang yang masih BABS dan belum memiliki jamban sehat”ungkap dr.Ali.

Begitu pula disampaikan oleh Ketua Tim Verifikasi dari Provinsi, I Made Dewa, SKM, MKes, Khusus untuk Kabupaten Rembang untuk tetap meningkatkan kualitas jambannya meskipun dalam kondisi sederhana, namun masyarakat harus tetap sehat.

“kami mewakili Tim Verifikasi desa ODF Provinsi Jawa Tengah berharap khusus di Kabupaten Rembang agar tetap meningkatkan kualitas akses jamban yang ada dirumah warga, meskipun jamban dalam kondisi sederhana masyarakat harus diedukasi supaya tetap menjaga kesehatan lingkungan maupun keluarganya sendiri”terang Dewa.

Dalam mewujudkan Kabupaten Rembang menjadi kabupaten ODF tentu sangat tidak mudah, membutuhkan waktu, kerja keras, dan berbagai langkah yang luar biasa dalam mengedukasi masyarakat supaya masyarakat mau dan mampu untuk Stop Buang Air Besar Sembarangan dan menggunakan jamban yang sehat.

Sambut Tim Verifikasi Desa ODF Provinsi Jawa Tengah Dengan Perilaku Stop BABS

Seperti yang disampaikan oleh Kadinkes Rembang dr.Ali Syofii pada saat acara Pencanangan Germas di Kecamatan Kragan bahwa Pemkab Rembang akan kedatangan Tim Verifikasi Desa ODF dari Provinsi Jawa Tengah.

“pada tanggal 18/12/2017 nanti, Pemkab Rembang akan kedatangan Tim Verifikasi Desa ODF dari Provinsi Jawa Tengah, mereka akan melakukan verifikasi atau peninjauan langsung ke berbagai Desa secara acak guna memastikan bahwa desa yang ada diwilayah Kabupaten Rembang sudah benar-benar ODF”ungkap dr. Ali.

Terpisah, menurut Kasie Kesling Kesja Or Al Furqon sesuai dengan pesan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengatakan Tim Verifikasi Desa ODF berjumlah 30 orang. Tim tersebut nanti terbagi ke delapan desa diberbagai kecamatan dengan mengambil lokasi daerah pantai, pegunungan, dan daerah yang dialiri sungai.

“Al-Furqon bersama Anggota TNI dan warga saat melakukan Verifikasi di salah satu desa, dan menunjukkan jamban sehat”

“meneruskan pesan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bahwa akan adanya Tim Verifikasi Desa ODF berjumlah 30 orang, nanti tim verifikasi akan melakukan peninjauan secara langsung di delapan desa secara acak, dan kami belum mengetahuinya, namun mereka akan mengambil lokasi daerah pantai, pegunungan dan daerah yang dialiri sungai”jelas Al-Furqon.

Dengan adanya verifikasi ini, dr. Ali Syofii berharap kepada segenap pihak baik dari Pemerintah Kabupaten Rembang maupun seluruh komponen masyarakat untuk mempersiapkan kehadiran adanya Tim Verifikasi. Sehingga didalam verifikasi desa ODF dapat berhasil dan tercapai Kabupaten Rembang sebagai Kabupaten ODF.

(HumasDinkesRbg)

 

Bupati Rembang Canangkan Germas di 2 Wilayah Kerja Puskesmas

Untuk mendukung gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) sesuai instruksi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Kesehatan telah mendeklarasikan Germas saat acara Puncak Hari Kesehatan Nasional ke 53 di Alun-alun Kota Rembang.

“Ibu Hj. Hasiroh Hafidz ikut senam bersama lho”

Menindaklanjuti hal tersebut 2 Puskesmas yakni Kragan 1 dan Kragan 2 mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Kecamatan Kragan yang bertempat di Pantai Indah Mbalongan Kecamatan Kragan, Minggu pagi (10/12/2017). Senam pagi dan adanya hiburan bagi masyarakat dan pengunjung pantai menambah semaraknya acara pencanangan germas.

“kami ditiap kesempatan terus menggelorakan semangat gerakan masyarakat hidup sehat ini, jauh sebelum adanya pencanangan ini Bapak Bupati Rembang pun senantiasa menggelorakan semangat germas baik diberbagai kesempatan formal maupun non formal”ungkap dr.Ali Syofii saat memberikan sambutan dipanggung kehormatan.

Kadinkes Rembang : “Ayo mulai kita tinggalkan perilaku buruk kita yang menyebabkan penyakit terhadap diri dan keluarga kita”

Beliau juga mengajak seluruh masyarakat membudayakan hidup sehat “mari kita semua budayakan hidup bersih dan sehat dimulai dari hal kecil seperti menjaga kebersihan rumah, melakukan cuci tangan pakai sabun sebelum makan, makan buah dan sayur yang cukup, melakukan olahraga minimal 30 menit sehari, istirahat yang cukup, dan kurangi merokok”jelasnya.

Terkait dengan upaya mensukseskan misi Bupati Rembang dalam mencapai Kabupaten Rembang Stop Buang Air Besar Sembarangan (ODF), dr. Ali Syofii meminta arahan, motivasi dari Bupati Rembang supaya masyarakat dapat terbangun kesadaran dan kemauannya untuk Stop Buang Air Besar Sembarangan.

Pada pencanangan ini Bupati Rembang menyampaikan arahan sekaligus memberikan motivasi kepada seluruh lapisan masyarakat untuk merubah perilaku dan gaya hidup untuk lebih sehat.

“dengan masyarakat yang sehat dari sisi pandangan ekonomi pun dapat menekan cost atau biaya yang dikeluarkan untuk berobat”ungkap Bupati Rembang.

Sedangkan untuk mencapai Rembang ODF, Bupati Rembang mengajak kepada seluruh stakeholder baik yang ada di desa, di kecamatan maupun yang ada di Kabupaten untuk mengeroyok dan menyatukan pemikiran bersama dengan berbagai upaya dan strategi untuk menuntaskan desa yang belum lolos ODF.

“saya minta kepada seluruh stakeholder serta masyarakat untuk mendukung Pemkab Rembang dalam mencapai kabupaten ODF, ayo kita keroyok dan satukan pemikiran kita dengan upaya-upaya dan strategi yang jitu untuk menuntaskan desa yang belum lolos ODF ini, kami dari Pemkab Rembang akan memberikan reward kepada desa yang telah lolos ODF, yang penting action kita dulu”ajak Bupati kepada seluruh lapisan masyarakat dan dicanangkan pula germas di kecamatan Kragan.

“Mari kita berusaha dan berdoa bersama untuk Rembang yang lebih Madani”

Pencanangan gerakan masyarakat hidup sehat ditandai dengan penandatanganan Bupati Rembang H. Abdul Hafidz pada media papan yang sudah dipersiapkan pihak puskesmas. Setelah Bupati, dilanjutkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr.Ali Syofii, Kepala Puskesmas Kragan 1 dan Kragan 2, Muspika Kecamatan Kragan, dan seluruh tamu undangan yang hadir dalam acara pencanangan gerkan masyarakat hidup sehat (Germas).

(HumasDinkesRbg)

Saya Berani Saya Sehat, Ayo Dukung dan Wujudkan Three Zero

Hari Aids Sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember. Di tahun 2017 ini Peringatan Hari Aids Sedunia mengambil tema “Saya Berani Saya Sehat”. Tema ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian seluruh masyarakat terhadap HIV/AIDS dengan cara melakukan tes HIV.

Berbagai kegiatan pun digelar dalam acara puncak peringatan Hari Aids Sedunia (HAS) tahun 2017. Diantaranya jalan sehat dan pemeriksaan HIV/AIDS yang dilakukan oleh Tim PKVHI (Persatuan Konselor VCT HIV Indonesia) Kabupaten Rembang.

“Tim PKVHI Kabupaten Rembang yang berpose 3 jari, yang artinya Mendukung dan Siap Mewujudkan Three Zero Point”

Puncak acara HAS di Rembang tahun ini digelar di Alun-alun kota, pada Jum’at pagi (08/12/2017). Bupati Rembang H.Abdul Hafidz menuturkan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Rembang masih sangat memprihatinkan bahkan dari tahun ke tahun cenderung bertambah.

“kita harus prihatin karena kasus HIV/AIDS di Rembang ini dari tahun ke tahun cenderung bertambah, sejak tahun 2004 hingga 2016 jumlah total penderita HIV/AIDS 312 kasus, sedangkan sampai bulan Desember Minggu kedua tahun 2017 bertambah menjadi 438 kasus”terang Bupati pada pidatonya.

Dari data Seksie P2 Dinas Kesehatan Rembang sejak 2004 hingga Minggu kedua Desember 2017, jumlah penderita HIV sebanyak 155 kasus dan jumlah AIDS 283 kasus, dengan jumlah estimasi 817 kasus HIV/AIDS. Namun jumlah kasus tersebut diyakini baru sebagian kecil dari jumlah kasus yang ada di Kabupaten Rembang. Jadi, masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum teridentifikasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii saat ditemui oleh tim Humas Rembang mejelaskan tujuan Pemerintah dalam mencegah dan pengendalian kasus HIV/AIDS untuk mencapai target Three Zero pada tahun 2030.

“komitmen Pemerintah dalam mewujudkan target Three Zero tahun 2030 yaitu Tidak ada penularan HIV, Tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA)”terang dr. Ali saat ditemui oleh Tim Humas Dinkes Rembang sebelum dimulainya acara.

“Bupati dan Kadinkes Rembang beserta jajaran dari PKVHI : Salam Three Zero Point”

Disamping itu, meneruskan pesan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, adapun hal-hal yang harus di ingat oleh masyarakat untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran virus HIV/AIDS. Diantaranya; Bagi yang belum pernah melakukan perilaku berisiko, pertahankan perilaku aman (dengan tidak melakukan perilaku seks berisiko atau narkoba suntik), Bila sudah pernah melakukan perilaku berisiko, lakukan tes HIV segera!.

Selanjutnya, Bila tes HIV negatif, tetap berperilaku aman dari hal-hal yang berisiko menularkan HIV, Bila tes HIV positif, selalu gunakan kondom saat berhubungam seksual, serta patuhi petunjuk dokter dan minum obat ARV, agar hidup tetap produktif walaupun positif HIV, Jika bertemu ODHA, bersikap wajar dan jangan mendiskriminasi atau memberikan cap negatif, dan berikan dukungan.

Dan apabila berinteraksi dengan ODHA, jangan takut tertular, karena virus HIV tidak menular baik itu melalui sentuhan, keringat, maupun berbagi makanan. HIV hanya menular melalui cairan kelamin dan darah.

“Bupati Rembang lakukan tes HIV seusai Jalan Sehat bersama warga masyarakat Rembang”

Puncak kegiatan ditutup dengan Jalan Sehat dan sebanyak 37 peserta dari berbagai kalangan, melakukan Pemeriksaan HIV/AIDS. Bupati Rembang turut melakukan Pemeriksaan, dan memberikan pesan kepada masyarakat agar “jangan takut untuk melakukan pemeriksaan HIV/AIDS, saya saja Berani!”pungkasnya ketika diperiksa oleh Tim Konselor VCT HIV/AIDS.

Dinkes Rembang Gencarkan Pembentukan Posbindu Di Tiap Desa

Dalam rangka mendukung program gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) di Kabupaten Rembang, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie P2PTM dan Keswa melaksanakan Sosialisasi Pembentukan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) di desa-desa atau kelurahan di seluruh wilayah yang ada di Kabupaten Rembang.

Bertempat di Gedung Pertemuan Rumdin Wakil Bupati Rembang pada Kamis (07/12/2017). Para peserta sosialisasi terdiri dari Kepala Puskesmas se Kabupaten Rembang, petugas UKM Puskesmas, yang juga melibatkan lintas sektor seperti kecamatan dan para kepala desa.

Kegiatan Sosialisasi diawali laporan dari Ketua penyelenggara Mushlihah Idris, SKM, MKes (Kasie P2PTM & Keswa Dinkes Rembang) menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan Sosialisasi Pembentukan Posbindu PTM di Kabupaten Rembang yang harus digencarkan.

“sosialisasi ini bermaksud untuk memberikan petunjuk teknis maupun petunjuk pelaksanaan kepada pihak kecamatan dan pihak desa dalam pembentukan Posbindu PTM di desa atau dikelurahan, Sedangkan tujuan dari Posbindu PTM adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam melakukan pencegahan dan penemuan dini faktor risiko penyakit tidak menular”jelasnya

Sasaran Posbindu PTM mencakup semua masyarakat usia 15 tahun ke atas, baik itu dengan kondisi sehat maupun yang berisiko kasus PTM. Posbindu PTM merupakan salah satu upaya kesehatan yang berbasis masyarakat dan bersifat promotif preventif,

Kegiatan Posbindu PTM pada dasarnya adalah kegiatan milik masyarakat, yang dilaksanakan sepenuhnya dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Pelaksanaan Posbindu PTM bisa dilakukan oleh kader kesehatan yang telah ada dan sudah dibina serta difasilitasi untuk melakukan pemantauan faktor risiko PTM di masing-masing desa / kelurahannya.

Sebelum membuka kegiatan Sosialisasi Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr. Ali Syofii menyampaikan terkait masih minimnya jumlah Posbindu yang ada di Kabupaten Rembang. Sehingga perlu adanya kerjasama untuk membentuk Posbindu PTM di tiap desa atau kelurahan.

“saat ini jumlah posbindu di Kabupaten Rembang terbilang masih sangat minim, dengan jumlah 48 Posbindu PTM, kita bandingkan dengan jumlah desa atau kelurahan 294 desa dan kelurahan, tentunya masih sangat jauh proporsi Posbindu PTM yang ada di Kabupaten Rembang ini”terangnya.

Lalu lanjutnya “untuk membentuk Posbindu PTM di tiap desa membutuhkan kerjasama kepada semua pihak, kalau hanya dikerjakan dari pihak kami (Dinkes) sendiri tentunya tidak akan bisa tanpa adanya dukungan dari lintas sektoral”pungkasnya.

Untuk sektor kesehatan yakni Puskesmas lebih berperan dalam hal pembinaan Posbindu PTM dan menerima pelayanan rujukan dari Posbindu PTM di wilayah Puskesmas karena pada prinsipnya mencakup upaya promotif dan preventif.

Maka di dalam kegiatan Posbindu PTM tidak mencakup pelayanan pengobatan dan rehabilitasi. Posbindu PTM akan merujuk setiap kasus PTM yang ditemukan ke Puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya untuk mendapatkan pelayanan lebih lanjut.

Dengan adanya kegiatan ini Kadinkes Rembang mengharapkan adanya kerjasama lintas sektor dan dukungan baik dari segi penganggaran dan pengawalan untuk pembentukan Posbindu PTM minimal 1 Desa ada satu Pobindu PTM.

“ya harapannya minimal di tiap desa harus ada minimal 1 Posbindu PTM, maka dengan demikian masyarakat bisa melakukan deteksi dini dan pencegahan  faktor risiko penyakit tidak menular”pungkasnya

Dukung PIS-PK Puskesmas Lasem Launching Program PajeroSick

Dalam mensukseskan Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK) di Kabupaten Rembang, Puskesmas Lasem menggelar acara Deklarasi Pelayanan Kesehatan di Desa serta melaunching Program Unggulan Layanan Kesehatan Puskesmas di Gedung Pertemuan Desa Soditan.

“dr. Arif Rahman Hakim (KapuskesmasLasem) : Kami dari Puskesmas Lasem siap mensukseskan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga”

“lewat deklarasi ini kami ingin meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya diwilayah Puskesmas Lasem melalui tenaga kesehatan dengan melakukan pendataan status kesehatan anggota keluarga, sehingga kami mendapatkan data terupdate mengenai status kesehatan anggota keluarga yang ada ditiap desa”jelas dr. Arif Rahman Hakim (Kepala Puskesmas Lasem)

Pendataan ini dilakukan sebagai langkah awal untuk deteksi dini kondisi kesehatan yang terjadi pada anggota keluarga. Dengan demikian dapat terpantau secara berkesinambungan status kesehatan anggota keluarga yang ada ditiap desa.

Sedangkan program unggulan yang dilaunching oleh pihak Puskesmas Lasem bernama “PajeroSick” (Program Antar Jemput Orang Sakit). Program ini tentunya untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh akses pelayanan kesehatan khususnya dikecamatan Lasem.

“pihak kami sekaligus melaunching program unggulan yaitu PajeroSick (Program Antar Jemput Orang Sakit) untuk pasien rawat inap dan persalinan, program ini juga sebagai pendukung PIS-PK untuk jemput bola orang yang sedang sakit”terang dr. Arif.

“Para peserta terdiri dari Muspika Kecamatan Lasem, jajaran kesehatan di Puskesmas Lasem, Bkkbn, Upt Dindik Kecamatan Lasem, dan Kepala Desa se Kecamatan Lasem”

Tidak hanya itu saja, sekarang di Puskesmas Lasem juga sudah tersedia ruang pasien kelas 1 dengan berbagai fasilitas didalamnya yang sengaja dibuat untuk kenyamanan pasien yang sedang dirawat dan keluarga yang ingin menjenguknya.

Sementara itu Pihak Kecamatan Lasem merespon baik dan ikut mendukung pelaksanaan program PIS-PK guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Lasem. Pihak Kecamatan melalui Kepala Desa akan mengawal para tenaga kesehatan untuk melakukan pendataan keluarga di Kecamatan Lasem.

Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr. Ali Syofii sangat mengapresiasi dan berterimakasih kepada seluruh pihak baik dari Kecamatan maupun jajaran kesehatan yang ada di Puskesmas, karena sudah melakukan berbagai strategi untuk mensukseskan Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga.

Selain itu, ia juga mendukung adanya Program unggulan yang dilaunching oleh Puskesmas Lasem guna meningkatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat serta meningkatkan kualitas mutu layanan kesehatan yang ada di Puskesmas Lasem.

“Para petugas KS siap melakukan pendataan anggota keluarga ditiap desa di Kecamatan Lasem”

Disamping itu, dr. Ali Syofii juga memberikan arahan dan motivasi untuk terus berinovasi dan menyusun berbagai strategi guna meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat di Kabupaten Rembang.

(HumasDinkesRbg)

Rakorkes : Kadinkes Rembang Berharap Adanya Peningkatan Kualitas Kesehatan

Mengawali aktifitas kerja di Dinas Kesehatan Rembang pada hari Senin (04/12/2017), dilaksanakan Rapat Koordinasi Kesehatan (Rakorkes) bersama Sekretaris Dinas, Kepala Bidang, Kepala Subbagian, Kepala Seksie dan seluruh Kepala Puskesmas di Kabupaten Rembang.

Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr.Ali Syofii memimpin jalannya Rapat, disinggung dalam Rakorkes mengenai rencana kerja (Renja) tahun 2018 yang telah disusun supaya dilaksanakan dan dikerjakan sebaik-baiknya. Sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam pembangunan kesehatan di Kabupaten Rembang.

“melalui renja tahun 2018 yang sudah disusun dan direncakan, saya berharap supaya dilaksanakan dan dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga bisa mencapai keberhasilan dalam pembangunan bidang kesehatan di Kabupaten Rembang”harapnya.

Sementara itu, Puskesmas yang telah berstatus BLUD dalam mencukupi kebutuhan Sumber Daya Kesehatan, untuk perekrutan tenaga kesehatan baru menunggu payung hukum berupa Peraturan Bupati Rembang yang saat ini sedang dalam proses pengkajian.

 

Dari Bidang Yankes dilaporkan terkait Akreditasi FKTP yang telah dilaksanakan di 15 Puskesmas dan kedepannya akan dilakukan evaluasi Self Asessment (SA) Akreditasi Puskesmas untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan setelah proses akreditasi. Dan disampaikan pula kesepakatan dalam mensukseskan Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK).

Selain itu dari Bidang Kesmas menyampaikan kasus AKI dan AKB di Kabupaten Rembang yang masih harus ditekan dengan berbagai upaya yang dimulai dari hulu melalui upaya promotif preventif pada Wanita Usia Subur dan Calon Pengantin.

Tidak hanya terkait AKI dan AKB saja, setelah dilakukan proses verifikasi dan monev Desa Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) dari 101 Desa masih ada Desa yang masih belum lolos verifikasi Desa Stop BABS. Untuk itu diperlukan akselerasi dalam menuntaskan Desa yang masih BABS.

Sementara dari Bidang P2 melaporkan perkembangan penderita HIV/AIDS yang harus terus dipantau dan dilakukan screening pada serta pada penderita TB yang saat ini penemuan kasusny masih rendah dan harus lebih ditingkatkan kembali serta akan diselenggarakan lomba Desa Bebas Jentik dengan ketentuan ABJ di Desa tersebut tinggi.

Dalam kesempatan itu, pihak Rumah Sakit Umum dr.R.Soetrasno menjelaskan terkait pelaksanaan kegiatan Bakti Sosial Layanan Operasi Gratis yang akan dilangsungkan bersama dengan Tim Operasi Alumnus FK. UGM angkatan Tahun 1983.

Kegiatan baksos dilakukan dalam rangka hari ulang tahun Rumah Sakit ke 63. Pendaftaran dapat dilakukan di Puskesmas dan Rumah Sakit Pelaksanaan baksos dimulai tanggal 05 Desember 2017. Untuk waktu pelaksanaannya dimulai tanggal 20-25 Februari 2018.

(HumasDinkesRbg)

 

Sosialisasi Penanggulangan Tuberculosis (TB)

Ketidaktahuan masyarkat mengenai penyakit Tuberkulosis (TB) dan cara mengakses pengobatan seringkali menjadi salah satu penyebab tingginya prevalensi penderita TB.

Oleh karena itu diperlukan kerjasama melalui lembaga maupun organisasi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentangpenyakit TB serta ikut berpatisipasi dalam menemukan penderita penyakit TB sejak dini.

Merespon hal tersebut, Muslimat NU dan Fatayat NU Cabang Rembang  bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah melaksanakan Sosialisasi Penanggulangan Tuberkulosis (TB) pada masyarakat, Rabu (29/11/2017).

Kegiatan Sosialisasi ini bermaksud memberikan pemahaman mengenai penyakit Tuberkulosis kepada seluruh peserta yang terdiri dari pengurus anak cabang (PAC) untuk disosialisasikan kepada warga masyarakat melalui daiyahnya. (HumasDinkesRbg)