Dalam memberikan pelayanan gizi di Puskesmas tenaga kesehatan perlu memahami proses terjadinya masalah gizi. Sehingga dapat menentukan diagnosis dan intervensi gizi dengan cepat dan tepat kepada perseorangan maupun masyarakat. Disamping itu, adanya kerjasama antar profesi (teamwork) juga sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan proses asuhan gizi di Puskesmas.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Kesga & Gizi melakukan kegiatan Orientasi Pelayanan Asuhan Gizi dan Pelatihan E-PPGBM (Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) di tingkat Kabupaten Rembang.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (10-12/07) bertempat di Fave Hotel Rembang. Diikuti oleh 17 tenaga profesi masing-masing Puskesmas yang terdiri dari Bidan dan Petugas Gizi Puskesmas se Kabupaten Rembang. Sementara itu, hadir dalam kegiatan 2 orang Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan 2 orang Narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

“Groufie bersama Petugas Pelayanan Gizi dan Tenaga Kesehatan profesi lainnya yang ikut dalam Kegiatan Orientasi”

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr.Nurani Her Utami dalam sambutannya menyampaikan tujuan kegiatan orientasi asuhan gizi adalah sebagai optimalisasi pelayanan gizi di puskesmas serta meningkatkan kemampuan dan ketrampilan petugas gizi di masing-masing Puskesmas.

“dalam kegiatan orientasi ini kami berharap kepada seluruh tenaga kesehatan dari berbagai profesi yang hadir bisa meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya dalam memberikan pelayanan gizi di puskesmas secara optimal dan lebih baik lagi. Mengingat kasus stunting menjadi prioritas masalah gizi yang harus diselesaikan”jelas Kabid Kesmas.

Pada hari pertama, Sugeng Sutjipto salah satu Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah memaparkan materi berkaitan dengan kebijakan dan konsep dasar proses asuhan gizi di Puskesmas, Kemudian dilanjutkan Imam Subekti Narasumber dari Dinkes Rembang memaparkan materi terkait pemantauan pertumbuhan, status gizi dan penyakit tidak menular dalam proses asuhan gizi.

“dr. Retno Mahartani : Pelaksanaan tugas dan fungsi PKM dalam penyelenggaraan UKP dan UKM termasuk program gizi perlu di dukung manajemen yang terintegrasi dan kolaborasi antar profesi kesehatan lainnya di Puskesmas”

Sedangkan pada hari kedua, dr. Retno Mahartani Narasumber dari Provinsi memaparkan terkait manajemen program gizi, proses pengumpulan, pengolahan, dan analisis data untuk melakukan diagnosis dan rencana intervensi dalam proses asuhan gizi di Puskesmas. Dan pada hari ketiga, Lasmining sebagai Narasumber Dinkes Rembang memaparkan materi terkait tahapan entri data melalui aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

Semenatara itu, Sugeng Sutjipto saat ditemui oleh Tim Humas Dinkes Rembang di hari pertama mengungkapkan dengan adanya kegiatan orientasi ini, ia berharap kepada para petugas supaya lebih ditingkatkan dan dan lebih baik lagi dengan memahami konsep dasar Proses Asuhan Gizi (PAG) yang telah dibekali.

“Sugeng Sutjipto saat menyampaikan materi dalam kegiatan orientasi pelayanan gizi di Puskesmas”

“tentunya dengan adanya kegiatan ini pelayan gizi di Puskesmas harus lebih bagus lagi, harus berdasar pada data, artinya dengan data itu para petugas bisa melakukan pengkajian data, dapat menentukan diagnosis data gizi secara tepat, kemudian menyusun intervensi, sehingga saat merencanakan sebuah program benar-benar sesuai dengan data yang telah dihimpun oleh petugas”jelasnya.

Disamping itu ia juga menyampaikan bahwasanya stunting bisa dicegah, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengentaskan kasus stunting. Khususnya bagi Ibu hamil untuk memperhatikan gizi yang seimbang, jangan sampai dan harus di hindari seorang Ibu hamil menderita kurang gizi, semisal seperti anemia, dan kurang energi kronik (KEK).

“jangan eman terhadap masalah gizi, karena gizi merupakan investasi bagi Ibu hamil. Kalau sampai kurang gizi pada saat masa kehamilan dan sampai bayi usia dua tahun, kedepan tentunya akan terjadi gangguan pada pertumbuhan kecerdasannya, jadi stunting itu secara fisik pendek, tetapi dalam hal ini kalau terjadi saat 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bukan hanya sekedar pendek saja, namun pertumbuhan kecerdasaannya juga akan terganggu”terangnya.

Harapnya “jadi kami mohon kepada masyarakat dan khususnya kepada Ibu hamil untuk memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi. Saat kehamilan seorang Ibu tidak boleh kurang gizi, kemudian ketika sudah melahirkan bayi diberikan makanan yang terbagus dengan ASI eksklusif. Selanjutnya kita berikan makanan pendamping ASI (MPASI) setelah 6 bulan sesuai dengan tahapan-tahapan aturan gizi”pungkasnya.(HumasDinkesRbg)

There are no comments yet.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

%d blogger menyukai ini: