“dr. Ali Syofii ketika memberikan sambutan pada acara studi banding desa STBM di Balai Desa Sukoarjo Rembang”

“Untuk mewujudkan desa ODF (Open Defacation Free) di Rembang ini memang tidak mudah, terutama di desa-desa yang berada di wilayah pesisir pantai, tentu sangat membutuhkan perhatian, kesabaran, kerja keras dan kegigihan tim dalam memberikan edukasi maupun melakukan pemicuan kepada masyarkat supaya merubah perilaku dan pola pikir masyarakat agar tidak mengulangi kebiasaan buang air besar sembarangan”

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang dr. Ali Syofii saat memberikan sambutan dalam acara Studi Banding Desa STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) oleh Puskesmas Kedung II Kabupaten Jepara di Desa Sukoarjo. Penyambutan Rombongan dari Puskesmas Kedung II Jepara berlangsung di Balai Desa Sukoarjo Kecamatan Rembang pada hari Kamis (12/04).

“Tim STBM Kabupaten Rembang”

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Khumaidah, SKM, MKes, menjelaskan maksud kedatangannya bersama Rombongan dari Puskesmas Keduang II Jepara ke Kabupaten Rembang adalah melakukan kaji banding desa STBM yang tertuju pada pilar pertama yakni mengenai Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS).

“kedatangan kami bersama rombongan ke Rembang ini bermaksud untuk melakukan kaji banding perihal desa STBM terutama mengenai perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang masih ada diwilayah kami dan mengetahui strategi untuk mewujudkan desa-desa di Kabupaten Jepara berstatus Desa ODF”jelas Khumaidah.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Desa Sukoarjo Lilik Harijanto turut menceritakan langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemdes Sukoarjo sejak tahun 2012. Ia menceritakan bahwa dalam berbagai acara yang ada di desa selalu disampaikan tentang pentingnya hidup bersih sehat, terutama yang menyangkut kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Setelah memberikan penyuluhan langkah selanjutnya melakukan pembersihan jamban liar yang pembuangannya langsung di laut, dan memberikan bantuan pembuatan jamban (WC) kepada warga yang tidak mampu.

“Pada intinya semua upaya itu di barengi dengan kesadaran dan keniatan semua warga untuk mebuat desanya  menjadi desa ODF, pasalnya baik dari Pemerintah juga sudah berupaya dengan adanya regulasi maupun kebijakan, sehingga masyarakat juga harus mendukung dan nyengkuyung bareng untuk merubah perilakunya agar tidak membuang hajatnya secara sembarangan lagi”pungkasnya.(HumasDinkesRbg)

There are no comments yet.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

%d blogger menyukai ini: