Tekan AKI dan AKB dengan Sehat Sejoli

Pada beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Februari 2018, Puskesmas Bulu telah meluncurkan program baru yakni Kelas Catin (Calon Pengantin) Sehat Sejoli atau Semangat, Edukatif, Jujur, Lugas, dan Inovatif. Program ini ditujukan sebagai salah satu upaya untuk menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi utamanya di wiliyah kerja Puskesmas Bulu.Kelas Catin Sehat Sejoli memberikan layanan …

Ayah ASI Puskesmas Sarang 1 Siap Beraksi

Ada yang berbeda dalam  kegiatan rutin  kelas ibu hamil di desa  Sarangmeduro kecamatan Sarang pada Kamis lalu (13/09). Acara yang biasanya di penuhi peserta kaum ibu , tetapi dalam kegiatan tersebut justru dihadiri oleh kaum adam yang tergabung dalam Ayah ASI . Kehadiran mereka mereka tak lain untuk memotivasi tentang peran ayah  dalam mendukung keberhasilan  ibu dalam memberikan asi eklusif.“Ayo kita sama sama mendukung pemberian ASI sampai dua tahun…

Senam Pusaka Untuk Lansia Lebih Aktif dan Sehat

Sorak “Pusaka Sehat” menggema ramaikan senam lansia yang digelar dihalaman Puskesmas Kragan 1 pada Rabu pagi (05/09). Turut dalam senam tersebut Kepala Puskesmas Kragan 1 dr. Tusnendi yang berkali-kali bersorak menyemangati para peserta yang sudah lanjut usia supaya tetap sehat dan aktif.

Para peserta sangat antusias terlihat dari beberapa gerakan yang mungkin agak susah ditirukan. Namun para lansia tetap aktif menirukan gerakan instruktur senam. Sementara selama kurun waktu 4 tahun senam lansia di Puskesmas Kragan 1 menyabet gelar juara.

Diantaranya gelar juara III pada tahun 2016 dari Dinas Pendidikan dan Juara II tahun 2018 lomba lansia tingkat kabupaten Rembang. Senam lansia di Puskesmas Kragan 1 merupakan kegiatan rutin tiap Rabu dan Sabtu pagi yang diikuti lebih dari 50 peserta.

Untuk mengikuti kegiatan senam di Puskesmas Kragan 1 tidak ada pungutan biaya, karena merupakan program kegiatan yang dibiayai dari dana BOK (Biaya Operasional Kegiatan). Namun bagi para peserta diharapkan membawa kartu BPJS yang nantinya digunakan untuk pendataan kontak sehat kepesertaan BPJS di Puskesmas Kragan 1.

Disamping adanya senam lansia, dari tenaga kesehatan Puskesmas Kragan 1 secara gratis melakukan pemeriksaan tekanan darah bagi para peserta sebelum senam berlangsung. Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan mampu mengurangi resiko tekanan darah tinggi atau rendah dan berbagai penyakit yang membahayakan tubuh.

Kepala Puskesmas dr. Tusnendi menghimbau supaya kegiatan rutin senam lansia dipertahankan dan terus ditingkatkan dengan berbagai kombinasi sebagai salah satu upaya memberikan ruang gerak lansia agar menjadi lebih aktif dan sehat.

“kami berharap kepada para peserta bisa mengajak keluarga dan teman-teman lansia lainnya yang ada disekitar rumah untuk mengikuti senam pusaka. Karena senam merupakan salah satu kegiatan yang mendukung gerakan masyarakat hidup sehat (germas) yakni melakukan aktifitas fisik (olahraga) secara teratur dan terukur”ungkapnya.

Sementara Endang, selaku instruktur senam mengutarakan sangat semangat dan bergembira atas dukungan dan kepercayaan yang telah diberikan oleh Puskesmas Kragan 1 kepadanya untuk memimpin  jalannya senam lansia.(Puskesmas Kragan 1 for HumasDinkesRbg)

Olahan IRTP Harus Aman dan Memiliki Legalitas

Setiap manusia memiliki hak asasi dalam pemenuhan pangan yang aman dan bermutu, tentunya bahan atau olahan yang dihasilkan oleh Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) harus sehat dan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat secara masif sesuai dengan UU Nomor 18 Tahun 2012.

“para peserta PKP pada gelombang pertama sedang memperhatikan sambutan dari narasumber”

Mengingat hal tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melangsungkan penyuluhan keamanan pangan (PKP) kepada para pelaku usaha industri rumah tangga pangan sebanyak 40 peserta yang belum pernah mengikuti kegiatan penyuluhan.

Kegiatan penyuluhan berlangsung selama 2 hari (04-05/09) di Aula Utama Dinas Kesehatan Rembang. Dengan tenaga penyuluh keamanan pangan yang telah memiliki pengetahuan tentang keamanan pangan dan bersertifikat.

Penyuluhan keamanan pangan diselenggarakan dengan maksud memberikan edukasi dengan upaya meningkatkan pengetahuan kepada para pelaku usaha IRT yang harus wajib mengetahui dan mematuhi peraturan perundang-undangan dibidang pangan termasuk hygiene sanitasi pengelolaan pangan yang secara berkesinambungan harus dilaksanakan.

Disamping itu para pelaku usaha IRT juga mendapatkan sertifikasi produk pangan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan ijin PIRT . Dalam pengajuan untuk para pelaku usaha IRT tidak dipungut biaya apapun (gratis). Sehingga para pelaku usaha bisa datang langsung ke Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

“Narasumber saat memberikan materi kepada para peserta penyuluhan berkaitan dengan perundang-undangan dibidang pangan”

“dengan adanya nomor PIRT pada sebuah produk tentunya bisa mempengaruhi nilai jual atau daya saing dan legalitasnya juga tidak diragukan, kualitas produk atau olahan pangannya pun juga terjamin. Sehingga aman dan sehat untuk dikonsumsi bagi masyarakat”terang Soesi Haryanti Kasie Farmalkes saat memberikan sambutan.

Sementara ia juga menghimbau kepada para pelaku usaha IRT yang akan memulai usahanya diharuskan mengikuti penyuluhan keamanan pangan. Sehingga mampu menghasilkan olahan pangan yang aman dan bermutu, bisa menerapkan cara produksi pangan yang baik tentunya dengan memahami terkait kebersihan (hygiene dan sanitasi) selama proses produksi, dan menumbuhkan kesadaran dapat bertanggung jawab terhadap keselamatan konsumen.(HumasDinkesRbg)

Dinkes Sosialisasikan Penghitungan IKS

Sebagai tindaklanjut dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan oleh Tim KS (Keluarga Sehat) saat kunjungan rumah di masing-masing-masing wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Rembang.

Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Yankes (Pelayanan Kesehatan) menggelar Sosialisasi Penghitungan Indeks Keluarga Sehat (IKS) di Fave Hotel Rembang pada Selasa pagi (04/09).

Kegiatan Sosialisasi Penghitungan IKS diikuti 65 peserta yang terdiri dari pemegang program beserta tim PIS-PK di 17 Puskesmas. Dalam pelaksanaan kegiatan Seksie Yankes sebagai leading sektor mengundang Satu Narasumber dari Internal Dinas Kesehatan Rembang untuk memaparkan teori dan praktek cara menghitung IKS.

Sekretaris Dinas Kesehatan Drs. Supriyo Utomo yang didampingi oleh Kasie Yankes dr. Teguh Panca memberikan arahan kepada para peserta untuk meremajakan (updated) data keluarga yang telah dihimpun atau disimpan dalam pangkalan data (database) secara berkesinambungan.

“sesuai dengan juknis penguatan manajemen puskesmas dengan pendekatan keluarga dari Kemenkes RI, data-data yang telah dihimpun oleh para petugas di puskesmas untuk selanjutnya diremajakan (updated) sesuai dengan perubahan yang terjadi di tiap keluarga yang dijumpai saat melakukan kunjungan rumah”jelas Supriyo sesaat sebelum membuka kegiatan sosialisasi.

Perubahan yang dimaksudkan dalam hal tersebut yakni adanya kelahiran bayi, telah berubahnya tumbuh kembang bayi menjadi balita, telah diberikannya imunisasi dasar lengkap pada bayi, dan lain sebagaianya.

Dilanjutkan oleh Rohimah selaku narasumber dan dibantu tim teknis dari internal Dinas Kesehatan yang telah dilatih menjelaskan terkait mekanisme pengolahan dan analisis data sehingga keluar hasil Indeks Keluarga Sehat (IKS) sesuai dengan kaidah-kaidah pengolahan data yang telah ditentukan.

“dalam kaidah pengolahan data ada beberapa yang harus dihitung, mulai dari rerata, moda, cakupan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Data keluarga disini dihitung untuk mengetahui nilai IKS di masing-masing keluarga, IKS tingkat RT/RW/Kelurahan/Desa dan cakupan tiap indikator keluarga sehat dalam lingkup RT RT/ RW/ Kelurahan atau Desa, serta IKS tingkat kecamatan dan cakupan tiap indikator dalam lingkup kecamatan”jelas Rohimah saat memberikan materi.

Dari hasil perhitungan IKS tersebut, adapun kategori kesehatan keluarga yang mengacu pada nilai indeks yang telah ditentukan. Diantaranya nilai indeks lebih dari 0,800 dikategorikan “keluarga sehat”, nilai indeks 0,500-0,800 dikategorikan “pra sehat”, dan nilai indeks kurang dari 0,500 dikategorikan “tidak sehat”.

“dari nilai indeks sebagai acuan untuk menentukan kategori kesehatan keluarga, bilamana indeks kurang dari 0,800 akan dilakukan intervensi atas permasalahan kesehatan ditingkat keluarga. Sehingga keluarga bisa mencapai nilai indeks dengan kategori sehat”jelas dr. Teguh Panca seusai menyampaikan materi kepada para peserta.

Disamping diberikan materi, para peserta juga diajarkan untuk mempraktekkan penghitungan nilai IKS dengan menggunakan sistem aplikasi yang telah dibuat dengan rumus yang sudah ditentukan dalam juknis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.(HumasDinkesRbg)