Dari hasil pemantauan jentik yang telah dilakukan oleh petugas P2 Puskesmas bersama kader kesehatan di 82 desa endemis dan desa suspek DBD yang berada pada wilayah kerja Puskesmas di kabupaten Rembang, terdapat 10 desa dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) terendah.

“Tidak hanya Tim Penilai, namun para Kader Kesehatan di Desa turut melakukan pemantauan”

Diantaranya, Menoro (Sedan), Sambiroto (Sedan), Wonokerto (Sale), Tahunan (Sale), Gading (Sale) Pandangan Kulon (Kragan 2), Babadan (Kaliori), Tasiksono (Lasem), Logede (Sumber), dan Ketangi (Pamotan). Rata-rata kondisi ABJ di 10 desa tersebut kurang dari 61 persen.

Sri Yuliastuti,SKM selaku pelaksana program DBD pada Seksie P2P Dinkes Rembang menjelaskan bahwa lomba desa bebas jentik kali ini dilaksanakan berbeda dengan tahun sebelumnya. Di tahun sebelumnya desa yang dilombakan adalah desa ABJ tertinggi, namun untuk tahun 2018 desa yang dilombakan adalah desa dengan ABJ terendah.

“kali ini memang lomba desa bebas jentik kita buat berbeda, tahun kemarin desa dengan ABJ tinggi, namun tahun ini desa dengan ABJ terendah yang dilombakan. Dengan adanya lomba ini kami berharap peran masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan cara mencegah dan mengendalikan populasi vektor nyamuk penular DBD”jelasnya.

“Tim Penilai dari Dinas Kesehatan saat memantau jentik bak mandi di rumah warga”

Angka kesakitan DBD pada tahun 2017 adalah 2,4/100.000 penduduk dan angka kematian 0 persen. Dengan adanya target angka kesakitan <30/100.000 penduduk dan angka kematan <1 persen. Meski angka kesakitan dan kematian turun drastis pada tahun 2017, namun pada tahun ini upaya pengendalian dan pencegahan harus tetap dilakukan secara rutin.

Kepala Seksie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Rembang dr. Johanes Budhiadi saat melakukan verifikasi di Desa Logede (05/07), mengungkapkan dalam melakukan pencegahan penularan penyakit DBD yang paling efektif dan efisien adalah dengan menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“PSN merupakan sebuah kegiatan memberantas jentik nyamuk pada tempat berkembang biaknya aides aegyptie. Kegiatan tersebut meliputi 3MPlus (Menguras bak air/ bak mandi, Menutup penampungan air, Mengubur barang bekas, Memberikan ikan pemakan jentik nyamuk pada penampungan air, dan Memakai obat anti nyamuk maupun Menggunakan kelambu”ungkap dr. Jhon.

Dengan adanya kegiatan penilaian lomba desa dengan ABJ terendah ini, diharapkan warga masyarakat bisa termotivasi untuk melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin. Sehingga Angka Bebas Jentik (ABJ) yang ada di desa endemis dan dengan kasus DBD pada wilayah kerja Puskesmas di Kabupaten Rembang meningkat diatas atau sama dengan 95 persen.(HumasDinkesRbg)

There are no comments yet.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

%d blogger menyukai ini: