Enam Desa Nominasi Terbaik Ditinjau

Dinas Kesehatan Rembang melalui Seksie Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan kembali melakukan penilaian Lomba Desa PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) tingkat Kabupaten dibeberapa wilayah Puskesmas yang ada Kabupaten Rembang.

Sebelumnya, terlebih dulu dilakukan proses seleksi secara administratif oleh Dinkes berdasarkan data desa yang ditunjuk oleh pihak Puskesmas dan diajukan untuk mengikuti lomba di tingkat Kabupaten.

Hasil dari proses seleksi didapatkan 6 desa dengan nominasi terbaik, diantaranya Jambangan Kec.Sarang, Kadiwono Kec.Bulu, Kumbo Kec.Sedan, Pohlandak Kec.Pancur, Joho Kec.Sale, dan Bogoharjo Kec.Kaliori.

Selesai proses seleksi , Tim penilai dari Kabupaten menindaklanjuti dengan melakukan penilaian dan meninjau langsung rumah warga yang telah dibina oleh para kader dan seluruh pengurus binaan rumah berPHBS yang dibimbing oleh Puskesmas diwilayahnya.

Telah disiarkan langsung lewat salah satu akun media sosial Dinkes Rembang berjalannya kegiatan penilaian sekaligus peninjauan rumah warga di Desa Kadiwono Kecamatan Bulu, pada Selasa pagi (17/10/2017).

Kegiatan ini dilakukan untuk melihat sejauh mana penerapan 16 indikator perilaku hidup bersih dan sehat warga serta kontribusi Pemerintah Desa dalam memotivasi warganya untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta mendukung dari sisi penganggaran dan kebijakan mengenai program PHBS.

Adapun 16 indikator program PHBS yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, kunjungan ibu hamil (K4 Bumil), pemberian ASI Eksklusif, menimbang balita, mengkonsumsi gizi seimbang, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, membuang sampah pada tempatnya, lantai rumah kedap air, melakukan aktifitas fisik / olahraga, tidak merokok, cuci tangan pakai sabun, menggosok gigi secara teratur, tidak menyalahgunakan miras/alkohol, kepesertaan jaminan kesehatan nasional (JKN), dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Dari hasil penilaian di Desa Kadiwono, ada beberapa permasalahan mengenai perilaku yang masih terjadi pada indikator ASI Eksklusif, masih banyaknya sampah yang dijumpai, lantai yang belum kedap air, kurangnya aktifitas fisik dan kesadaran untuk melakukan CTPS masih perlu ditingkatkan, serta yang paling utama adalah banyaknya warga yang masih merokok.

“memang merubah perilaku tidak mudah, namun perilaku hidup bersih dan sehat ini harus dikepung bersama untuk mewujudkan masyarakat yang sadar akan kesehatan bagi dirinya sendiri dan dapat menerapkan perilaku sehat didalam tatanan rumah tangga maupun dilingkungannya”jelas Sarwoko Kasie Promkes dan Pemberdayaan Kesehatan Dinkes Rembang saat melakukan evaluasi hasil peninjauan.

Namun diantara ke enam desa terpilih yang berada di enam kecamatan tersebut beberapa sudah ada yang menerapkan PHBS dengan cukup baik. “setelah kami lakukan peninjauan pada ke enam desa tersebut sudah ada rumah tangga yang menerapkan PHBS dengan cukup baik”imbuhnya.

Untuk itu diharapkan kerjasama dari berbagai pihak terutama peran pemerintah desa dan para kader agar melakukan tugas sebaik – baiknya dengan melakukan survei dan pembinaan dalam penerapan PHBS di sejumlah keluarga. (HumasDinkesRbg)

Ingatkan Siswa Tuk Jadi Konsumen Cerdas dan Bebas dari Narkoba

Pemuda sebagai generasi penerus bangsa harus mengetahui bahaya penyalahgunaan narkoba yang berdampak pada kesehatan tubuhnya. Salah satu upaya preventif atau pencegahan penyalahgunaan narkoba dilakukan melalui penyuluhan kepada mereka khususnya bagi para siswa disekolah.

Oleh karena itu beberapa waktu lalu tepatnya pada Rabu pagi (11/10/2017), Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Farmalkes melakukan kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan NAPZA (Narkoba, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) di SMK Muhammadiyah Rembang. Kegiatan ini bekerjasama dengan organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Rembang.

Dijelaskan oleh Soesi H,S.Si.Apt penyuluhan dilakukan guna meningkatkan pengetahuan tentang dampak penyalahgunaan narkoba bagi kesehatan.

“dengan diadakannya kegiatan penyuluhan ini, Para siswa dapat mengetahui dampak penyalahgunaan narkoba bagi kesehatan tubuh mereka sehingga dapat terbebas dari penyalahgunaan narkoba”jelas Soesi pada awal sambutan.

Sedangkan Andrean.S.Apt (IAI PC Rembang) juga menyampaikan materi mengenai DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang obat dengan benar).

“dapatkan obat dengan benar pada sarana kefarmasian yaitu Apotek, konsultasikan dengan apoteker supaya dalam mengkonsumsi obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan, dan jangan lupa untuk melihat expired date (tanggal kadaluwarsa) pada kemasan obatnya”terang Andrean.

Para siswa juga diajarkan untuk menjadi konsumen yang cerdas dalam memilih obat, pangan/jajanan sehat dan bebas dari cemaran fisik, kimia, maupun biologis, serta memilih kosmetika yang aman untuk digunakan.

Untuk memastikan para siswa bebas dari narkoba, Guru sekolah diminta untuk memilih secara acak siswa yang akan dilakukan pemeriksaan sampel urine oleh Tim Pemeriksa. Namun dari hasil pemeriksaan seratus persen siswa dinyatakan negatif.

Sementara itu, untuk melakukan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN) butuh dukungan dan kerjasama semua pihak untuk mewujudkan Kabupaten Rembang bebas narkoba.

Soesi juga menuturkan supaya para siswa tidak coba-coba memakai narkoba. Diwajibkan siswa bebas dari penyalahgunaan Narkoba.

“tidak hanya disekolah SMK Muhammadiyah saja, melainkan seluruh sekolah lainnya yang ada di Kabupaten Rembang para siswa kami harap supaya tidak coba-coba memakai narkoba, kalian semuanya merupakan generasi penerus bangsa ayo berkarya, jadilah generasi yang sehat, kreatif, dan membanggakan bagi Orang Tua maupun bangsa kita”tuturnya.

(HumasDinkesRbg)

Penerimaan Tim Surveyor Akreditasi FKTP

Minggu pagi setelah mengikuti acara peringatan HCTPSS, pada Minggu malam (15/10/2017) dilanjutkan dengan penerimaan Tim Surveyor Akreditasi FKTP di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

Rombongan Tim Surveyor datang tepat pukul 20.30 WIB, disambut oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii, Tim Pendamping Akreditasi Dinkes Rembang, dan perwakilan karyawan Puskesmas Gunem dan Kaliori yang akan dilakukan penilaian. Penerimaan dilaksanakan secara sederhana.

Kadinkes Rembang dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para surveyor dan para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.

“kami ucapkan selamat datang Bapak Eko Bayu Nugroho,SKM selaku Ketua Surveyor Akreditasi FKTP beserta dua Surveyor yaitu Bapak Noerolandra Dwi S, SKM, Mkes, dan dr.Isman Ramadi, M.MED (OM) SpOK, serta perwakilan karyawan puskesmas Gunem di Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang untuk melaksanakan tugas penilaian di dua puskesmas”Ucapnya.

“saya berharap bahwa dengan adanya akreditasi ini puskesmas tidak semata-mata hanya untuk mendapatkan status kelulusan akreditasi saja, akan tetapi agar dijalankan dan dipertahankan sebagai pelayan kesehatan yang bermutu kepada masyarakat”harapnya.

Acara dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Ketua Tim Surveyor mengenai jadwal penilaian, kode etik surveyor, tata tertib atau peraturan saat penilaian, dan dilanjutkan dengan proses tanya jawab.

Kemudian setelah proses tanya jawab selesai, secara simbolis Ketua Surveyor menyerahkan dokumen yang berisi surat pernyataan Kepala Puskesmas tidak boleh meninggalkan Puskesmas selama proses penilaian.

Sebaliknya Puskesmas juga menyerahkan dokumen berupa profil puskesmas dan self assessment sebagai bahan evaluasi untuk Surveyor Akreditasi FKTP.

(HumasDinkesRbg)

HCTPS ke 10 : Our Hands, Our Feature

Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS) ke 10 di Kabupaten Rembang, kali ini diselenggarakan di Puskesmas Rembang I Jl.Raden Saleh No 3 Kecamatan Rembang, Minggu (15/10/2017).

Acara tersebut melibatkan 200 siswa-siswi Sekolah Dasar di wilayah Kecamatan Rembang, dan diikuti oleh seluruh karyawan Puskesmas Rembang I, 34 Kepala Desa Kelurahan se Kecamatan Rembang, serta lintas sektoral Kecamatan Rembang.

Turut hadir pula, Bupati Rembang H.Abdul Hafidz, Asisten 2 Sekda Rembang Abdullah Zawawi, dan Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii beserta para jajarannya.

Tahun ini, Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia ke 10 mengusung tema “Our Hands, Our Feature (Tangan Kita Masa Depan Kita)”.

Bupati Rembang dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat untuk memiliki gaya hidup  sehat, dengan menerapkan perilaku hidup bersih salah satunya dengan melakukan cuci tangan pakai sabun.

“kesehatan merupakan sebuah kebutuhan yang sangat fundamental bagi kita semua, untuk itu mari kita membiasakan diri untuk lebih sehat dengan cuci tangan pakai sabun, karena sehat dimulai dari diri kita sendiri”jelasnya.

“saya berharap dengan peringatan HCTPS ke 10 ini, anak-anak juga menjadi lebih peduli dengan kesehatan dirinya, selain Pemerintah peran masyarakat terutama orang tua juga sangat penting dalam mengingatkan dan menjaga kesehatan buah hatinya”imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut Kadinkes Rembang dr. Ali Syofii menyampaikan penyakit yang ditimbulkan dari tangan yang penuh dengan kuman dan atau kotoran.

“perlu semuanya tahu bahwa ada beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh tangan ketika kita makan namun belum mencuci tangan kita pakai sabun, diantaranya influenza, salmonellosis, tifus, dan hepaititis A”jelasnya

Adapun cara cuci tangan yang harus dilakukan untuk meminimalisir kuman atau kotoran yang dapat menyebabkan penyakit tersebut. Diantaranya, membasuh kedua tangan dengan air, tuang sabun ke telapak tangan, gosok telapak tangan hingga berbusa, bilas tangan sampai bersih dari sisa sabun dan kotoran, kemudian keringkan pakai tisu atau handuk yang bersih.

(HumasDinkesRbg)

Keterbatasan Tak Jadi Halangan Untuk Lebih Eksis

Petugas Promosi Kesehatan (Promkes) terutama yang ada di Puskesmas memang memiliki peranan yang sangat penting dalam mengedukasi masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat melalui berbagai media promosi kesehatan, disisi lain petugas promkes Puskesmas  mempunyai tantangan cukup besar dalam menginventarisasi atau menggali masalah yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat secara tepat.

Oleh karena itu sangat penting untuk dilakukan rapat koordinasi sekaligus evaluasi program promkes. Karena setiap permasalahan kesehatan dalam hal penyebarluasan informasi maupun mengedukasi masyarakat, pasti Promosi Kesehatan yang menjadi ujung tombaknya.

Bertempat di Labkesda Rembang, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan melaksanakan rapat koordinasi sekaligus evaluasi program promosi kesehatan dengan 34 petugas promkes dan koordinator UKM Puskesmas se Kabupaten Rembang.

Sebelum acara dibuka dilakukan pemutaran film pendek hasil karya petugas promkes Dinkes dan Puskesmas pada waktu pelatihan pembuatan film di Pati beberapa waktu lalu. Usai dilakukan pemutaran film, Rakor dibuka langsung oleh Kasie Promkes dan Pemberdayaan Kesehatan Sarwoko Mugiono, SKM, dan dihadiri oleh pelaksana program promkes dari internal Dinkes.

Dalam sambutannya Sarwoko mengungkapkan masih banyak hambatan dan kekurangan yang harus dikerjakan supaya promosi kesehatan di Puskesmas menjadi lebih eksis lagi, dan menginventarisasi permasalahan di masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan.

“baik dari petugas promkes maupun media promosi yang ada di masing-masing Puskesmas harus bisa menjadi lebih eksis lagi, paling tidak harus menggali akar permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan di lingkungan masyarakat”ungkapnya.

Lebih lanjut “setelah ditemukan akar permasalahannya, kita cari solusinya dan yang paling memunginkan untuk dikerjakan terlebih dulu, mengingat segala kekurangan dan keterbatasan yang ada baik dari segi penganggaran maupun SDM nya, kita tidak mau kalau banyak permasalahan dan banyak program namun tidak ada penyelesaian, kan malah tambah tidak bisa fokus Mas.”jelas Sarwoko ketika ditemui oleh Tim Humas Dinkes Rembang pada Senin pagi (09/10/2017).

Selain itu, Petugas Promkes juga diminta untuk bekerjasama dengan seluruh lembaga yang ada dan lintas sektor lainnya, mengingat masalah kesehatan tidak bisa diselesaikan atau bertumpu pada sektor kesehatan saja. Sehingga kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat dapat terpacu oleh banyak pihak.

Sarwoko juga meminta kepada petugas promkes untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya melalui internet untu dimanfaatkan dalam pembuatan media cetak serta memanfaatkan media sosial guna mengoptimalkan penyebarluasan informasi masalah kesehatan kepada masyarakat secara masif.

Petugas Promkes di Puskesmas harus mempunyai data yang lengkap dan valid. Jadi dari Dinas dapat menganalisa data yang bisa dijadikan acuan dan bahan evaluasi untuk perbaikan program Promkes kedepan. Selain itu laporan tiap bulan juga dapat dimanfaatkan supaya dapat memantau kinerja para petugas promkes yang ada di Puskesmas.

Disamping itu,  lomba PHBS yang diagendakan setiap tahun, pada tahun 2017 akan dilaksanakan penilaian PHBS pada bulan oktober minggu ke 3. Akan tetapi penilaian akan dilakukan pada 5 nominasi yang telah terpilih pada tahun 2016 lalu sampai dengan sekarang. Tapi untuk tahun depan,  akan dilaksanakan setiap puskesmas ada unsur pembinaan, keadilan, serta pemerataan.

Dalam waktu dekat ini menjelang HKN ke 53 tahun 2017, akan diselenggarakan lomba pembuatan film pendek kesehatan dengan tema Germas serta adanya lomba penyuluhan kesehatan oleh para kader.

Harapannya seluruh petugas puskesmas dapat menjadi pelopor gerakan masyarakat hidup sehat dalam rangka mendukung pencapaian program PIS – PK. Dan adanya kolaborasi antara pendataan PHBS RT serta pendataan KS.

(HumasDinkesRbg)

IAD Rembang Gandeng Dinkes Lakukan Deteksi Dini

Kejaksaan Negeri (Kejari) Rembang bersama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang menggelar kegiatan pemeriksaan kanker serviks dan kanker payudara (breastcancer) yang digelar di Puskesmas Rembang 1, pada Kamis pagi (05/10/2017).

Masyarakat diajak agar sadar untuk melakukan deteksi dini pada dua penyakit tersebut. Sebab, kanker termasuk tiga besar penyakit tak menular yang patut diantisipasi.

Sekira 25 orang melakukan deteksi dini kanker serviks (leher rahim) dan kanker payudara secara gratis. Deteksi dini dilakukan dengan menggunakan metode IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan Sadanis (pemeriksaan payudara klinis) yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.

Nurrohman, Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Daerah Rembang mengungkapkan program deteksi dini merupakan instruksi dari IAD pusat.

”Ini program dari pusat dan kami yang di daerah menindaklanjutinya. Kami menggandeng Dinas Kesehatan untuk pemeriksaan secara gratis,” jelasnya.

Tujuannya agar masyarakat punya kemauan dan sadar akan pentingnya melakukan deteksi dini penyakit kanker serviks dan kanker payudara. Sehingga, jika ada indikasi terkena kanker serviks atau kanker payudara bisa segera dilakukan tindakan yang lebih intensif.

Kepala Dinkes Kabupaten Rembang dr.Ali Syofii mengungkapkan terjadi tren pergeseran penyakit. Dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular (PTM). Ada tiga penyakit tidak menular yang patut diwaspadai. Yakni, jantung, darah tinggi, kanker, stroke, diabetes, dan PTM lainnya

Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif mulai dari hulu. Sehingga dapat dilakukan deteksi dini penyakit tidak menular. Salah satunya kanker serviks dan kanker payudara. ”Kanker ini menjadi kasus tertinggi yang dialami oleh perempuan di Indonesia. Sehingga, sangat penting sekali untuk dilakukandeteksi secara dini khususnya bagi perempuan” jelasnya.

(HumasDinkesRbg)

Pacu PSN Warga Melalui Lomba Desa Bebas Jentik

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Terjadinya kasus DBD dipengaruhi oleh kepadatan jentik, jika dari hasil pemantauan menunjukkan kepadatan jentiknya rendah maka diasumsikan kasus DBD akan menurun, begitu juga sebaliknya.

Sebagai salah satu upaya pencegahan dalam mengurangi risiko kasus DBD sebagai akibat dari perubahan cuaca, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang kembali menggelar Kegiatan Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam rangka Lomba Desa Bebas Jentik Tahun 2017.

Lomba Desa Bebas Jentik ini bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan atau kematian penyakit DBD melalui pemberdayaan dan peran serta masyarakat dengan cara melakukan mengendalikan populasi vektor DBD dengan cara Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Kegiatan PSN dilakukan dengan cara 3MPlus yaitu dengan Menguras bak air/bak mandi, Menutup Menampungan air, Mengubur barang bekas, Memberikan ikan guna memakan jentik yang ada dipenampungan air, dan Memakai obat anti nyamuk atau kelambu pada tempa tidur.

Menurut Kabid P2 Aris Suryono,SKM yang ikut dalam Tim Penilaian Lomba Desa Bebas Jentik, mengungkapkan bahwa rata-rata masyarakat sudah melakukan PSN dengan cara 3MPlus, namun masih belum sempurna.

“para warga rata-rata sudah melakukan PSN, namun masih ada yang kurang, seperti bak mandi yang sudah dikuras namun tidak di tutup, lalu bubuk abate yang sudah ditaruh pada wadah plastik belum diberi lubang sehingga bubuknya tidak bisa larut diair pada bak mandi, akan tetapi masyarakat sudah tahu pentingnya PSN bagi dirinya dan warga masyarakat lainnya”ungkapnya sesaat setelah melakukan penilaian dirumah penduduk Desa Sendangmulyo Kec.Gunem, pada Selasa pagi (03/10/2017).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Seksie P2PM sampai bulan September 2017, tercatat ada 8 kasus DBD di Kabupaten Rembang. Kasus tersebut menunjukkan penurunan angka daripada tahun 2016 lalu.

“kami berharap semoga saja sampai akhir tahun ini kasus DBD tidak ada penambahan baru lagi dan masyarakat Rembang secara masif dapat melakukan PSN dengan cara 3MPlus, karena lebih efektif dan efisien untuk mencegah penularan penyakit DBD daripada pengasapan (fogging)”harap Aris.

Sedangkan Kasie P2PM dr. Johanes Budhiadi yang juga sedang melaksanakan penilaian, mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh stakeholder yang ikut mendukung adanya lomba Desa Bebas Jentik tahun ini.

“dari pihak kami mengucapkan apresiasi kepada para petugas P2 yang ada di Puskesmas yang sudah menjalankan tugasnya dengan baik dan sesuai arahan yang diberikan, selain itu Kepala Desar beserta perangkatnya yang telah memberikan dukungan dengan mengalokasikan dana untuk pelaksanaan kegiatan PSN yang dilakukan oleh para kader serta warganya”tutur dr.Jhon.

(HumasDinkesRbg)

Menu B2SA Harus Dikenalkan Sejak Dini

Pengetahuan akan pentingnya konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA) tersebut perlu adanya sosialisasi sejak dini. Karena akan lebih efektif supaya ketika dewasa pola konsumsi pangannya menjadi lebih beragam, bergizi, seimbang , dan aman. Salah satu sasaran yang potensial adalah para siswa sekolah dasar.

Berdasarkan hal tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melalui Seksie Kesehatan Keluarga dan Gizi melaksanakan kegiatan Sosialisasi Konsumsi pangan Beragam Bergizi Seimbang dan Aman di delapan sekolah dasar (SD) di Kabupaten Rembang.

Dilakukannya sosialisasi B2SA mempunyai tujuan untuk memberikan edukasi kepada para siswa-siswi supaya mereka tahu pola konsumsi B2SA dan mengajak mereka untuk mengkonsumsi pangan yang beragam bergizi seimbang dan aman sejak dini dalam jumlah dan komposisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam mendukung hidup sehat, aktif dan produktif.

Pelaksanaan sosialisasi B2SA yang berlangsung pada selasa pagi (03/10/2017) di SD Sendangmulyo Kecamatan Bulu ini berlangsung lancar dan khidmat. Diikuti oleh para siswa-siswi yang didampingi oleh guru kelas dan beberapa pemilik kantin di sekolah tersebut.

Adapun tiga narasumber yang menyampaikan materi yaitu dr.Nurani Her Utami (Kabid Kesmas), Bintarti (Kasie Kesga dan Gizi), dan Imam Subekti (Pelaksana Program Gizi). Materi yang disampaikan tentang perilaku PHBS di Sekolah, Kebersihan diri, penyakit yang biasa terjadi pada anak seperti diare, DBD, dan kecacingan, serta kualitas pangan yang beragam dan memenuhi gizi yang seimbang.

Kemudian dilanjutkan oleh dr.Nurani Her Utami dengan memberikan materi masalah memelihara kebersihan diri yang meliputi seluruh anggota tubuh, termasuk gigi, rambut, serta pakaian yang digunakan.

Sedangkan Bintarti menjelaskan materi mengenai beberapa penyakit yang disebabkan oleh pangan atau makanan yang tidak sehat, diantaranya diare dan kecacingan.

Lebih lanjut Imam Subekti menjelaskan pemilihan makanan yang beragam dan bergizi seimbang harus mencakup sumber karbohidrat (nasi, jagung, gandum, singkong, ketela, dan kentang), protein (daging, telur, ikan, tahu, tempe, dan susu) , vitamin, buah dan sayur serta aman untuk dikonsumsi atau disajikan dalam keluarga maupun di lingkungan sekolah.

Pada sesi akhir Kepala Sekolah SD Sendangmulyo Sukardji mengatakan kegiatan sosialisasi B2SA ini sangat bermanfaat bagi warga yang ada dilingkungan sekolah, karena dapat menambah pengetahuan dalam memilih pangan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi dan disajikan oleh pemilik kantin sekolah.

Penyampaian materi dilakukan dengan menggunakan metode asyik dan menyenangkan, sehingga para Guru dan siswa-siswi maupun warga dilingkungan sekolah yang hadir tidak jenuh saat menyimak materi yang disampaikan. Kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama yang telah dibuat oleh tim dengan menu makanan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).